Bisnis / Makro
Selasa, 20 Januari 2026 | 17:21 WIB
Peneliti CORE Indonesia sekaligus Guru Besar IPB Andreas Santosa (kedua dari kanan) memperingatkan risiko kerugian negara akibat menumpuknya stok beras di Bulog. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih]
Baca 10 detik
  • Peneliti CORE Andreas Santosa menyoroti risiko kerugian negara akibat penumpukan stok beras pemerintah yang besar tanpa strategi pelepasan jelas.
  • Stok awal Bulog 3,36 juta ton; penambahan rencana hingga 7 juta ton melebihi kapasitas gudang 3 juta ton.
  • Pemerintah diminta fokus pada tata kelola stok profesional, didukung data akurat, dan membebaskan Bulog dari intervensi.

“Bukan kemudian Bulog ditimbun beras sedemikian besar, enggak tahu cara menjualnya, melepaskannya,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia meminta pemerintah memperkuat kebijakan pangan yang berbasis fakta dan data yang akurat. Ia menilai, perbaikan data dasar, prakiraan pasar, serta manajemen risiko harus menjadi pijakan utama dalam menentukan kebijakan stok pangan pemerintah.

“Jangan kebijakan berdasarkan hapalan, kepentingan pribadi, berdasarkan ego, dan lain sebagainya. Tapi berlandaskan fakta," pungkasnya.

Load More