- Pemerintah memperpanjang kebijakan PPN DTP 100% hingga 2026, meringankan beban pajak pembelian rumah.
- Peluang emas ini dimanfaatkan pengembang untuk melakukan ekspansi besar-besaran di segmen hunian tapak, khususnya di wilayah penyangga Jakarta seperti Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan.
- Dengan fokus pada harga yang terjangkau dan desain fungsional, langkah strategis ini diharapkan mampu memenuhi tingginya permintaan rumah tinggal sekaligus memperkuat struktur bisnis properti nasional.
Suara.com - Membeli rumah di tahun 2026 seharusnya akan terasa lebih enteng di kantong. Pemerintah resmi memperpanjang kebijakan PPN DTP (Ditanggung Pemerintah) sebesar 100%. Artinya, beban pajak yang biasanya mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah kini dihapus.
Melihat peluang emas ini, pemegang saham pengendali DADA, yakni PT Karya Permata Inovasi Indonesia Tbk (KPII), langsung tancap gas. Mereka baru saja menyelesaikan akuisisi senilai Rp174,8 miliar untuk mengambil alih PT Pejaten Kreasi Sukses Indonesia (PKSI).
Langkah berani ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan strategi jitu untuk membawa PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) masuk ke segmen yang paling dicari saat ini: rumah tapak (landed housing).
Selama ini, DADA lebih dikenal dengan proyek apartemen atau hunian vertikalnya. Namun, melalui PKSI, perusahaan kini memperluas radar mereka ke wilayah buffer city alias kota penyangga Jakarta seperti Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan.
Kawasan-kawasan ini adalah "titik manis" bagi para keluarga muda dan milenial yang mencari keseimbangan antara akses kerja ke Jakarta dan kenyamanan hunian yang membumi.
Ekspansi ini pun langsung mendapat respons hangat dari pasar modal. Sempat berada di level "saham gocap" (Rp50), saham DADA kini mulai lincah bergerak hingga ke kisaran Rp67 per lembar.
Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa investor melihat fundamental perusahaan semakin kokoh, apalagi segmen rumah tapak memiliki perputaran arus kas yang lebih cepat dan stabil.
Direktur dan CEO PT Diamond Citra Propertindo Tbk, Bayu Setiawan, menegaskan bahwa akuisisi ini adalah bagian dari rencana besar untuk mengelola ekspansi secara terukur.
“Akuisisi ini dilakukan untuk memperkuat pengembangan rumah tapak di wilayah buffer city Jakarta, yang secara permintaan masih sangat potensial dan didominasi oleh kebutuhan end user,” ujar Bayu.
Baca Juga: Fahri Hamzah Usul Pajak Rumah Tapak Dinaikkan, Amarah Publik Meledak: Bapak Pindah Kuburan Aja!
Menariknya, hunian yang dikembangkan bersama PKSI ini tidak akan tampil seperti perumahan konvensional yang membosankan.
Konsepnya dibuat lebih "kekinian" dengan desain fungsional, harga yang tetap affordable, namun memiliki tata kawasan yang terencana.
Tujuannya satu: agar rumah bukan sekadar tempat tidur, tapi kawasan yang meningkatkan kualitas hidup penghuninya.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang membebaskan pajak dan strategi yang beralih ke rumah tapak bernilai tambah, proyek-proyek baru ini bisa menjadi pilihan yang sangat masuk akal di kantong.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Riset Danareksa: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Kuartal I, Ditopang Konsumsi Rumah Tangga
-
Telkom dan PGN Perkuat Ekosistem Green Digital Infrastructure Terintegrasi Bersama Mitra Global
-
ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen di 2026
-
Penerimaan Pajak dari MBG Cuma 3-5 Persen, Setara Rp 10,05 T hingga Rp 16,75 T
-
Toko Online Dibanjiri Produk China, Purbaya Mau Tarik Pajak E-commerce Pertengahan 2026
-
Negosiasi Buntu, Iran ke AS: Rasakan Harga Bensin Kalian!
-
Komitmen Nyata BRI Group, Sinergi Holding UMi Perkuat Fondasi Ekonomi Masyarakat
-
Purbaya Kesal Restitusi Pajak 2025 Tembus Rp 360 Triliun, Duga Ada Kebocoran
-
OJK Sebut Banyak Orang Mulai Malas Bayar Cicilan Pindar
-
Karpet Merah Family Office di Bali: Ambisi Prabowo, Warisan Luhut, dan Kiblat Abu Dhabi