-
Utilitas Market Order di BEI melonjak 98,5% (yoy) di 2025, mencapai rata-rata transaksi lebih dari Rp1 triliun/hari.
-
Market Order dieksekusi tanpa harga, memiliki prioritas tinggi, dan lebih cepat daripada Limit Order.
-
Fitur Market Order efektif untuk trading saham baru (listing) dan memanfaatkan momentum volatilitas harga.
Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin memanjakan investor dengan inovasi yang menawarkan kecepatan dan efisiensi transaksi.
Salah satu fitur yang kini menjadi primadona adalah Market Order, sebuah mekanisme yang memungkinkan investor bertransaksi tanpa perlu repot menentukan harga, sehingga eksekusi pesanan menjadi jauh lebih optimal.
Pemanfaatan fitur ini melonjak drastis. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 hingga Agustus, rata-rata utilitas Market Order telah mencapai 4,23% dari total order matched di Bursa. Bahkan, rata-rata nilai penggunaan fitur ini pada Agustus 2025 tercatat mencapai lebih dari Rp1 triliun per hari.
“Apabila dibandingkan dengan tahun 2024, tingkat pemanfaatan fitur tersebut menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 98,5%, yang menunjukkan bahwa banyak investor yang terbantu dengan adanya fitur Market Order untuk eksekusi order yang lebih optimal,” jelas Jeffrey, Jumat (12/12/2025).
Market Order adalah mekanisme jual-beli yang memiliki prioritas lebih tinggi. Investor langsung dieksekusi pada harga terbaik yang tersedia di pasar. Investor hanya perlu menentukan jumlah lot, bukan harga.
Sementara Limit Order, investor menentukan harga jual atau beli sendiri. Eksekusi order harus mengikuti antrian harga dan waktu yang ditetapkan.
Kecepatan adalah keunggulan utama Market Order. Investor tidak perlu membuang waktu memasukkan harga, menjadikan proses transaksi lebih cepat dan efisien, khususnya saat pasar sedang sangat volatil atau bergerak dinamis.
Secara teknis, Market Order sangat menguntungkan bagi investor yang ingin memanfaatkan momen gap up atau gap down harga. Fitur ini, terutama tipe fill and kill, juga memiliki peluang matching yang lebih tinggi dibandingkan Limit Order pada sesi pre-opening saham yang baru melantai (listing).
“Karena memiliki prioritas lebih tinggi, Market Order memungkinkan investor mengeksekusi pesanan tanpa harus menentukan harga, sehingga prosesnya menjadi jauh lebih cepat dan efisien,” pungkas Jeffrey.
Baca Juga: Sandiaga Uno Dorong Wirausaha Muda Untuk Melantai Bursa
Berita Terkait
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Harga Minyak Dunia Bakal Turun Besar-besaran, 'Tandanya' Sudah Muncul
-
Jadwal Cum Date 6-7 Juli 2026 dan Daftar 19 Saham Bagi Dividen Minggu Ini
-
Sambut HUT ke-28, Bank Mandiri Kembali Gelar Donor Darah Serentak di 12 Region
-
Bank Jago Fokus Inovasi Fitur untuk Gaet Nasabah, Gimana Kinerja Sahamnya?
-
BBKP Pangkas Jumlah Karyawan dan Tutup Kantor Cabang, Ini Penyebabnya
-
Jadi Pertimbangan Serok, Harga Emas Batangan Diproyeksi Anjlok Pekan Depan
-
Pertamina Rombak Besar-besaran, 31 Anak Perusahaan Resmi Direstrukturisasi
-
Warga Malaysia Sering Kepo Kecanggihan Whoosh
-
Enaknya Jadi Komisaris Bank, Bisa Kredit Fiktif dan Manipulasi Pembukuan
-
BNI Perkenalkan Logo HUT ke-80, Simbol Pengabdian dan Komitmen Melayani Negeri