Bisnis / Energi
Rabu, 18 Februari 2026 | 10:31 WIB
RMK Energy (RMKE)
Baca 10 detik
  • PT RMK Energy Tbk mencatatkan lonjakan signifikan pada awal 2026, melampaui ekspektasi industri batu bara saat low season.
  • Optimalisasi hauling road baru mendorong volume jasa pengangkutan melonjak 9,26 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Kinerja didukung oleh klien baru dan strategi integrasi vertikal yang memberikan hak opsi pembelian hasil produksi mitra.

Suara.com - PT RMK Energy Tbk (RMKE) mengawali tahun buku 2026 dengan pencapaian operasional yang melampaui ekspektasi pasar.

Meskipun periode awal tahun secara historis merupakan masa low season bagi industri pertambangan—akibat proses administratif RKAB dan kendala cuaca—emiten penyedia jasa logistik batu bara terintegrasi ini justru mencatatkan lonjakan volume yang signifikan, baik di segmen jasa pengangkutan maupun perdagangan (trading).

Pilar utama kesuksesan ini bersumber dari optimalisasi infrastruktur baru. Volume pengangkutan melalui jalur darat (hauling road) tercatat meroket hingga 9,26 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Awal tahun 2026, volume jasa melalui hauling road menyentuh angka 167,5 ribu ton. Angka ini merupakan lompatan besar dari posisi Januari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 16,3 ribu ton saat jalur tersebut baru mulai beroperasi.

Keberadaan jalan angkut ini menjadi kunci bagi perseroan dalam mempercepat proses pemuatan ke kapal tongkang.

Secara kumulatif, RMKE berhasil mengirimkan 703 ribu ton batu bara ke kapal tongkang sepanjang Januari 2026. Realisasi ini jauh melampaui rata-rata historis pengapalan bulanan perseroan dalam lima tahun terakhir yang berada di angka 450 ribu ton.

Daftar Kontributor Utama Kinerja Operasional:

  1. Klien Baru: Kontribusi masif dari tiga perusahaan tambang, yakni PT Wiraduta Sejahtera Langgeng (WSL), PT Duta Bara Utama (DBU), dan PT Menambang Muara Enim (MME).
  2. Segmen Penjualan: Penjualan batu bara tumbuh fantastis 4 kali lipat menjadi 513,6 ribu ton secara tahunan (year-on-year).

Integrasi dan Opsi Pembelian Strategis

Kekuatan RMK Energy terletak pada model bisnis yang terintegrasi secara vertikal. Perseroan tidak hanya menyediakan jasa logistik, tetapi juga membangun akses kereta api menuju tambang-tambang potensial di Sumatera Selatan.

Baca Juga: BEI Rombak Total Aturan Main Usai Tabir Gelap Saham RI Dibongkar MSCI

Sebagai imbal balik dari pembangunan akses tersebut, RMKE memiliki hak opsi untuk membeli hasil produksi dari tambang mitra.

Strategi ini memungkinkan perseroan meningkatkan volume trading dengan biaya logistik yang efisien karena menggunakan infrastruktur milik sendiri.

"Kami meyakini volume jasa baru via hauling road menjadi penopang utama kinerja operasional perseroan saat ini," tegas Vincent Saputra, Direktur Utama RMK Energy, dalam keterangannya di Jakarta.

Menuju Rekor Baru di 2026

Meskipun laporan keuangan audit tahun 2025 masih dalam tahap finalisasi, manajemen memberikan gambaran optimis melalui data in-house. Tren perbaikan kinerja terlihat sangat konsisten, terutama sejak kuartal keempat 2025.

Berdasarkan data internal, laba bersih pada kuartal IV-2025 saja tercatat setara dengan akumulasi laba tiga kuartal sebelumnya, yakni di kisaran Rp105 miliar dengan pendapatan mencapai Rp1,1 triliun.

Dengan modal performa awal tahun yang solid, manajemen optimistis target keuangan 2026 dapat tercapai.

Faktor Risiko yang Diwaspadai:

  • Kondisi Cuaca: Tingginya curah hujan yang menyebabkan volume air Sungai Musi meningkat dapat menghambat distribusi kapal tongkang.
  • Fluktuasi Harga Komoditas: Dinamika harga batu bara global yang memengaruhi minat produksi penambang.

"Dengan berlanjutnya perbaikan kinerja operasional positif awal tahun ini, kami makin optimistis untuk mencapai target operasional dan keuangan tahun ini," tutup Vincent.


DISCLAIMER: Artikel ini disusun berdasarkan data kinerja operasional PT RMK Energy Tbk (RMKE) per Januari 2026. Informasi keuangan yang disebutkan merujuk pada data laporan internal perseroan yang belum diaudit sepenuhnya. Investasi pada saham sektor energi memiliki risiko volatilitas tinggi terkait harga komoditas dan kondisi operasional lapangan. Pembaca diharapkan melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat investasi sebelum mengambil keputusan keuangan.

Load More