- Militer Amerika Serikat menyerang Venezuela, menculik Presiden Maduro, dengan motif utama penguasaan minyak bumi.
- Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, namun produksinya saat ini sangat kecil.
- Aksi AS tersebut paling merugikan China dan Kuba yang selama ini mendapatkan minyak Venezuela sebagai pembayaran utang dan barter.
Suara.com - Militer Amerika Serikat menyerang Venezuela pada akhir pekan kemarin dan menculik Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya. Meski Presiden Donald Trump menuding Maduro sebagai gembong narkotika, tapi para analis dan fakta di lapangan menunjukkan bahwa aksi sepihak itu digerakkan oleh motif ekonomi, lebih khusus lagi minyak.
"Perusahaan-perusahaan minyak raksasa Amerika Serikat - yang terbesar di dunia - akan masuk dan berinvestasi miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang sudah ambruk di Venezuela," kata Trump saat mengumumkan misi ilegal AS di Venezuela dalam konferensi pers dari resort mewah miliknya di Mar-a-Lago, Florida, AS.
Sementara dalam kesempatan lain Trump bilang bahwa ongkos operasi militer AS di Venezuela, yang menelan biaya miliaran dolar, akan dibayar oleh Venezuela dengan minyak bumi.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa minyak Venezuela begitu menarik bagi Amerika Serikat? Mengapa China yang paling terdampak akibat aksi sepihak AS? Dan mengapa konflik baru ini belum membuat harga minyak bergejolak?
Venezuela The Real Raja Minyak
Faktnya, Venezuela adalah raja minyak dunia dari sisi cadangan yang dimiliki. Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti hingga 303 miliar barel - setara dengan hampir seperlima cadangan minyak dunia.
Uniknya lagi, produksi minyak Venezuela sangat kecil. Negara itu hanya memproduksi hampir 1 juta barel minyak per hari atau sekitar 0,8 persen produksi minyak dunia.
Dari jumlah itu, pembeli terbesar minyak Venezuela adalah China disusul oleh Amerika Serikat, Spanyol dan Kuba.
Siapa yang paling dirugikan?
Baca Juga: Pertamina Miliki Kilang Minyak di Venezuela, Terdampak?
Selain Venezuela, dari data di atas, negara yang paling dirugikan oleh serangan AS akhir pekan kemarin adalah China. Alasannya karena Beijing memperoleh minyak Venezuela sebagai bentuk pembayaran utang.
Dilansir dari beberapa sumber, sisa utang Venezuela ke China sekitar 12 miliar dolar. Sementara sekitar 80 persen minyak Venezuela pada 2025 dikirim China untuk melunasi utang.
Negara kedua yang paling merugi adalah Kuba, karena selama ini menikmati minyak Venezuela. Bagi Kuba pasokan energi dari Venezuela sangat penting terutama untuk listrik. Pada 2023 lalu sekitar 4 persen dari minyak produksi Venezuela dikirim ke Kuba.
Penting dicatat China dan Kuba membeli minyak Venezuela dengan harga murah. Embargo yang dikenakan AS ke Venezuela membuat minyak produksi negara itu tak bisa dibeli oleh negara lain.
China membeli minyak Venezuela melalui cara ilegal transhipment - transfer bahan bakar dari kapal tanker ke kapal tanker di tengah laut - menggunakan kapal-kapal berbendera Malaysia atau disamarkan sebagai kargo Brazil.
Sementara Kuba memperoleh minyak Venezuela yang ditukar dengan guru-guru, dokter dan pasukan militer.
Siapa yang untung?
Amerika Serikat tentu saja yang paling diuntungkan. Sebelumnya AS adalah pengimpor minyak Venezuela terbesar kedua, dengan porsi 23 persen pada 2023. Kini setelah Venezuela ditaklukkan, kontrol atas minyak mentah ada di tangah AS.
Penting dicatat, meski berkonflik selama bertahun-tahun, perusahaan minyak AS Chevron masih beroperasi di Venezuela dengan kontrak khusus dan memproduksi 25 persen dari total produksi minyak Venezuela.
