Bisnis / Makro
Senin, 09 Februari 2026 | 08:51 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Foto Rina-Suara.com
Baca 10 detik
  • IHSG ditutup melemah 2,08% Jumat lalu, namun investor asing mencatatkan pembelian bersih Rp775 miliar pada saham komoditas dan big caps.
  • Analis memproyeksikan IHSG berpotensi menguat terbatas, namun harus menembus level resisten kritis di angka 8.050 untuk menghindari koreksi lanjutan.
  • Bursa Wall Street bangkit signifikan pada Jumat, ditandai kenaikan indeks besar, meskipun bursa Asia-Pasifik sebagian besar mengalami pelemahan.

Rekomendasi Mandiri Sekuritas:

UNVR, BRIS, dan SCMA

Sentimen Global: Wall Street Bangkit dari Keterpurukan

Angin segar datang dari bursa Amerika Serikat. Wall Street mencatatkan lonjakan signifikan pada penutupan Jumat (6/2), berhasil rebound setelah tertekan hebat di sektor teknologi.

Pemulihan ini berbarengan dengan menguatnya kembali harga Bitcoin yang sebelumnya sempat kehilangan separuh nilainya dari titik tertinggi.

Dow Jones: Melesat 2,47%

S&P 500: Naik 1,97%

Nasdaq: Menguat 2,18%

Saham raksasa teknologi seperti Nvidia melonjak hampir 8%, sementara Broadcom naik 7%. Namun, tekanan masih menyelimuti Amazon yang merosot lebih dari 5% akibat laporan laba yang di bawah ekspektasi serta rencana belanja modal jumbo sebesar US$200 miliar.

Baca Juga: IHSG Loyo ke Level 7.935 Pekan Ini, Investor Asing Masih 'Buang Barang' Rp11 Triliun

Berbeda dengan Wall Street yang mengakhiri pekan dengan ceria, bursa Asia-Pasifik cenderung memerah pada perdagangan Jumat lalu.

Indeks Kospi Korea Selatan sempat jatuh 1,44% akibat kekhawatiran disrupsi AI, sementara ASX 200 Australia terkoreksi 2,03%.

Sentimen negatif di Asia juga dipicu oleh data tenaga kerja AS yang menunjukkan lonjakan angka pemutusan hubungan kerja (layoff) sepanjang Januari ke level tertinggi dalam 17 tahun terakhir.

Hal ini meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas ekonomi global yang dapat berdampak pada selera risiko investor di pasar negara berkembang termasuk Indonesia.


DISCLAIMER: Analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan merujuk pada kajian sekuritas per Februari 2026. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga yang tinggi. Seluruh keputusan jual atau beli merupakan tanggung jawab pribadi investor. Pastikan Anda melakukan riset mandiri dan memahami profil risiko sebelum bertransaksi di bursa efek.

Load More