- Indonesia diproyeksikan menjadi pasar digital terbesar Asia Tenggara pada 2030 senilai 600 miliar Dolar AS.
- Tokopedia dan TikTok Shop perkuat ekosistem konektivitas penjual, konten kreator, dan konsumen selama 2025.
- Kedua platform memperketat kepatuhan akun dan produk, serta mendukung UMKM lokal menembus pasar Asia Tenggara.
Suara.com - Indonesia diproyeksikan menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara pada 2030 dengan potensi 600 miliar Dolar AS atau sekitar Rp 10 ribu triliun. Pertumbuhan ekonomi digital diperkirakan menyumbang 8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Berangkat dari situ, Tokopedia dan TikTok Shop gencar menjadi penghubung antara konsumen, penjual, dan affiliate content creator melalui konten serta interaksi komunitas. Sebab perilaku belanja masyarakat kini beralih ke era discovery e-commerce.
Executive Director of Tokopedia and TikTok E-commerce Indonesia, Stephanie Susilo mengatakan kalau 2025 menjadi tahun pertumbuhan dan konektivitas Tokopedia dan TikTok Shop, di mana mereka makin memperkuat perannya sebagai ekosistem yang menghubungkan jutaan penjual.
"Melalui koneksi yang makin erat ini, kami terus mendukung para pelaku usaha lokal di Indonesia agar dapat berkembang secara berkelanjutan dan menjangkau pasar yang lebih luas," katanya dalam siaran pers, dikutip Rabu (28/1/2026).
Para pelaku usaha di Tokopedia dan TikTok Shop juga didukung oleh puluhan juta affiliate content creator yang berperan aktif dalam membantu penjual memperluas jangkauan serta membangun kepercayaan konsumen melalui konten kreatif dan rekomendasi yang relevan.
Stephanie menyebut, pertumbuhan berkelanjutan di Tokopedia dan TikTok Shop tidak lepas dari rasa aman dan kepercayaan pengguna, baik pembeli maupun penjual.
Karena itu, kedua platform secara konsisten menghadirkan pengalaman #BelanjaAman bagi konsumen, sekaligus #JualanNyaman bagi penjual agar dapat menjalankan usaha dengan lebih percaya diri di ekosistem digital yang terpercaya.
Sepanjang Januari hingga Juni 2025, Stephanie mengatakan Tokopedia dan TikTok Shop telah menyaring lebih dari 250.000 pengajuan akun penjual yang belum memenuhi standar kepatuhan, serta melakukan peninjauan terhadap belasan juta produk sebelum ditayangkan. Ini meningkat rata-rata 506,8 persen dibandingkan enam bulan sebelumnya.
"Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas layanan, melindungi konsumen, dan memastikan praktik perdagangan yang adil di platform sehingga pengalaman #BelanjaAman dan #JualanNyaman dapat tercipta," jelas Stephanie.
Baca Juga: Purbaya Tunda Pajak E-commerce di 2026, Takut Daya Beli Jeblok
Selain menyaring penjual dan menegakkan kebijakan, Tokopedia dan TikTok Shop meningkatkan kesadaran penjual akan perlindungan hak kekayaan intelektual (KI) lewat edukasi, berkolaborasi bersama Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) sejak 2025 agar lebih banyak penjual bisa menjadi pemilik sah atas KI-nya dan dapat #JualanNyaman.
Penjual yang memiliki KI, termasuk UMKM, dapat bergabung di ekosistem ‘Mall’, yang menjamin produk 100% asli, gratis ongkir, dan retur 15 hari. Jumlah penjual 'Mall' di TikTok Shop naik empat kali lipat.
Sejumlah di antaranya mencatat pertumbuhan tertinggi transaksi rata-rata lebih dari 15 kali lipat, dan daftar merek dengan peningkatan tertinggi transaksi ini didominasi oleh brand lokal termasuk UMKM.
Tidak hanya mendukung brand dan UMKM lokal bertumbuh pesat di dalam negeri, TikTok Shop by Tokopedia juga menghadirkan inisiatif #LokalMendunia sejak tahun lalu.
Ini adalah upaya nyata untuk memberdayakan brand lokal Indonesia agar mampu memperluas jangkauan bisnis ke Asia Tenggara. Melalui pemanfaatan ekosistem regional TikTok Shop, #LokalMendunia membuka akses ke pasar utama seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, dan Filipina.
Dalam program ini, brand dibekali pembelajaran terstruktur, aktivitas berbasis misi, serta pendampingan yang dirancang untuk menguji potensi pasar, memperkuat kesiapan operasional, dan memahami karakter serta preferensi konsumen di setiap negara tujuan.
Berita Terkait
-
Purbaya Tunda Pajak E-commerce di 2026, Takut Daya Beli Jeblok
-
KSSK Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,4 Persen
-
Kisah Ibu Cholifah: Dari Warung Sederhana, Percaya Diri Bantu Ekonomi Keluarga
-
Hampir Semua Pasar di Kabupaten/Kota 3 Provinsi Terdampak Bencana Telah Operasional Melayani Pembeli
-
Menperin Agus: Manufaktur Pecah Rekor 14 Tahun, Tumbuh 5,58 Persen Lampaui Ekonomi Nasional
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Polisi Tutup Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya
-
Sword of Justice Rilis Season 1.3.1 ke Game, Update PVE Raid Baru hingga Hadiah Eksklusif
-
realme C100 Series Bawa Baterai Monster 8000mAh dan AI Gemini, Siap Cetak 'Champion' Masa Depan!
-
Tantangan Adopsi Toyota Hilux Listrik Bagi Pengusaha Akibat Selisih Harga
-
Viral Isu Bank Asing Tarik Dana Rp11,5 Triliun dari Indonesia, Ini Faktanya
-
Dua Aksi Demo Digelar di Jakarta Pusat Hari Ini, 415 Personel Gabungan Disiagakan
-
BUMN Kini Tak Boleh Bisnis Semaunya Sendiri, Harus Satu Arah yang Sama
-
Possession Semu Berujung Petaka, John Herdman Evaluasi Total Pertahanan Timnas Indonesia
-
Haier H100M96GUX Dobrak Pasar High-End: QD-MiniLED, Audio KEF, dan Refresh Rate 240Hz!
-
Skema Potong Komisi Langsung Dinilai Bikin Pendapatan Ojol Lebih Transparan