- IRGC Iran mengancam akan memburu Netanyahu sebagai balasan langsung atas perang berkelanjutan dengan Israel dan Amerika Serikat.
- Menteri Luar Negeri Iran mengusulkan pembentukan komite bersama tetangga untuk menyelidiki kerusakan fasilitas sipil di Teluk.
- Pakar menilai serangan AS di Isfahan berfokus pada kehancuran maksimal tanpa tujuan akhir politik yang jelas bagi Washington.
Suara.com - Situasi di Timur Tengah semakin kritis seiring dengan meningkatnya ancaman langsung dari Iran terhadap petinggi Israel.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi menyatakan tekadnya untuk memburu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai bagian dari respons atas perang yang sedang berlangsung dengan Israel dan Amerika Serikat.
"Jika penjahat pembunuh anak-anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh," tegas pernyataan IRGC sebagaimana dikutip oleh media-media Iran.
Di tengah meningkatnya eskalasi, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berupaya meredam narasi negatif dengan menegaskan bahwa Teheran tidak pernah menargetkan kawasan permukiman atau fasilitas sipil.
Ia bahkan mengusulkan pembentukan komite bersama dengan negara-negara tetangga untuk menginvestigasi pihak yang sebenarnya bertanggung jawab atas serangan-serangan yang merusak fasilitas sipil dan energi di kawasan Teluk.
Melalui kanal Telegram resminya, Araghchi mengungkapkan bahwa Iran tengah melakukan komunikasi intensif dengan negara-negara Teluk.
Ia menyambut baik inisiatif apa pun yang dapat menghentikan perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran.
Sebelumnya, negara-negara Teluk telah mendesak Iran untuk segera menghentikan serangan di wilayah mereka, mengingat dampaknya telah merusak infrastruktur energi dan lingkungan warga.
Kritik Pakar: "Kehancuran Maksimal" Tanpa Endgame Politik
Baca Juga: Drone Murah Iran Shahed-136 Berhasil Bikin AS dan Israel Pusing Karena Boros Biaya Amunisi
Sementara itu, serangan udara AS ke Isfahan—yang dikenal sebagai jantung industri Iran—memicu kritik keras dari pakar studi perang di King’s College London, Samir Puri.
Menurut Puri, kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini terkesan hanya memiliki satu target tunggal: kehancuran maksimal terhadap kapasitas militer dan industri Iran.
"Serangan tersebut memberi tahu kita bahwa AS sebenarnya tidak memiliki strategi lain selain penghancuran maksimal kemampuan industri dan militer Iran," ujar Puri dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Puri menilai bahwa meskipun serangan ini mungkin dianggap sebagai kebutuhan strategis bagi Israel, dampaknya bagi Amerika Serikat justru sangat merugikan dalam jangka panjang. Ia menekankan pentingnya perbedaan antara taktik militer dan tujuan akhir politik (political endgame).
"Ini sangat sulit untuk melihat bagaimana AS bisa keluar dari konflik ini dengan hasil yang layak setelah berminggu-minggu menghancurkan kapasitas industri Iran," tambahnya, dikutip dari Al Jazeera.
Puri memperingatkan bahwa kehancuran total di Iran akan menjadi masalah besar bagi Trump. Sebagai penjamin utama keamanan negara-negara Teluk, kredibilitas AS justru akan terancam.
Berita Terkait
-
Pasukan Khusus Iran Target Bunuh Benjamin Netanyahu, Sampai Lihat Bukti Mayatnya
-
Film A Separation: Hadirkan Drama Perceraian dan Dilema Etis yang Tajam!
-
Habis Isu Meninggal, Kini Viral Video Benjamin Netanyahu Punya 6 Jari
-
Media Iran Yakin Benjamin Netanyahu Sudah Meninggal Dunia, Video Ini Jadi Bukti
-
Lagi! Rudal Kiamat Iran Bikin Israel Hancur Lebur di Kota Ramla
Terpopuler
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 5 Rekomendasi Parfum di Indomaret yang Tahan Lama untuk Salat Id
Pilihan
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
Terkini
-
IHSG Amblas 5,91 Persen Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut ke Rp12.678 Triliun
-
Pelindo Optimistis Sambut 2026, Kunjungan Kapal Pesiar Tembus 215 Call pada 2025
-
Selama Masa Angkutan Lebaran 2026, Pelindo Pastikan Layanan Maksimal dan Beroperasi Penuh
-
Emiten Pembayaran Digital CASH Mau Right Issue 996,6 Juta Saham
-
Vietjet Buka Rute Baru Jakarta-Da Nang
-
Masih Dibanderol USD 69.000, Begini Ramalan Harga Bitcoin
-
Riset: 26,7% Peminjam Pindar Gunakan Dana untuk Modal Usaha
-
Emiten Klinik PRDA Raup Laba Bersih Rp 207 Miliar Sepanjang 2025
-
Ancaman PHK Mengintai Jika Aturan Nikotin dan Tar Rokok Diperketat
-
Arus Mudik Mulai Terasa, Lalu Lintas di Tol MBZ Naik 25 Persen