- Isu pergantian Menteri Keuangan per 6 Juni 2026 berpotensi menambah gejolak pasar keuangan serta memperlemah nilai tukar rupiah.
- Pelemahan rupiah saat ini lebih didominasi sentimen domestik terkait keraguan investor terhadap kredibilitas pengelolaan stabilitas fiskal nasional.
- Ketidakpastian kebijakan dapat memicu arus keluar modal asing, sehingga pemerintah perlu memberikan sinyal ekonomi yang transparan dan konsisten.
Suara.com - Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berada di bawah tekanan dan mendekati level psikologis baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS), munculnya isu pergantian Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dinilai berpotensi menambah gejolak di pasar keuangan domestik.
Kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi dan stabilitas fiskal disebut menjadi faktor yang semakin menentukan pergerakan rupiah dibandingkan sentimen global.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai dampak isu pergantian Menteri Keuangan saat ini bisa lebih besar dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Menurut dia, sejak 2025 pelemahan rupiah tidak lagi didominasi faktor eksternal semata, melainkan semakin dipengaruhi sentimen domestik dan tingkat kepercayaan pasar terhadap pengelolaan ekonomi nasional.
"Isu pergantian Menteri Keuangan di tengah tekanan terhadap rupiah berpotensi memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan periode sebelumnya," kata Rizal kepasa Suara.com, Sabtu (6/6/2026).
Ia menjelaskan, faktor domestik kini menjadi kontributor utama pelemahan rupiah. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih sensitif terhadap berbagai isu yang berkaitan dengan kredibilitas pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.
"Sejak 2025 pelemahan rupiah semakin didominasi oleh faktor domestik dan sentimen pasar yang terus membesar dan menjadi kontributor utama depresiasi rupiah," ujarnya.
Rizal menambahkan, pasar saat ini lebih mencermati kepastian arah kebijakan ekonomi, keberlanjutan disiplin fiskal, serta stabilitas tata kelola keuangan negara dibandingkan faktor eksternal seperti penguatan dolar AS atau fluktuasi harga komoditas global.
Dalam situasi tersebut, isu pergantian Menteri Keuangan berpotensi memunculkan persepsi ketidakpastian baru yang dapat memengaruhi keputusan investor.
Baca Juga: Belanja Negara Capai Rp1.365,4 Triliun hingga Mei 2026, Tumbuh 34,4 Persen
"Pasar saat ini lebih sensitif terhadap isu kredibilitas kebijakan, stabilitas fiskal, dan kepastian arah ekonomi dibandingkan hanya faktor eksternal seperti penguatan dolar AS atau harga komoditas," jelasnya.
Menurut Rizal, jika isu tersebut berkembang tanpa adanya kepastian dari pemerintah, bukan tidak mungkin terjadi arus keluar modal asing (capital outflow) yang berujung pada tekanan lebih lanjut terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
"Munculnya isu pergantian Menkeu dapat memicu persepsi meningkatnya ketidakpastian kebijakan sehingga mendorong capital outflow dan memperlemah rupiah dalam jangka pendek," katanya.
Meski demikian, Indef menilai dampak negatif tersebut tidak akan berlangsung lama apabila pemerintah mampu menjaga konsistensi kebijakan ekonomi dan memberikan sinyal yang jelas kepada pelaku pasar.
Rizal menegaskan bahwa persoalan utama yang saat ini dihadapi Indonesia bukan semata-mata siapa yang menduduki posisi Menteri Keuangan, melainkan bagaimana pemerintah membangun kembali kepercayaan investor terhadap tata kelola ekonomi nasional.
"Pelemahan rupiah akibat isu pergantian tersebut tidak bersifat permanen apabila pemerintah mampu menjaga kesinambungan kebijakan fiskal dan memberikan sinyal yang kuat kepada pasar," ungkapnya.
Berita Terkait
-
Rupiah Tertahan di Rp18.018, Ketegangan Global dan UU P2SK Masih Menekan
-
Dolar AS Tembus Rp18.000, Kemenkeu, BI, dan OJK Kompak Jaga Stabilitas Pasar
-
Bertemu S&P, Purbaya Jelaskan Fondasi Ekonomi Indonesia Masih Kokoh
-
UU P2SK Resmi Disahkan DPR dan Pemerintah, Ini Rincian 17 Poin Pentingnya
-
Purbaya Bela Danantara usai Diberi Outlook Negatif dari Lembaga Internasional Moody's
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan
-
Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri
-
JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah
-
Fakta Lain Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Dua Lembaga Negara Italia Boikot
-
BBRI Direkomendasikan JPMorgan, Saham Berpotensi Reli Jangka Pendek
-
Ketika Sensasi Berburu Hadiah Instan Jadi Daya Tarik Baru Konsumen
-
Sasar Hotel Hingga Kosan, Pemkab Bogor Wajibkan Pemilik Laporkan Indikasi Penyimpangan Seksual