- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi memulai proses pembongkaran 109 tiang monorel Jakarta.
- Proyek monorel Jakarta (Jakarta Eco Transport) terjebak dalam pusaran masalah yang kompleks.
- sistem monorel dinilai kalah efisien dibandingkan MRT dan LRT dalam hal daya angkut penumpang per jam.
Suara.com - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi memulai proses pembongkaran 109 tiang monorel yang telah mangkrak selama hampir 22 tahun di sepanjang Jalan Rasuna Said hingga Senayan, Rabu (14/1/2026).
Langkah ini tidak hanya menandai penataan estetika kota, tetapi juga menjadi titik akhir dari salah satu sejarah kegagalan investasi infrastruktur terbesar di ibu kota.
Lantas mengapa proyek Monorel Jakarta gagal?
Meski sempat dicanangkan pada tahun 2004 oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, proyek monorel Jakarta (Jakarta Eco Transport) terjebak dalam pusaran masalah yang kompleks.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat tiga faktor utama kegagalan proyek ini:
1. Ketidakpastian Skema Finansial: Proyek ini terlalu bergantung pada pendanaan swasta murni tanpa jaminan pemerintah yang memadai. Akibatnya, investor ragu terhadap tingkat pengembalian modal (Internal Rate of Return) yang ditawarkan.
2. Sengketa Ganti Rugi: Terjadi kebuntuan nilai ganti rugi tiang antara pemegang konsesi, PT Jakarta Monorail (JM), dengan kontraktor pelaksana, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Sengketa ini mencapai angka ratusan miliar rupiah dan tidak menemui titik temu selama dua dekade.
3. Ketidaklayakan Teknis: Seiring berkembangnya teknologi, sistem monorel dinilai kalah efisien dibandingkan MRT dan LRT dalam hal daya angkut penumpang per jam (pax per hour per direction).
Proyek ini memiliki sejarah kepemilikan yang berliku dimana penggagasnya adalah era Gubernur Sutiyoso (1997-2007) sebagai bagian dari Pola Transportasi Makro. Saat itu pemegang konsesi nya adalah PT Jakarta Monorail (JM), yang sempat melibatkan Ortus Holdings (Edward Soeryadjaya) saat upaya revitalisasi tahun 2013.
Baca Juga: Usai Bea Cukai, Purbaya Kini Ancam Pegawai Pajak: Rotasi ke Tempat Terpencil hingga Dirumahkan
Sementara penggarap proyek adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk, yang membangun tiang-tiang tersebut namun menghentikan pengerjaan karena masalah pembayaran dari PT JM.
Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007 Sutiyoso mengenang kembali awal mula munculnya ide pembangunan monorel Jakarta. Dia merasa lega atas pembongkaran tiang monorel di Rasuna Said setelah hampir 22 tahun mangkrak.
"Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono," kata Sutiyoso saat menghadiri peninjauan pemotongan tiang monorel di Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Sutiyoso bercerita gagasan monorel muncul pada awal 2000-an ketika Pemprov DKI mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Saat itu, ia mengumpulkan para pakar transportasi dari berbagai universitas untuk merancang jaringan transportasi makro ibu kota.
"Hasil kajian itu menyimpulkan Jakarta perlu empat moda transportasi utama, yaitu MRT bawah tanah, monorel di atas, busway, dan waterway, yang terintegrasi satu sama lain," ujarnya.
Ia mengaku melakukan studi banding ke sejumlah negara, termasuk Kolombia, Filipina, dan Thailand. Dari sana, monorel dinilai sebagai moda transportasi massal yang cocok untuk kondisi kota besar, seperti Jakarta.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Tahun Ajaran Baru Tak Harus Serba Baru, Orang Tua Tak Perlu Memaksakan Diri
-
HUT ke-70 Danamon, Nasabah Medan Bisa Nikmati Promo di Nelayan Restaurant hingga Pagi Sore
-
Nasib Ganti Rugi JPO Tendean Belum Jelas, Pemprov DKI Masih Negosiasi dengan Perusahaan Truk
-
4 Penny Loafers Lokal di Bawah Rp500 Ribu, Stylish dan Ramah di Kantong!
-
Kampus Bukan Mesin Cari Cuan, Asosiasi Dosen Minta RUU Sisdiknas Atur Batas Uang Kuliah
-
"Puncak Kemarau Panjang Mengintai, DPRD Jateng Desak Optimalisasi Embung dan Waduk"
-
4 Sepatu Lari Warna Pink Merek Lokal untuk Wanita, Lengkap Review Pembeli
-
DPR Ingatkan Pemerintah, Jangan Jadikan MBG Kambing Hitam Anjloknya Harga Ayam dan Telur
-
Delapan Jam Menyusuri Baduy Mengubah Cara Saya Melihat Sampah
-
Cabai Habanero Terpedas Kini Dikembangkan di Indonesia, Apa Keunggulannya Dibanding Varietas Impor?