- PT Paramita Bangun Sarana Tbk optimis proyeksi pendapatan Rp1,38 triliun dan laba bersih Rp202 miliar tercapai pada 2025.
- Emiten PBSA sempat disuspensi BEI pada 21 Januari 2026 dan telah dibuka kembali dua hari setelahnya.
- Perseroan telah mencapai laba bersih Rp158 miliar hingga Q3/2025, didukung sistem manajemen proyek berbasis teknologi.
Suara.com - PT Paramita Bangun Sarana Tbk optimis proyeksi laba bersih dan pendapatan perseroan tumbuh positif pada tahun 2025.
Padahal sebelumnya, emiten dengan kode PBSA sempat kena suspensi BEI pada 21 Januari 2026. Namun, telah dibuka kembali pada 23 Januari 2026.
Dalam hal ini, Direktur Utama PT Paramita Bangun Sarana Tbk, Vincentius Susanto mengatakan, perseroan memproyeksikan pendapatan bersih sebesar Rp1,38 triliun dan laba bersih sebesar Rp202 miliar.
“Secara informal kami menyatakan, pendapatan kami itu hampir mencapai yang kami proyeksikan. Demikian juga laba, laba kami proyeksikan Rp202 miliar sampai Q3/2025 kami sudah mencapai Rp158 miliar, jadi hampir mencapai target,” jelas Vincentius dalam acara paparan publik secara virtual, Selasa (27/1/2026).
Dia menekankan, perseroan optimistis laba bersih akan melewati target, sebab kinerja laba bersih di kuartal III/2026 sudah menembus Rp158 miliar.
Sehingga peluang realisasi laba bersih perseroan akan berada di atas Rp200 miliar atau melebihi target.
“Artinya kalau kami komparasi annualizedangka ini, sebetulnya harusnya kami bisa mencapai target di 2025. Tiga perempatnya [kuartal] Rp158 miliar, 100 persennya [tahunan] artinya Rp500 miliar,” bebernya.
Dia menambahkan, juga optimisme di tahun 2026 bukan tanpa landasan. Perusahaan telah mengimplementasikan sistem manajemen proyek berbasis teknologi untuk menekan pemborosan biaya (cost efficiency) dan memastikan ketepatan waktu pengerjaan.
”Fokus kami di 2026 adalah memberikan nilai maksimal bagi pemegang saham melalui eksekusi proyek yang presisi dan pemilihan portofolio yang lebih beragam,” ujar perwakilan manajemen dalam paparan publik tersebut," tandasnya.
Baca Juga: Proyek Internet Rakyat Besutan Emiten Milik Hashim Mulai Uji Coba
Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar PBSA menembus Rp7,08 triliun, dengan volume transaksi sebanyak 6,90 juta saham. Nilai transaksi pada sesi pertama mencapai Rp15,99 miliar. Saham PBSA juga telah diperdagangkan sebanyak 1.199 kali.
Tag
Berita Terkait
-
Pemerintah Pangkas Nikel Nasional, Harga Diprediksi Terus Menguat Awal 2026
-
IHSG Cetak Rekor ke Level 9.000, BEI: Kepercayaan Investor Makin Kuat
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Rekomendasi Saham-saham Hari Ini saat IHSG Diguyur Dana Jumbo Investor Asing
Terpopuler
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi Mobil Kecil untuk Wanita, Harga Mulai Rp80 Jutaan
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
Pilihan
-
Pertamina Mau Batasi Pembelian LPG 3 Kg, Satu Keluarga 10 Tabung/Bulan
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
-
Purbaya Hadapi Tantangan Kegagalan Mencari Utang Baru
-
5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
Terkini
-
Setelah Pengumuman MSCI, IHSG Longsor 6 Persen ke Level 8.393
-
Wabah Penyakit Superflu Bakal Buat Klaim Asuransi Kesehatan Naik
-
Askrindo Pertahankan Sertifikasi Anti Suap
-
Dua Bank Sudah Bangkrut Sepanjang 2026, Terbaru PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR)
-
Rekomendasi Saham-saham IHSG Hari Ini saat Dibayangi Aksi Profit Taking
-
LPS: 15,3 Juta Jiwa Penduduk Usia Produktif Belum Punya Rekening
-
Harga Emas Turun, di Pegadaian Hari Ini Jadi Lebih Murah
-
Jelang Ramadan, Pemerintah Petakan 7 Komoditas Paling Rawan Picu Inflasi
-
Profil Anthony Salim: Konglomerat Salim Group, 'Penguasa' Semua Sektor di Indonesia
-
Alternatif Emas Selain Antam yang Terpercaya dan Tempat Membelinya