- Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengeluarkan keputusan yang mengejutkan pelaku pasar di Tanah Air.
- Pada sesi II perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG terpantau anjlok hingga 8% ke level 8.261,78.
- Saham-saham milik konglomerat besar yang selama ini menjadi penopang indeks justru menjadi sasaran utama aksi jual hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB).
Suara.com - Pasar modal Indonesia mengalami salah satu hari tergelapnya pada awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas hingga menyentuh ambang batas psikologis yang mengkhawatirkan.
Bukan sekadar koreksi biasa, pasar saham domestik dipaksa bertekuk lutut setelah organisasi indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengeluarkan keputusan yang mengejutkan pelaku pasar di Tanah Air..
Pada sesi II perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG terpantau anjlok hingga 8% ke level 8.261,78. Skala kepanikan yang masif ini memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah ekstrem dengan memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit demi meredam volatilitas yang liar.
Pemicu utama tsunami merah di papan perdagangan ini adalah pengumuman kebijakan MSCI yang membekukan perlakuan indeks bagi saham-saham asal Indonesia. Alasan di balik langkah tersebut sangat krusial dan menyerang jantung kepercayaan investor: keraguan atas transparansi free float (porsi saham yang beredar di publik) serta aksesibilitas pasar.
Keputusan MSCI ini bak petir di siang bolong bagi para pengelola dana. Mengingat mayoritas manajer investasi global menggunakan MSCI sebagai acuan utama (benchmark) portofolio mereka, pembekuan ini memicu aliran modal keluar (outflow) secara masif. Para investor asing berbondong-bondong melepas kepemilikan mereka sebelum risiko likuiditas semakin memburuk. Tekanan jual yang brutal sudah terasa sejak Sesi I dengan pelemahan 7,58%, hingga akhirnya menyentuh limit 8% di sesi berikutnya.
Koreksi tajam ini tidak pandu bulu. Saham-saham milik konglomerat besar yang selama ini menjadi penopang indeks justru menjadi sasaran utama aksi jual hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB).
1. Grup Barito (Prajogo Pangestu)
Gurita bisnis orang terkaya di Indonesia ini mengalami pendarahan hebat. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merosot 14,81% ke Rp2.300, disusul raksasa energi terbarukan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang turun 14,47% ke Rp8.125. Anak usaha lainnya seperti PT Petrosea Tbk (PTRO) terjun 14,87%, sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan lini petrokimia TPIA serta CDIA turut terkoreksi dalam di kisaran 8% hingga 15%.
2. Grup Bakrie & Sinar Mas
Baca Juga: MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
Lini bisnis Grup Bakrie tak luput dari aksi cuci gudang. Saham komoditas andalan seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) ambrol hampir 15%. Hal serupa menimpa PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas yang anjlok maksimal 15% ke level Rp98.600 per lembar saham.
3. Grup Agung Sedayu & Emtek
Saham properti yang tengah naik daun, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) milik duo raksasa properti, terperosok 14,89% ke Rp9.575. Di sektor media dan teknologi, Grup Emtek juga merana; EMTK melemah 13,94% dan SCMA turun 10,53%.
4. Hapsoro, Haji Isam, hingga Hashim Djojohadikusumo
Tekanan jual juga merembet ke saham-saham yang terafiliasi dengan nama-nama besar lainnya. Saham terkait Hapsoro seperti PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) ambruk 15%. Demikian pula dengan emiten milik "Sultan Kalimantan" Haji Isam, di mana PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) loyo belasan persen. Tak ketinggalan, saham yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo, PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), tercatat ambles 14,98%.
Analis menilai bahwa "sentilan" dari MSCI ini merupakan teguran keras bagi regulator dan emiten di Indonesia. Isu free float memang telah lama menjadi sorotan, di mana struktur kepemilikan yang terkonsentrasi pada segelintir pengendali seringkali dianggap mengurangi kedalaman pasar dan transparansi harga.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- Resmi Gabung Persib, Bojan Hodak Ungkap Jadwal Latihan Kurzawa dan Kedatangan Markx
Pilihan
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
-
IHSG Anjlok Hampir 8 Persen Gegara MSCI, BEI: Kita Melakukan Segala Effort
-
IHSG Anjlok 7 Persen Usai MSCI Soroti Transparansi dan Likuiditas Saham RI, BEI Buka Suara
-
IHSG Ambruk Hampir 8 Persen
Terkini
-
Kronologi Thomas Djiwandono Masuk BI: Dari Bendahara Gerindra, Wamenkeu, hingga Deputi Gubernur
-
Beda dengan IHSG, Rupiah Justru Berjaya
-
IHSG Terperosok 7,35 Persen, 787 Saham Merah
-
Anggaran Belum Ada, Pencairan TPG Guru dan Dosen di Bawah Kemenag Terancam Tertunda
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Danantara Mau Ambil Alih Tambang Milik Agincourt, Sudah Izin Grup Astra?
-
Danantara Akui Akan Alihkan Tambang Emas Martabe dari PTAR ke BUMN Perminas
-
Pasar Minyak Rabu: Brent Turun, WTI Merangkak Naik
-
Saham-saham Emiten Tambang Rontok Massal
-
Tak Semua Minyak Dalam Negeri Bisa Diolah, Ahok: Peningkatan Impor Bukan Penyimpangan