- Kredit melambat karena faktor permintaan dan sikap wait and see pelaku usaha.
- Undisbursed loan naik ke 10,22%, bukti dana bank tersedia tapi belum ditarik.
- Penurunan kredit dipicu lesunya sektor manufaktur, pertanian, dan perdagangan.
Suara.com - Melambatnya pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia belakangan ini dinilai bukan disebabkan oleh seretnya pasokan dana atau likuiditas. Sebaliknya, fenomena ini lebih dipicu oleh faktor permintaan (demand) yang lesu serta sikap pelaku usaha yang cenderung menunggu momentum atau wait and see.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi mengungkapkan, data survei Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya penurunan signifikan pada permintaan kredit baru di hampir seluruh segmen.
"Perlambatan ini lebih banyak disebabkan oleh faktor demand. Likuiditas perbankan sebenarnya tersedia, tetapi pemanfaatannya belum optimal," ujar Hery dalam sebuah webinar, Kamis (19/2/2026).
Hery merinci, penurunan paling tajam terjadi pada segmen kredit konsumsi yang anjlok dari 62,9 persen menjadi 13,4 persen. Sementara itu, kredit UMKM juga mengalami moderasi dari 78,4 persen ke level 58,8 persen.
Indikasi melimpahnya likuiditas yang tak terpakai tercermin dari angka undisbursed loan atau kredit yang sudah disetujui namun belum ditarik oleh debitur, yang justru merangkak naik ke posisi 10,22 persen.
"Artinya, ada sikap wait and see dari dunia usaha maupun rumah tangga. Tantangannya bukan pada supply dana, melainkan pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan," tegasnya.
Hery juga menyoroti tantangan lain berupa kenaikan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang mulai menanjak sejak Desember 2024. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa arus kas (cash flow) para pelaku UMKM belum pulih sepenuhnya.
Kombinasi antara melemahnya pertumbuhan kredit dan kenaikan risiko ini membuat perbankan kini jauh lebih selektif dan mengedepankan mitigasi risiko yang ketat.
"Ekspansi UMKM tetap penting, tetapi harus berbasis pada ekosistem cash flow yang memiliki visibility lebih baik serta early warning system yang lebih kuat," imbuh Hery.
Baca Juga: Philippe Coutinho Putus Kontrak dengan Vasco da Gama Usai Dicemooh Suporter, Minat ke Liga 1?
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa loyonya penyaluran kredit berkaitan erat dengan perlambatan di tiga sektor utama penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), yakni manufaktur, pertanian, dan perdagangan. Mengingat ketiga sektor ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, kelesuan di sana berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional.
"Yang dibutuhkan bukan sekadar tambahan likuiditas, tetapi penguatan kepercayaan agar pelaku usaha kembali berekspansi," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Menkeu Purbaya Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Ramadan
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Murka ke Wasit Majed Al-Shamrani, Bojan Hodak: Kita Akan Lihat!
-
Warga Boyolali Gugat Gelar Pahlawan Soeharto, Gara-gara Ganti Rugi Waduk Kedungombo Belum Dibayar
-
Persib Bandung Gugur di AFC Champions League Meski Menang Tipis Lawan Ratchaburi FC
-
KPK akan Dalami Dugaan Gratifikasi Jet Pribadi Menag dari Ketum Hanura OSO
-
7 Fakta Viral Warga Sumsel di Kamboja, Mengaku Dijual dan Minta Pulang ke Palembang
Terkini
-
IHSG Tiba-tiba Merosot di Sesi Pertama Kembali ke Level 8.200, Ini Pemicunya
-
Ormat Technologies: Pendirinya Orang Israel, Punya Gurita Bisnis di Indonesia
-
Lowongan Kerja BPJS Kesehatan untuk Semua Jurusan, Deadline 28 Februari
-
Harga Bitcoin Makin Sulit Tembus Level USD 70.000, Ini Penyebabnya
-
Perkuat Sistem Kelistrikan Aceh Selatan, PLN Operasikan SUTT dan GI 150 kV Blangpidie - Tapak Tuan
-
Bank RI yang Bangkrut di 2026 Makin Banyak, Ini Daftarnya
-
Ramalan Ekonomi 2026: Dunia Makin 'Gila', Prediksi Bisa Zonk dalam Semalam
-
Lima Dekade IPA Convex: Momentum, Kolaborasi, dan Masa Depan Energi Indonesia
-
BEEF Garap Proyek MBG, Siap Impor 2 Juta Sapi untuk Pasokan Susu
-
Cerita Mantan Tentara Jerman Banting Setir jadi Pengusaha Properti di RI