AS sendiri memiliki sejumlah besar kilang yang cocok untuk mengolah minyak mentah Venezuela yang dikenal sebagai heavy oil atau minyak mentah berat, yang selain bisa diolah menjadi bahan bakar juga mudah diubah menjadi aspal.
Sementara bagi China, dinamika ini semakin merugikan karena heavy oil seperti milik Venezuela cukup sukar karena produsennya terbatas. Salah satu opsi adalah Kanada, tapi tentu saja minyak mentah Kanada bisa diperoleh dengan harga lebih mahal.
Apa dampaknya ke harga minyak dunia?
Hingga Senin (5/1/2026), serangan AS ke Venezuela belum banyak berpengaruh ke harga minyak dunia. Harga minyak kemarin masih di kisaran 63 dolar AS per barel, tak banyak berubah dari sebelumnya. Hal itu, menurut Phil Flynn dari Price Futures Group, disebabkan karena kontribusi minyak mentah Venezuela ke pasar dunia sangat kecil.
"Minyak Venezuela bisa dengan mudah digantikan oleh produsen-produsen minyak dunia lainnya," terang dia kepada CNN.
Sementara menurut Bob McNally dari perusahaan konsultan Rapidan Energy Group yang berbasis di Washington DC, harga minyak mungkin akan melonjak jika pecah perang atau kerusuhan yang meluas sehingga mengganggu stabilitas kawasan.
Lalu apakah dengan diambilalihnya minyak Venezuela oleh Amerika Serikat akan bisa membuat harga minyak dunia semakin murah, karena jumlah produksinya akan digenjot?
Tidak semudah itu, kata beberapa pengamat. Bob McNally dari perusahaan konsultan Rapidan Energy Group kepada CNN menjelaskan bahwa butuh waktu setidaknya lima sampai 10 tahun agar produksi minyak Venezuela bisa digenjot.
Alasannya setelah bertahun-tahun tak beroperasi karena sanksi dan korupsi, infrastruktur minyak Venezuela banyak yang tidak berfungsi. Diperlukan investasi miliaran dolar AS untuk membangun kembali infrastruktur tersebut agar bisa beroperasi kembali dalam waktu cepat.
Selain itu kondisi Venezuela yang belum jelas dan stabil, tentu akan membuat perusahaan minyak raksasa untuk berpikir dua kali untuk masuk dan berinvestasi di sana. (CNN, El Pais, Japan Times, Reuters, The Guardian, The Strait Times)
Tag
Berita Terkait
-
Klaim Belum Berdampak, ESDM: Sumber Minyak RI Bukan dari Venezuela
-
Penangkapan Presiden Venezuela Bisa Guncang Pasar Kripto, Ini Alasannya
-
Profil Delcy Rodriguez, Wapres yang Ambil Alih Venezuela Usai Maduro Ditangkap AS
-
Militer AS Invasi Venezuela, Dino Patti Djalal Sebut Hukum Rimba Gantikan Hukum Internasional
-
5 Fakta Reaksi Rakyat Venezuela Usai Presiden Nicolas Maduro Ditangkap AS
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
Terkini
-
Harga Tiket Pesawat Domestik Garuda Indonesia Resmi Naik!
-
Jelang RUPS, BBRI Dikabarkan Bakal Bagi Dividen Lebih Besar
-
Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi 'Gantung', Wayan Koster: Kami Malu Ditanya Masyarakat Terus!
-
6 Fakta Sepeda Motor Listrik untuk Pengadaan Program MBG, Jumlahnya 21 Ribu
-
Urai Macet Horor Bali, Menhub Siapkan Water Taxi hingga Pelabuhan Logistik Baru
-
IHSG Terbang 3% ke Level 7.207 di Sesi I, 592 Saham Naik
-
Cadangan Devisa Indonesia Mulai Menipis, Sisa Rp2.519 Triliun
-
Target Emisi Tercapai, Pertamina Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Energi
-
Pangkas Ketergantungan APBN, Pemerintah Segera Revisi Perpres Cadangan Penyangga Energi
-
Sejarah Kelam Rp17.100 per Dolar AS: Bagaimana Konflik Timur Tengah Menguras Kas APBN Kita?