- Diplomat Senior Ple Priatna menyoroti posisi Wapres Venezuela sebagai pintu masuk infiltrasi dan pembelokan loyalitas elit oleh kekuatan asing.
- Venezuela menjadi pelajaran penting bagi Indonesia mengenai pengelolaan Sumber Daya Alam sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.
- Kepemimpinan Maduro menunjukkan navigasi geopolitik; namun, risiko suap menyasar elit dekat yang memiliki akses kekuasaan besar.
Suara.com - Dinamika politik di Venezuela memberikan pelajaran berharga bagi stabilitas nasional Indonesia, khususnya terkait kerentanan posisi strategis di lingkaran tertinggi kekuasaan terhadap pengaruh asing.
Diplomat Senior, Ple Priatna, menyoroti betapa krusialnya peran Wakil Presiden dalam struktur politik Venezuela.
Menurutnya, posisi tersebut kerap menjadi "pintu masuk" utama bagi kekuatan asing untuk melakukan infiltrasi politik.
"Wakil Presiden di Venezuela memiliki posisi yang sangat kritikal. Ia berpotensi menjadi komprador yang menggunakan kekuatan asing untuk masuk, bahkan hingga memicu pembelokan loyalitas di tingkat elit," ujar Priatna dalam kanal YouTube Bambang Widjojanto (BW), Rabu (7/1/2026).
Menanggapi hal itu, Priatna mengungkapkan bahwa publik dunia internasional seringkali baru menyadari kerentanan tersebut setelah krisis terjadi.
Ia menyebut bahwa di Venezuela, jabatan seperti Wakil Presiden dan Menteri Luar Negeri merupakan pintu besar bagi kepentingan eksternal yang ingin menguasai sumber daya negara.
"Dunia luar mungkin baru menyadari belakangan bahwa pintu besar pengaruh asing di Venezuela adalah melalui Wapres atau Menteri Luar Negeri," kata dia.
"Hal ini sulit dibayangkan (jika) terjadi di Indonesia, namun tetap memerlukan kewaspadaan tinggi karena hanya orang-orang terdekat di lingkaran kekuasaanlah yang mampu melakukan tindakan tersebut," Priatna menambahkan.
Selain isu stabilitas politik, diskusi bersama BW tersebut juga membedah bagaimana Venezuela menjadi contoh ekstrem dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA).
Baca Juga: Gedung Kedubes AS Diguncang Protes, Massa Buruh: Jangan Sampai Indonesia Jadi Sasaran Berikutnya
Priatna menekankan pentingnya Indonesia berpegang teguh pada amanat Pasal 33 UUD 1945 agar SDA benar-benar dikelola untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir elit atau pihak asing.
Di sisi lain, Priatna melihat kepemimpinan Nicolas Maduro dapat menjadi studi kasus bagi Indonesia dalam menavigasi geopolitik internasional.
Ia mencatat bahwa penguasaan SDA dan ketahanan terhadap tekanan internasional adalah kunci, namun terdapat risiko besar yang membayangi, yakni praktik suap di tingkat elit.
"Nicolas Maduro memberikan contoh tentang bagaimana menggunakan geopolitik internasional untuk keuntungan nasional," kata dia.
"Namun, kita harus sangat berhati-hati dengan praktik penyuapan yang menyasar elit politik dengan jabatan tertinggi. Nilai suapnya tidak sedikit, dan sasarannya adalah mereka yang memiliki kekuasaan besar," lanjutnya.
Sebagai Penutup Priatna menegaskan bahwa ancaman nyata sering kali tidak datang dari pihak yang jauh, melainkan dari pihak-pihak yang memiliki akses langsung ke pusat kebijakan.
"Inilah cara kami menjaga kewarasan, dengan terus mengingatkan bahwa pengkhianatan terhadap kepentingan nasional sering kali bermula dari orang terdekat, bukan orang jauh," pungkas Priatna.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Dibalik Penangkapan Nicolas Maduro: Mengapa AS Pilih 'Surgical Strike' Ketimbang Invasi Total?
-
Dikhianati Orang Dekat, Rahasia Jatuhnya Maduro Terungkap
-
Harga Minyak Anjlok! Pernyataan Trump Soal Minyak Venezuela Picu Kekhawatiran Surplus Global
-
Greenland Punya Tambang Melimpah, Trump Ngotot Mau Caplok Usai Serang Venezuela
-
Gedung Kedubes AS Diguncang Protes, Massa Buruh: Jangan Sampai Indonesia Jadi Sasaran Berikutnya
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Minta Restu Jokowi, Mantan Bupati Indramayu Nina Agustina Bachtiar Gabung PSI
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
Terkini
-
DPR Sebut Tragedi di Kawasan IMIP Alarm Nasional, Desak Evaluasi Total Tata Kelola Lingkungan
-
Desakan Tarik Brimob dari Pengamanan Sipil Menguat, Polri: Ini Ulah Individu, Bukan Struktural
-
Karier Alex Noerdin: Dari Anak Tentara Hingga Gubernur Sumsel
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Polisi Ungkap Jaringan TPPO Jual Beli Bayi Lintas Daerah, Beroperasi dari Jakarta hingga Papua
-
KPK Perluas Pemeriksaan Kasus Pemerasan di Pati, Mantan Pejabat hingga Kades Dipanggil
-
Pelajar 16 Tahun Pukul Kakak Kandung hingga Tewas di Kelapa Gading, Polisi Dalami Motif Pelaku
-
Selain Kades, KPK Seret Eks Wabup dan Eks Ketua DPRD Pati Jadi Saksi Kasus Pemerasan Sudewo
-
Usulan KSPI THR H-21 Ditolak! Ini Kata Menaker Soal Batas Waktu Pembayaran THR Idulfitri 2026
-
DPR Desak Pemerintah Sanksi Perusahaan Pelanggar THR: Jangan Jadi Pola Menahun