- Ketegangan geopolitik Timur Tengah memicu analisis Natixis bahwa harga emas bisa rekor jika eskalasi militer AS-Iran terjadi.
- Analis Bernard Dahdah memproyeksikan emas melonjak 15% menyentuh US$5.500–US$5.800 per ons dalam dua minggu eskalasi awal.
- Natixis menilai kenaikan harga emas sebagai aset aman bersifat volatil dan diprediksi kembali stabil setelah krisis satu bulan.
Suara.com - Ketidakpastian geopolitik yang dipicu oleh kembalinya ketegangan di Timur Tengah memberikan momentum baru bagi pasar logam mulia.
Menurut analisis dari bank investasi asal Prancis, Natixis, harga emas berpotensi mencetak rekor tertinggi sepanjang masa jika perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran terus meruncing hingga terjadi eskalasi militer.
Dalam laporan terbarunya, Bernard Dahdah, analis logam mulia di Natixis, mengungkapkan bahwa berdasarkan pola konflik sebelumnya, harga emas dapat melonjak hingga 15% akibat lonjakan permintaan aset aman (safe-haven).
Dahdah memproyeksikan bahwa sebagian besar kenaikan harga akan terjadi secara masif di awal konflik. Jika serangan militer benar-benar diluncurkan, ia memperkirakan harga emas bisa menyentuh level US$5.500 hingga US$5.800 per ons hanya dalam waktu dua minggu pertama.
"Setelah periode tersebut, kami memperkirakan harga akan mulai melandai saat pasar mulai memahami implikasi konflik dan mulai beradaptasi dengan situasi tersebut," jelas Dahdah dalam laporannya, Jumat (20/2/2026) lalu.
Kekuatan harga emas mulai terlihat sejak awal bulan ini, seiring dengan meningkatnya retorika agresif Presiden Donald Trump terhadap Iran. Pekan lalu, ketidakpastian ini sempat mendorong harga emas melampaui ambang US$5.000 per ons.
Meskipun saat ini harga emas sedang terkoreksi sekitar 1,5% ke level US$5.147,20 per ons, logam mulia ini masih mempertahankan dukungan kuat di level tinggi. Para investor tampak masih ragu untuk mendorong harga lebih jauh di atas US$5.200 per ons tanpa adanya katalis konflik yang lebih nyata.
Meski memiliki ruang untuk naik, Natixis memperingatkan bahwa permintaan aset safe-haven bersifat sangat volatil dan jarang menghasilkan keuntungan jangka panjang yang stabil.
Dilansir dari Kitco, Dahdah menyebutkan bahwa seringkali kenaikan harga akan terhapus segera setelah situasi konflik mulai stabil.
Baca Juga: WN China Didakwa Dalangi Tambang Emas Ilegal di Ketapang
Mengenai potensi arah konflik, Natixis menilai pemerintahan Trump kemungkinan besar akan mengikuti "buku panduan" baru yang lebih terbatas, serupa dengan pendekatan mereka di Venezuela:
- Fokus Target: Menargetkan tokoh-tokoh senior Iran yang dianggap kaku.
- Mempertahankan Struktur: Tetap menjaga struktur rezim dan aparat keamanan tetap di tempatnya.
- Beda dengan Era Bush: Menghindari strategi era George W. Bush di Irak dan Afganistan yang membongkar total militer dan rezim demi memaksakan demokrasi.
Natixis memprediksi jika krisis di Timur Tengah ini terjadi, durasinya diperkirakan akan berlangsung sekitar satu bulan sebelum pasar kembali menemukan titik keseimbangannya.
DISCLAIMER:
Analisis ini disusun berdasarkan proyeksi pasar komoditas global per Februari 2026 sehubungan dengan dinamika geopolitik AS-Iran. Harga emas sangat dipengaruhi oleh sentimen politik yang dapat berubah seketika.
Tag
Berita Terkait
-
Emas Antam Tiba-tiba Anjlok Tajam, Tapi Masih Dibanderol Rp 3 Juta/Gram
-
Harga Emas Pegadaian Rabu 25 Februari 2026, Galeri 24 Lebih Murah dari UBS
-
Emas Antam Meroket Lagi, Harganya Dipatok Rp 3.068.000/Gram
-
Harga Bitcoin Terkapar dan Sulit Bangkit, Emas Kembali Jadi Primadona
-
Harga Emas Galeri 24 dan UBS Naik di Pegadaian Hari Ini 24 Februari 2026
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Purbaya Targetkan Legalisasi Rokok Ilegal Berlaku Mei 2026 demi Tambah Pendapatan Negara
-
Purbaya Siapkan Insentif Motor Listrik, Bagaimana Nasib Mobil Listrik?
-
Aturan Baru OJK Minta Bank Biayai MBG hingga KDMP, Purbaya Klaim APBN Masih Cukup
-
Kementerian ESDM Lelet Urus RKAB, Perhapi: Banyak Perusahaan Tambang Tak Berfungsi
-
Iran: Tak Ada Keistimewaan, Kapal Pertamina Bisa Bebas Jika Indonesia Negosiasi dengan IRGC
-
Iran Mau Buka Selat Hormuz, AS Sepakat Cairkan Dana Iran yang Dibekukan Qatar
-
Ekspor IKM Surabaya Tembus 2,73 Juta Dolar AS, SIL Festival 2026 Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal
-
Peran Influencer dalam Edukasi Aset Ekonomi Digital, Indodax Soroti Regulasi
-
Mengapa WFH di Jumat Akan Kurang Efektif Tekan Konsumsi BBM?
-
Apindo dan KSPSI Bahas RUU Ketenagakerjaan Bersama-sama