Bisnis / Energi
Senin, 16 Februari 2026 | 16:11 WIB
Sebanyak 24 perusahaan, tiga di antaranya dari Prancis, China dan Jepang - lolos tender proyek Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). [Antara]
Baca 10 detik
  • Sebanyak 24 perusahaan, termasuk tiga dari Jepang, Prancis, dan Tiongkok, lolos tender proyek PSEL dan wajib membentuk konsorsium.
  • Danantara Indonesia mengharapkan konsorsium pemenang tender memprioritaskan transfer teknologi ke pihak lokal di empat wilayah.
  • Tiga perusahaan asing tersebut memiliki rekam jejak signifikan dalam pengelolaan limbah energi (WtE) secara global dan di Indonesia.

Di Singapura, MHIECE mengelola proyek TuasOne Waste-to-Energy Plant senilai 750 juta dolar Singapura, yang kini menjadi referensi internasional, termasuk bagi Indonesia.

Selain itu, MHIECE mengembangkan proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai, Tiongkok, yang merupakan salah satu fasilitas WtE terbesar di dunia dengan nilai investasi 11 miliar yen. Fasilitas di Shanghai tersebut mampu mengolah 6.000 ton sampah per hari untuk menghasilkan daya listrik sebesar 144 megawatt.

Di Jepang, MHIECE menyepakati kontrak baru pada 2025 untuk optimasi efisiensi energi di pusat insinerasi Kanazawa dan Miyazaki. Fasilitas di Kanazawa mampu mengonversi 250 ton sampah per hari menjadi daya listrik sebesar 3 MW.

Sementara itu, di Indonesia, teknologi MHIECE telah diimplementasikan sejak 2019 melalui kolaborasi dengan PLN Nusantara Power di TPST Bantargebang. Fasilitas PLTSa tersebut mengolah 100 ton sampah untuk menghasilkan listrik sebesar 750 kW per jam yang digunakan sebagai penerangan area sekitar.

Metode WtE yang dilakukan MHIECE di lebih dari 300 pabrik seluruh dunia adalah dengan mesin pembakaran atau insinerator tingkat tinggi yang mampu membakar lumpur limbah dengan berbagai berat.

Load More