- Indonesia masuk 27 negara berisiko tinggi menghadapi tantangan struktural ekonomi hingga 2028.
- Kurangnya peluang ekonomi memicu stagnasi mobilitas sosial dan narasi konflik "Rakyat vs Elite".
- Disrupsi AI dan lemahnya lapangan kerja mengancam stabilitas ekonomi serta kepercayaan publik.
Suara.com - Awan gelap tampaknya akan menyelimuti perekonomian nasional, pasalnya dalam laporan Global Risk Report 2026 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) pekan lalu menempatkan Indonesia sebagai satu dari 27 negara yang berpotensi besar menghadapi tantangan struktural ekonomi dan sosial serius dalam periode 2026 hingga 2028.
Laporan ini merupakan hasil dari Executive Opinion Survey (EOS) yang dilakukan terhadap para pimpinan bisnis ternama dunia sepanjang Maret hingga Juni 2025. Hasilnya cukup mengkhawatirkan: Indonesia dibayangi oleh risiko pengangguran yang tinggi serta tergerusnya kepercayaan sosial.
Pemicu utama dari ancaman ini adalah kurangnya kesempatan ekonomi (lack of economic opportunity). WEF menyoroti bahwa meskipun angka pertumbuhan ekonomi mungkin terlihat stabil, manfaatnya tidak dirasakan merata oleh masyarakat.
Dampaknya terasa pada terbatasnya akses terhadap infrastruktur berkualitas, pendidikan, hingga perlindungan sosial. Hal ini menciptakan tekanan pada mobilitas sosial, di mana masyarakat merasa semakin sulit untuk meningkatkan taraf hidupnya.
"Lemah dan tidak meratanya penciptaan lapangan kerja, serta persepsi bahwa mobilitas sosial stagnan, menjadi faktor utama pendorong tergerusnya kepercayaan sosial," tulis laporan WEF yang dikutip pada Senin (19/1/2026).
Frustrasi ekonomi ini diprediksi akan memicu ketegangan sosial yang lebih dalam. Muncul narasi “Rakyat versus Elite” sebagai bentuk kekecewaan terhadap tata kelola tradisional yang dianggap tidak inklusif.
Tak hanya itu, Kecerdasan Buatan (AI) muncul sebagai "pedang bermata dua" yang masuk dalam tiga besar risiko utama di Indonesia. Tanpa regulasi yang kuat dan peningkatan keterampilan tenaga kerja, AI justru berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi, mengganggu stabilitas pasar kerja secara masif dan memicu perlambatan ekonomi (economic downturn) dan inflasi.
Laporan ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan pelaku industri bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup jika tidak disertai dengan pemerataan kesempatan dan kesiapan menghadapi disrupsi teknologi.
Baca Juga: MediaTek Umumkan Dimensity 9500s, Chipset Unggulan Usung Teknologi AI
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
-
Jelang Kunjungan Prabowo ke Inggris, Trah Sultan HB II Tolak Keras Kerja Sama Strategis! Ada Apa?
-
Siapa Ario Damar? Tokoh Penting Palembang yang Makamnya Kini Dikritik Usai Direvitalisasi
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
Terkini
-
Kurs Dolar AS Sudah Dijual Rp 17.000 di Bank-bank Besar
-
Banyak Butuh Uang, Pengajuan Pinjol Mulai Marak Terjadi Jelang Ramadan
-
Viral Purbaya Resmikan Pinjol Yayasan Al Mubarok, Kemenkeu Pastikan Hoaks
-
Jalur Terputus, BPH Migas dan Pertamina Punya Trik Khusus Pasok BBM di Aceh
-
Harga Cabai Mulai Berangsur Turun, Dibanderol Rp 35.000/Kg
-
Daftar Saham UMA Hari Ini 19 Januari 2026, BEI Ungkap Penyebabnya
-
Penyebab Saham BUMI Terus Turun, Harganya Ambles Berhari-hari
-
Harga Minyak Dunia Naik Tipis, Setelah AS Batal Serang Iran
-
Kenali Apa Itu Take Over KPR dan Manfaatnya untuk Ringankan Cicilan Rumah
-
Rupiah Semakin Merosot Nilainya, Dibuka di Level Rp 16.908