- Pemerintah Indonesia memposisikan gig economy sebagai "mesin ketiga" pertumbuhan ekonomi nasional, di samping sektor tradisional dan kesejahteraan.
- Gig economy diharapkan mencapai pertumbuhan dua digit dan menjadi solusi penyerapan tenaga kerja muda mulai tahun 2025.
- Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto meluncurkan program pelatihan ini di Jakarta.
Suara.com - Pemerintah Indonesia secara resmi mulai memposisikan gig economy sebagai salah satu pilar krusial untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Sektor ini diproyeksikan menjadi "mesin ketiga" yang akan bekerja berdampingan dengan sektor ekonomi konvensional serta program ekonomi kesejahteraan yang selama ini menjadi tumpuan utama negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa selama ini struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada industri tradisional seperti perdagangan, manufaktur, dan pariwisata sebagai mesin pertama.
Sementara itu, mesin kedua digerakkan melalui belanja sosial dan bantuan ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat lapisan bawah.
“Pertumbuhan ekonomi kita itu ada engine konvensional, sektor industri, sektor perdagangan, pariwisata dan yang lain. Kemudian engine kedua terkait dengan bantuan sosial ekonomi kesejahteraan,” jelas Airlangga dalam acara peluncuran Program Pelatihan Gig Economy di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Airlangga menekankan bahwa untuk mencapai target ambisius pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan model lama.
Sektor digital, khususnya gig economy, dipandang memiliki potensi pertumbuhan dua digit (double digit) yang konsisten jika dikelola dalam ekosistem yang tepat.
Menurutnya, efektivitas digitalisasi adalah kunci. “Digitalisasi ini growth-nya double digit. Kalau tidak double digit, berarti ada yang salah,” tegasnya.
Selain sebagai pendorong angka pertumbuhan, gig economy juga menjadi solusi strategis dalam menyerap tenaga kerja muda.
Baca Juga: Kejar Daya Saing Ekonomi Berbasis Inovasi, UNSIALLDikti Dorong Kampus Masuk Peringkat Global WURI
Mulai tahun 2025, pemerintah berencana mengarahkan para pemuda yang telah menyelesaikan program magang di berbagai korporasi untuk masuk ke dalam ekosistem kerja fleksibel ini.
Hal ini diharapkan dapat memberikan alternatif jalur karier yang menjanjikan di luar sektor formal konvensional.
Di sisi lain, Airlangga memaparkan bahwa mesin kedua (ekonomi kesejahteraan) juga terus diperkuat. Fokus utamanya adalah menjaga daya beli kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, terutama pada kategori desil satu hingga desil empat.
“Biasanya bansos itu di 18 juta, sekarang bisa sampai 35 juta (penerima),” tambah Airlangga. Penambahan ini dimaksudkan untuk memberikan bantalan ekonomi yang kuat bagi masyarakat saat pemerintah sedang memacu mesin pertumbuhan baru.
Dalam konteks kebijakan baru ini, gig economy didefinisikan sebagai model kerja berbasis proyek atau tugas jangka pendek yang difasilitasi oleh platform digital.
Skema ini menawarkan fleksibilitas tinggi bagi individu tanpa harus terikat kontrak permanen, di mana penghasilan ditentukan oleh volume dan nilai proyek yang diselesaikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Mencerahkan Wajah, Cukup 3 Langkah Praktis Murah Meriah!
Pilihan
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
Terkini
-
Baru Satu Sesi IHSG, Saham BBRI Sudah Diborong Investor Hingga Rp259 Miliar
-
Apa Bedanya BLT Kesra dan BLT Dana Desa? Ini Perbandingan Sumber Dana, Besaran, dan Penerimanya
-
Faktor Pendorong Saham BBRI Meroket Hari Ini, 3 Analis Berikan Target Harga
-
Agus Gumiwang dan Purbaya Bahas Insentif Motor dan Mobil Listrik, Ini Dampaknya
-
Jangan Diabaikan! Ini Alasan Karyawan Harus Punya BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan
-
Sektor Pertambangan hingga Listrik Melemah, Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Terkontraksi 0,77%
-
Produksi Migas Capai 956 MBOEPD, Kinerja Pertamina Hulu Energi di Awal 2026 Tetap Terjaga
-
Rupiah Keok ke Rp17.410, Subsidi Energi Jebol Rp118 Triliun
-
Potret Ketenagakerjaan RI: Pekerja Formal Menurun, Puluhan Juta Rakyat Pilih Kerja Serabutan
-
Dorong Pemberdayaan Perempuan, Pegadaian Dukung Kartini Race 2026: Tonggak Baru Motorsport Indonesia