- Harga emas Antam 1 gram pada Selasa, 20 Januari 2026, mencapai Rp 2.705.000, naik tipis dari hari sebelumnya.
- Harga emas dunia (XAU/USD) menguat mendekati USD 4.670 per ons akibat ketegangan geopolitik dan tarif AS terhadap Eropa.
- Prospek The Fed menahan pelonggaran moneter menopang Dolar AS, namun sentimen *safe haven* menjadi pendukung utama harga emas.
Suara.com - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Selasa, 20 Januari 2026 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 2.705.000 per gram.
Dikutip dari situs Logam Mulia,harga emas Antam itu naik tipis Rp 2.000 dibandingkan hari Senin, 19 Januari 2026.
Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 2.546.000 per gram.
Harga buyback itu juga melompat Rp 1.000 dibandingkan dengan harga buyback hari Senin kemarin.
Seperti dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam pada hari ini:
- Emas 0,5 Gram Rp 1.402.500
- Emas 1 Gram Rp 2.705.000
- Emas 2 gram Rp 5.350.000
- Emas 3 gram Rp 8.000.000
- Emas 5 gram Rp 13.300.000
- Emas 10 gram Rp 26.545.000
- Emas 25 gram Rp 66.237.000
- Emas 50 gram Rp 132.395.000
- Emas 100 gram Rp 264.712.000
- Emas 250 gram Rp 661.515.000
- Emas 500 gram Rp 1.322.820.000
- Emas 1.000 gram Rp 2.645.600.000
Perlu diingat, harga tersebut belum termasuk pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen yang tidak memiliki NPWP. Pengenaan PPh ini sesuai dengan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.
Harga Emas Dunia Terus Naik
Harga emas dunia terus bergerak menguat pada awal perdagangan Asia, Selasa, 20 Januari 2026. Logam mulia berkode XAU/USD tercatat naik tipis dan mendekati level USD 4.670 per ons, di tengah meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven akibat ketegangan geopolitik dan ekonomi global.
Dikutip dari FXStreet, emas bahkan diperkirakan berpeluang mencetak rekor tertinggi baru seiring para pelaku pasar memburu aset aman di tengah prospek ketidakpastian yang masih berlanjut.
Baca Juga: Harga Emas Antam Tembus Rp 2,7 Juta/Gram Hari Ini
Sentimen utama datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang pada Sabtu lalu menyebut akan memberlakukan tarif baru terhadap barang-barang dari delapan negara Eropa. Kebijakan tersebut ditujukan kepada negara-negara yang menolak rencana AS untuk mengakuisisi Greenland.
Negara yang terdampak tarif baru itu antara lain Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris Raya. Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran pasar akan meluasnya perang dagang global.
Situasi ini mendorong penguatan aset safe haven tradisional seperti emas. Di sisi lain, Uni Eropa (UE) juga dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah balasan berupa paket tarif senilai 93 miliar euro terhadap impor dari Amerika Serikat.
“Harga emas telah mencapai rekor tertinggi baru dalam kenaikannya yang gemilang,” ujar Kepala Strategi Investasi Wealth Club, Susannah Streeter.
Menurutnya, emas semakin diminati sebagai aset aman seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kebijakan perdagangan dan geopolitik agresif Amerika Serikat.
Dari sisi kebijakan moneter, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve AS (The Fed) akan menahan sementara siklus pelonggaran moneternya pada akhir bulan ini. Hal tersebut didorong oleh kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih relatif stabil.
Berdasarkan alat CME FedWatch, pasar saat ini hanya memperkirakan peluang hampir 5 persen untuk penurunan suku bunga The Fed pada pertemuan kebijakan Januari.
Sementara itu, analis Morgan Stanley memperbarui proyeksi mereka untuk tahun 2026 dengan memperkirakan satu kali penurunan suku bunga pada Juni dan satu kali lagi pada September. Proyeksi ini lebih lambat dibandingkan perkiraan sebelumnya yang menempatkan penurunan suku bunga pada Januari dan April.
Pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama cenderung menopang penguatan Dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi menjadi tekanan bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, meskipun sentimen safe haven masih menjadi penopang utama pergerakan harga logam mulia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
Terkini
-
Jawab Keluhan Warga Maros, Gubernur Sulsel Gelontorkan 239 Miliar di Jalan Moncongloe
-
Bukan Cuma Kualitas, Fenomena Bangku Kosong SD Negeri Bukti Gagalnya Perencanaan Pendidikan
-
3 Serum Viva yang Aman untuk Ibu Hamil, Wajah Tetap Glowing Tanpa Takut Bahayakan Janin
-
12 Shade Cushion Wardah untuk Kulit Sawo Matang, Wajah Bebas Abu-abu
-
6 Motor Baru dengan Harga Terjangkau di Indonesia: Ganteng ala Vespa, dari Hybrid hingga Listrik
-
Polda Metro Jaya Diminta Usut Dugaan Penipuan Rp3 Miliar
-
Drama Straight to Hell, Ketika Rasa Takut Seseorang Dijadikan Bisinis Gelap
-
Harta Ketua DPRD Bone Disorot, KPK: Kalau Tidak Benar Kami Tindak
-
'Bom Waktu' Bangunan Sekolah Tua di Jakarta, Pemprov Siapkan Perbaikan Bertahap
-
Singkirkan Belanda Tanpa Ampun, Italia Tantang Brasil di Semifinal VNL Putri 2026