Bisnis / Energi
Rabu, 18 Februari 2026 | 11:33 WIB
Bumi Resources Minerals
Baca 10 detik
  • Satgas PKH menyegel satu titik lahan di Palu, Sulawesi, terkait penambangan liar tanpa izin di area kontrak karya CPM.
  • Penyegelan ini dipastikan tidak mengganggu operasional tambang emas River Reef yang sedang berjalan normal di Poboya, Palu.
  • CPM sedang meningkatkan kapasitas pemrosesan emas menjadi 2000 ton per hari, ditargetkan selesai Oktober 2026.

Suara.com - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengakui salah satu lahannya telah disegel. Lantaran, pemerintah yang diwakili oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) telah menyegel satu titik area di Palu Sulawesi.

Penyegelan ini dilakukan karena ditemukan adanya pembukaan lahan tanpa izin di kawasan hutan oleh para penambang liar.

Area yang disegel tersebut merupakan bagian dari kontrak karya yang dikelola oleh PT Citra Palu Minerals (CPM) di Palu, Sulawesi, yang sampai saat ini masih belum ditambang dan dioperasikan oleh CPM.

"Area yang disegel tersebut merupakan bagian dari kontrak karya yang dikelola oleh PT Citra Palu Minerals (CPM) di Palu, Sulawesi, yang sampai saat ini masih belum ditambang dan dioperasikan oleh CPM,"kata Direktur Utama & CEO BRMS Agoes Projosasmito dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Namun, penyegalan ini tidak akan mengganggu operasional perusahaan. Bahkan, salah satu fasilitas pemrosesan emas CPM saat ini sedang ditingkatkan kapasitas produksinya dari 500 menjadi 2000 ton bijih per hari.

"Lokasi tambang emas River Reef di Poboya, Palu yang saat ini sedang dioperasikan oleh CPM melalui metode penambangan terbuka (open pit mining) sampai saat ini tetap bejalan normal seperti biasa," katanya.

Peningkatan kapasitas pabrik tersebut diharapkan dapat diselesaikan di bulan Oktober 2026. Hal ini akan berdampak terhadap kenaikan produksi emas BRMS di tahun 2026.

CPM juga menargetkan untuk dapat mulai mengoperasikan tambang emas bawah tanahnya di semester kedua tahun 2027.

“Mengingat tambang emas bawah tanah tersebut memiliki kandungan emas di kisaran 3,5 -4,9 g/t, maka diharapkan produksi emas BRMS akan meningkat lagi di akhir tahun 2027 / awal 2028,” tegasnya.

Baca Juga: Izin Tambang Emas Martabe Belum Dicabut, KLH Pastikan Gugatan ke PTAR Terus Berjalan

Load More