- Prabowo targetkan RoA Danantara 7% setelah sukses efisiensi 4 kali lipat dari 2024.
- Danantara pangkas potensi kerugian anak usaha BUMN yang mencapai Rp50 triliun per tahun.
- Strategi utama fokus pada merger, restrukturisasi utang Karya, dan penutupan entitas non-inti.
Suara.com - Presiden Prabowo Subianto memberikan tantangan besar bagi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Tak tanggung-tanggung, Kepala Negara menuntut tingkat imbal hasil aset atau return on asset (RoA) lembaga pengelola investasi tersebut mencapai angka 7 persen.
Permintaan ini disampaikan Presiden Prabowo dalam gelaran Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026). Meski Danantara baru efektif berjalan sekitar lima bulan, Prabowo memberikan apresiasi tinggi atas langkah reformasi yang telah dilakukan.
“Ini luar biasa, tapi harus dikejar. Saya menuntut return on asset 7 persen lah,” tegas Prabowo di hadapan para pelaku ekonomi.
Prabowo menilai kinerja awal Danantara menunjukkan tren positif. Lembaga ini dianggap berhasil melakukan efisiensi dengan capaian empat kali lipat dibandingkan tahun 2024. Menanggapi target tersebut, Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani menyatakan kesiapannya untuk memenuhi ekspektasi Presiden.
Sebelumnya, Danantara telah bergerak cepat melakukan konsolidasi guna menekan potensi kerugian di lingkungan anak usaha BUMN yang ditaksir mencapai puluhan triliun rupiah per tahun.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa inefisiensi berasal dari kerugian langsung dan tidak langsung akibat struktur usaha yang berlapis (layering transaction).
“Kerugian langsung anak usaha BUMN sekitar Rp20 triliun per tahun. Sementara kerugian tidak langsung bisa menambah sekitar Rp30 triliun. Dampak keseluruhan diperkirakan berada di kisaran Rp30 triliun hingga Rp50 triliun,” jelas Dony.
Untuk menutup lubang tersebut, Danantara menjalankan langkah-langkah strategis dengan melakukan konsolidasi anak usaha BUMN yang tumpang tindih, melakukan penyelesaian proyek krusial, mulai dari sektor gula, Krakatau Steel, hingga restrukturisasi maskapai Garuda Indonesia dan Citilink dan melakukan penyesuaian nilai aset (impairment), pengurangan entitas non-inti (non-core), serta penurunan beban utang secara bertahap.
Tahun ini, fokus Danantara akan diarahkan pada penurunan utang BUMN Karya lebih lanjut guna memastikan struktur keuangan negara semakin sehat dan kompetitif.
Baca Juga: Prabowo Ngaku Tahu Dalang yang Jelek-jelekan Indonesia: We Are Not Stupid
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
Terkini
-
CORE Sebut Penurunan Harga LNG Tekan Risiko PHK, Namun Bukan Solusi Tunggal
-
Harga Emas Anjlok Parah, Rekor Terburuk Sejak 2008
-
Purbaya Akui Belum Terima Usulan Kemenhub soal Anggaran Flyover Kereta Api Rp 4 Triliun
-
Tren Remitansi Digital Kian Dilirik, Ini Deret Keunggulannya
-
Polemik Revisi UU Hak Cipta: Nasib Musisi, UMKM Hingga Jurnalis Dipertaruhkan
-
Ekonomi Sirkular Dinilai Bisa Ciptakan Peluang Usaha Baru, Industri Didorong Perbanyak Daur Ulang
-
IHSG Jadi Bursa Kinerja Terburuk Global, Aksi Jual Saham Perbankan Tekan Perdagangan
-
BUMI Ambles Terus-terusan, Segini Target Harga Sahamnya
-
ICW Soroti Business Judgment Rule Danantara: Jadi Solusi atau Masalah Baru?
-
IHSG Terus-terusan Anjlok ke Level 5.671 Hingga Sesi I, BBCA Masih Merah