- BDO Indonesia dan BEI menekankan integrasi standar global dalam laporan keberlanjutan untuk memenuhi kebutuhan transparansi investor global.
- Pelaporan berkelanjutan menuntut kesiapan organisasi, komitmen jangka panjang, dan disiplin dalam membangun data serta tata kelola yang akuntabel.
- Tantangan utama meliputi kualitas data, koordinasi lintas departemen, serta urgensi penerapan double materiality dan assurance laporan.
Suara.com - Investor global kini mulai melihat transparansi dan kredibilitas laporan keberlanjutan untuk berinvestasi. Maka dari itu, BDO Indonesia bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) menekankan pentingnya integrasi standar global dalam penyusunan laporan keberlanjutan perusahaan tercatat.
BEI menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kapasitas perusahaan tercatat agar mampu menyajikan informasi keberlanjutan yang konsisten dan berkualitas dari tahun ke tahun.
Upaya ini dinilai krusial, tidak hanya untuk membantu investor mengambil keputusan, tetapi juga sebagai fondasi pengelolaan kinerja, risiko, dan peluang keberlanjutan perusahaan.
Sejalan dengan itu, CEO BDO Indonesia Thano Tanubrata menegaskan bahwa laporan keberlanjutan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan kredibilitas jangka panjang perusahaan di mata investor global.
"Pelaporan keberlanjutan bukan sekadar menghasilkan satu laporan, tetapi merupakan proses yang membutuhkan kesiapan organisasi, komitmen jangka panjang, serta disiplin dalam membangun data, sistem, dan tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan," ujar Thano seperti dikutip, Senin (26/1/2026).
Associate Director MVGX, Bayu Wardanaputra, memaparkan tantangan utama yang masih dihadapi banyak perusahaan di Indonesia, mulai dari keterbatasan kualitas dan ketersediaan data, koordinasi lintas departemen, kompleksitas standar dan regulasi, hingga kesiapan sumber daya manusia.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas fungsi sejak tahap awal penyusunan laporan keberlanjutan, termasuk keterlibatan internal audit sebelum masuk ke tahap independent assurance.
Bayu juga menyoroti urgensi penerapan double materiality untuk menilai dampak finansial terhadap bisnis sekaligus dampak lingkungan dan sosial, guna meningkatkan relevansi laporan dan memitigasi risiko greenwashing.
Dari sisi assurance, Audit & Assurance Partner BDO Indonesia Julio Jayawardhani mengungkapkan bahwa tingkat adopsi asurans laporan keberlanjutan di Indonesia masih relatif rendah, meski tuntutan investor global terhadap kredibilitas ESG terus meningkat.
Baca Juga: Investor Asing Borong Saham Rp4,05 Triliun Sejak Awal Tahun
"Asurans menjadi langkah penting untuk memastikan informasi keberlanjutan disusun secara andal dan dapat diverifikasi, seiring semakin terintegrasinya pengungkapan ESG dengan laporan keuangan," katanya.
Sementara itu, anggota Dewan Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia Arie Pratama menjelaskan bahwa PSPK 1 dan PSPK 2 dirancang untuk mengintegrasikan informasi keberlanjutan ke dalam laporan informasi keuangan bertujuan umum.
Pendekatan ini memungkinkan investor menilai dampak isu keberlanjutan terhadap kinerja, risiko, dan prospek bisnis secara lebih komprehensif.
Sementara, ESG Partner BDO Indonesia Johan Sebastian menegaskan bahwa penguatan pengendalian internal menjadi kunci utama dalam meningkatkan kepercayaan investor terhadap laporan keberlanjutan.
"Data keberlanjutan harus diperlakukan sebagai aset strategis perusahaan dan didukung pengendalian internal yang kuat agar laporan tidak hanya patuh regulasi, tetapi juga relevan dan dipercaya investor," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 5 Sunscreen Jepang untuk Hempaskan Flek Hitam dan Garis Penuaan
Pilihan
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
Terkini
-
Harga Pangan Nasional Hari Ini: Beras Naik, Bawang Merah hingga Kedelai Impor Turun
-
IHSG Mulai Merangkak Naik Senin Pagi ke Level 8.967
-
Harga Perak Tembus Rekor, Analis Mulai Nyalakan Tanda Peringatan
-
Target Saham DEWA: Analis Beri Rekomendasi, Tapi Catatan BEI Respon Sebaliknya
-
IHSG Diproyeksi Rebound Hari Ini: DEWA Masuk Saham Rekomendasi, Cek Selengkapnya
-
10 Orang Terkaya di Dunia Januari 2026, Jensen Huang Resmi Masuk Jajaran
-
Janji Percepat Bangun Huntara, Menteri PU: Tak Ada Warga Aceh Tinggal di Tenda Saat Ramadan
-
Penjelasan Kelola Dana Negara Rp200 T, Tegaskan Menkeu Tertipu Bank Himbara Hoaks
-
Berita Soal Rp200 Triliun Menguap Dipastikan Hoaks, Kemenkeu dan BRI Jamin Dana Aman
-
Begini Spesifikasi Huntara di Aceh Tamiang untuk Korban Bencana