Bisnis / Makro
Selasa, 20 Januari 2026 | 09:32 WIB
mobil listrik yang memiliki pesaing di mobil bensin
Baca 10 detik
  • Kendaraan listrik murni (BEV) merupakan instrumen paling efektif menekan beban subsidi energi dalam APBN negara.
  • BEV dinilai memberikan dampak fiskal dan lingkungan lebih optimal dibandingkan kendaraan konvensional atau hybrid.
  • Peningkatan adopsi BEV kunci mengurangi konsumsi BBM bersubsidi serta mendukung agenda transisi energi nasional.

Suara.com - Kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) dinilai menjadi instrumen paling efektif untuk menekan beban subsidi energi yang selama ini membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Di tengah tren kenaikan subsidi energi, adopsi kendaraan listrik disebut dapat menjadi solusi strategis pemerintah.

Praktisi dari SDCI, Sony Susmana, menilai dibandingkan kendaraan bermesin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE) maupun Hybrid Electric Vehicle (HEV), BEV memberikan dampak fiskal yang lebih optimal.

"Dibandingkan kendaraan bermesin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE) maupun Hybrid Electric Vehicle (HEV), BEV dinilai memberikan dampak fiskal dan lingkungan yang lebih optimal," ujarnya seperti dikutip, Selasa (20/1/2026).

Ekosistem kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia tengah berada di persimpangan jalan krusial. Di tengah pertumbuhannya yang disebut bagai keajaiban, pemerintah berencana menghentikan pemberian insentif sektor ini. Desain: Syahda-Suara.com

Menurut Sony, peningkatan penggunaan kendaraan listrik murni menjadi kunci untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Selama ini, subsidi BBM masih menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar negara.

"Dengan beralih ke transportasi berbasis listrik, pemerintah dinilai memiliki ruang lebih besar untuk mengendalikan tekanan fiskal sekaligus mendukung agenda transisi energi," katanya.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan alokasi subsidi energi pada 2024 mencapai Rp 177,62 triliun, meningkat dibandingkan realisasi 2023 yang sebesar Rp 164,3 triliun.

Tren kenaikan tersebut dinilai menjadi sinyal kuat perlunya kebijakan yang mendorong pergeseran dari kendaraan berbasis fosil menuju kendaraan listrik.

"BEV memiliki potensi besar dalam menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Dalam jangka menengah hingga panjang, hal ini berdampak positif terhadap kesehatan fiskal negara," ujar Sony.

Baca Juga: Impor BBM 2026 untuk SPBU Swasta Dibuka, Kuota Siapa Paling Besar?

Selain manfaat fiskal, kendaraan listrik murni juga unggul dari sisi efisiensi energi. BEV tidak melalui proses pembakaran yang menyebabkan kehilangan energi, sehingga dinilai lebih efisien dibandingkan kendaraan konvensional maupun hybrid.

Seiring dengan pertumbuhan infrastruktur pengisian daya yang terus meningkat, kendaraan listrik murni dipandang dapat menjadi pilar utama dalam transformasi transportasi nasional.

Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada penurunan emisi, tetapi juga berperan penting dalam mengurangi beban subsidi energi yang terus membengkak.

"Dengan pertumbuhan infrastruktur pengisian daya yang terus meningkat, BEV diposisikan sebagai pilar utama dalam transformasi transportasi rendah emisi di Indonesia," pungkasnya.

Load More