Bisnis / Makro
Jum'at, 13 Februari 2026 | 16:32 WIB
CEO Danantara Rosan Roeslani dan Presiden Prabowo Subianto. Presiden menuntut tingkat imbal hasil aset atau return on asset (RoA) lembaga pengelola investasi tersebut mencapai angka 7 persen. Foto Instagram Pribadi Rosan Roeslani.
Baca 10 detik
  • Prabowo targetkan RoA Danantara 7% setelah sukses efisiensi 4 kali lipat dari 2024.
  • Danantara pangkas potensi kerugian anak usaha BUMN yang mencapai Rp50 triliun per tahun.
  • Strategi utama fokus pada merger, restrukturisasi utang Karya, dan penutupan entitas non-inti.

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto memberikan tantangan besar bagi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Tak tanggung-tanggung, Kepala Negara menuntut tingkat imbal hasil aset atau return on asset (RoA) lembaga pengelola investasi tersebut mencapai angka 7 persen.

Permintaan ini disampaikan Presiden Prabowo dalam gelaran Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026). Meski Danantara baru efektif berjalan sekitar lima bulan, Prabowo memberikan apresiasi tinggi atas langkah reformasi yang telah dilakukan.

“Ini luar biasa, tapi harus dikejar. Saya menuntut return on asset 7 persen lah,” tegas Prabowo di hadapan para pelaku ekonomi.

Prabowo menilai kinerja awal Danantara menunjukkan tren positif. Lembaga ini dianggap berhasil melakukan efisiensi dengan capaian empat kali lipat dibandingkan tahun 2024. Menanggapi target tersebut, Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani menyatakan kesiapannya untuk memenuhi ekspektasi Presiden.

Sebelumnya, Danantara telah bergerak cepat melakukan konsolidasi guna menekan potensi kerugian di lingkungan anak usaha BUMN yang ditaksir mencapai puluhan triliun rupiah per tahun.

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa inefisiensi berasal dari kerugian langsung dan tidak langsung akibat struktur usaha yang berlapis (layering transaction).

“Kerugian langsung anak usaha BUMN sekitar Rp20 triliun per tahun. Sementara kerugian tidak langsung bisa menambah sekitar Rp30 triliun. Dampak keseluruhan diperkirakan berada di kisaran Rp30 triliun hingga Rp50 triliun,” jelas Dony.

Untuk menutup lubang tersebut, Danantara menjalankan langkah-langkah strategis dengan melakukan konsolidasi anak usaha BUMN yang tumpang tindih, melakukan penyelesaian proyek krusial, mulai dari sektor gula, Krakatau Steel, hingga restrukturisasi maskapai Garuda Indonesia dan Citilink dan melakukan penyesuaian nilai aset (impairment), pengurangan entitas non-inti (non-core), serta penurunan beban utang secara bertahap.

Tahun ini, fokus Danantara akan diarahkan pada penurunan utang BUMN Karya lebih lanjut guna memastikan struktur keuangan negara semakin sehat dan kompetitif.

Baca Juga: Prabowo Ngaku Tahu Dalang yang Jelek-jelekan Indonesia: We Are Not Stupid

Load More