- Prabowo siap copot pejabat 'telur busuk' dan denda besar demi bersihkan birokrasi ekonomi.
- Sebanyak 28 perusahaan dicabut izinnya karena terbukti merusak lingkungan dan langgar hukum.
- Pemerintah bidik mafia pasar modal yang rugikan investor ritel lewat praktik goreng saham.
Suara.com - Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengeluarkan peringatan keras bagi para birokrat dan pelaku usaha yang bermain api. Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak akan segan melakukan "pembersihan" besar-besaran terhadap sosok yang ia istilahkan sebagai 'telur busuk'.
Langkah tegas ini diambil guna memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tidak terhambat oleh praktik-praktik koruptif dan inefisiensi yang akut.
"Sekarang, tinggal masalah membersihkan 'telur-telur busuk' ini. Terus terang, akan ada pejabat yang dicopot, saya rasa denda sangat besar akan dijatuhkan," ujar Hashim dalam forum China Conference Southeast Asia di St. Regis Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam.
Pernyataan ini sekaligus merespons isu pengunduran diri sejumlah pejabat kunci di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tengah menjadi sorotan publik.
Adik kandung Presiden Prabowo ini menekankan bahwa pemerintah tidak akan tebang pilih. Oknum elite yang terlibat dalam praktik kriminal hingga perusakan lingkungan dipastikan masuk dalam radar pembersihan.
Hashim mengungkapkan, momentum bersih-bersih birokrasi ini sudah dimulai. Ia melempar sinyal kuat bahwa akan ada lebih banyak kepala lembaga yang dicopot sebagai bentuk pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran hukum.
"Data yang digunakan sangat akurat, mulai dari fotografi satelit, drone, hingga bukti lapangan. Meskipun beberapa perusahaan ini memiliki koneksi dengan elite yang kuat, Presiden tetap mengambil tindakan tegas," tegasnya.
Sebagai bukti konkret, Hashim menyinggung tindakan tegas di sektor lingkungan saat kunjungan kerja Presiden ke London dua pekan lalu. Sebanyak 28 perusahaan di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah dicabut izinnya karena terbukti merusak lingkungan dan mengancam nyawa warga.
Tak hanya sektor riil, sektor finansial juga menjadi sasaran. Hashim menyoroti praktik manipulasi pasar atau 'goreng saham' yang selama ini merugikan investor ritel dan masyarakat kecil.
Baca Juga: Prabowo Panggil Menteri Airlangga Hingga Purbaya ke Istana, Ada Apa?
"Saya bukan Jaksa Agung, namun jika ada orang yang bertanggung jawab atas perilaku kriminal yang merugikan investor kecil, segala kemungkinan (proses hukum) terbuka lebar. Semua opsi ada di atas meja," pungkas Hashim.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
Terkini
-
Tensi Panas! Menteri KKP Gerah Dengan Tuduhan Menkeu Purbaya soal Proyek Kapal
-
Sambut Ramadan, Ini 5 Tips Jitu UMKM Dongkrak Penjualan di E-commerce
-
Saham BUMI Meroket Usai 'Pertemuan Hambalang', Berapa Target Harganya?
-
Menteri Ekraf Tinjau Cek Kesehatan Driver Gojek: Targetkan 136 Juta Rakyat Sehat di 2026
-
Pergerakan Harga Perak Sepekan, Tren Positif Sejak Awal Pekan
-
Pansel Jamin Seleksi Anggota Dewan Komisioner OJK Bebas Nepotisme
-
IHSG Terus Menguat ke Level 8.200 di Sesi I, PIPA Hingga PADI ARA
-
BPDP Ungkap Penerimaan Ekspor Sawit Tembus Rp 31 Triliun di 2025
-
Harga Minyak Stabil di Tengah Ketegangan Diplomatik AS - Iran
-
Nasib Apes Emiten Udang Kaesang, PMMP Rugi Rp1,9 Triliun dan Ekuitas Minus di 2025