- Rupiah terkapar di level Rp17.410 per dolar AS akibat tensi panas Timur Tengah.
- Subsidi & kompensasi energi jebol Rp118,7 T, melonjak drastis 266,5 persen.
- Kenaikan konsumsi BBM dan LPG kian membebani APBN di tengah depresiasi rupiah.
Suara.com - Kombinasi maut antara ambruknya nilai tukar rupiah dan membengkaknya beban subsidi energi kini mengancam kesehatan kas negara (APBN).
Berdasarkan data perdagangan Selasa (5/5/2026) pagi, mata uang Garuda tak berdaya dan terperosok ke level Rp17.410 per dolar AS. Pelemahan 17 poin atau 0,10 persen ini mempertegas tren negatif rupiah di tengah ketidakpastian global yang kian mencekik.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyebut rupiah makin tertekan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang membuat dolar AS perkasa. Meski pasar menanti data PDB kuartal I, rupiah diprediksi tetap akan betah di zona merah pada rentang Rp17.350 hingga Rp17.450 per dolar AS.
Kondisi ini diperparah dengan laporan keuangan negara yang kian mengkhawatirkan. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi subsidi dan kompensasi melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp118,7 triliun per akhir Maret 2026.
Angka ini sangat mengerikan karena meroket tajam sebesar 266,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Artinya, uang rakyat habis tersedot hanya untuk menahan dampak fluktuasi harga energi dan pelemahan rupiah.
"Realisasi subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh fluktuasi ICP, depresiasi nilai tukar rupiah, serta peningkatan volume BBM, LPG dan listrik," tulis Kemenkeu dalam laporan APBN KITA, dikutip Selasa (5/5/2026).
Rinciannya pun bikin geleng-geleng kepala. Dari total tersebut, dana kompensasi membengkak hingga Rp66,5 triliun dan subsidi mencapai Rp52,2 triliun. Gejolak harga minyak dunia akibat tensi geopolitik global menjadi biang keladi utama yang membuat APBN harus "berdarah-darah".
Di sisi lain, konsumsi domestik juga tak terkendali. Realisasi subsidi BBM naik 9,2 persen menjadi 3,17 juta kilo liter, sementara gas melon LPG 3 kg naik 3,8 persen. Beban subsidi pupuk dan KUR pun ikut merangkak naik, menambah beban berat pada pundak keuangan negara.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Diramal Bisa Terus Melemah Hingga ke Level Rp 17.550/USD
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Ekonomi Indonesia Melesat 5,61 Persen saat Rupiah Pecahkan Rekor Terlemah
-
Pertukaran Mata Uang dengan China dan Jepang Jadi Strategi Jaga Nilai Tukar Rupiah
-
Rupiah Masih Melemah Akibat Turunnya Surplus Perdagangan
-
Ikon Kota yang Terawat Bisa Menggerakkan Ekonomi, AVIA Ungkap Alasannya
-
Purbaya Bantah Ekonomi RI Seperti Krisis 1998: Ekonom Salah Prediksi, Kecele
-
Pemerintah Bidik Hilirisasi Industri demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen di 2029
-
Pelemahan Rupiah yang Terparah dalam Sejarah Bisa Picu Gagal Bayar dan PHK
-
Bahlil Tegaskan Tarif Listrik Tak Naik pada Mei
-
OJK: DSI Masih Nunggak Bayar Dana Nasabah Rp 2,4 Triliun
-
Ditopang Margin Kilang Minyak, Laba Barito Pacific (BRPT) Naik 803 Persen di Kuartal I-2026