- Ormat Technologies, berbasis di AS, adalah pionir energi terbarukan global dengan fokus pada panas bumi sejak didirikan di Israel tahun 1965.
- Perusahaan ini menguasai rantai nilai penuh dan memiliki kapasitas terpasang sekitar 3.400 MW di berbagai negara, termasuk Indonesia.
- Kepemilikan saham institusional didominasi oleh BlackRock dan Vanguard, sementara manufaktur utama tetap berada di Yavne, Israel.
Suara.com - PT Ormat Geothermal Indonesia yang memegang sejumlah proyek energi di Indonesia merupakan bagian integral dari Ormat Technologies, Inc., sebuah korporasi energi terbarukan multinasional yang berbasis di Reno, Nevada, Amerika Serikat.
Dengan rekam jejak lebih dari 50 tahun, Ormat telah memantapkan posisinya sebagai pionir dalam pengembangan, manufaktur, dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) serta pemulihan energi buangan (Recovered Energy Generation/REG).
Sebagai perusahaan publik yang terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE: ORA) dan Tel Aviv Stock Exchange (TASE), Ormat menguasai seluruh rantai nilai bisnis, mulai dari eksplorasi sumber daya hingga manajemen aset pembangkit secara mandiri.
Perjalanan Ormat dimulai pada tahun 1965 di Yavne, Israel, oleh pasangan insinyur Lucien Y. Bronicki dan Yehudit "Dita" Bronicki.
Awalnya bernama Ormat Turbines Ltd., perusahaan ini berfokus pada turbin surya berbasis teknologi Organic Rankine Cycle (ORC).
- 1966: Memasang unit ORC surya pertama di Mali untuk pompa air.
- Era 70-an: Memasok unit pembangkit untuk infrastruktur pipa minyak di Alaska yang masih beroperasi hingga kini.
- Era 80-an & 90-an: Bertransformasi menjadi kontraktor turnkey dan operator pembangkit. Membangun unit komersial pertama di AS (Wabuska) dan kompleks Olkaria III di Kenya.
- Inovasi: Mengantongi lebih dari 100 paten, termasuk teknologi Geothermal Combined Cycle Plant yang sangat efisien.
Kepemilikan dan Pemegang Saham Utama
Memasuki awal 2026, struktur kepemilikan saham Ormat Technologies didominasi oleh institusi keuangan raksasa global. Hal ini menunjukkan kepercayaan pasar modal internasional terhadap keberlanjutan bisnis energi bersih perusahaan.
Berikut adalah daftar pemegang saham institusional utama berdasarkan data terbaru:
Investor Institusi
Baca Juga: Pep Guardiola Diserang Komunitas Yahudi Manchester Usai Bela Palestina dan Genosida di Gaza
Estimasi Kepemilikan
- BlackRock, Inc. ~14,67%
- Vanguard Group Inc ~9,85%
- State Street Corporation ~3,96%
- Clal Insurance Enterprises Holdings Ltd ~3,57%
- Global Alpha Capital Management Ltd.~2,83%
Selain itu, aset Ormat juga menjadi komponen penting dalam berbagai Reksa Dana dan ETF global, seperti iShares Russell 2000 ETF dan iShares Global Clean Energy Transition UCITS ETF.
Inti dari keunggulan perusahaan terletak pada Ormat Energy Converter (OEC), teknologi yang mampu mengubah panas suhu rendah hingga tinggi menjadi listrik secara maksimal. Hingga saat ini, jejak langkah Ormat meliputi:
- Total Kapasitas Terpasang: Mencapai sekitar 3.400 MW di seluruh dunia.
- Portofolio Mandiri: Mengoperasikan sekitar 1,5 GW aset (1,2 GW geothermal & surya, 290 MW penyimpanan energi).
- Jangkauan Wilayah: Beroperasi di Amerika Serikat, Kenya, Guatemala, Honduras, Guadeloupe, dan Indonesia.
Di Indonesia, keterlibatan Ormat yang paling menonjol adalah pada proyek Sarulla 330 MW di Sumatera Utara, yang merupakan salah satu kompleks panas bumi terbesar di dunia.
Melalui akuisisi Viridity Energy, perusahaan kini aktif mengoperasikan proyek penyimpanan baterai skala besar di wilayah strategis seperti Texas (Rabbit Hill) dan California (Pomona).
Meskipun kantor pusatnya berada di Amerika Serikat, Ormat mempertahankan hubungan sejarah dan teknis yang kuat dengan Israel.
Berita Terkait
-
Lewat Sepucuk Surat Ini, Menteri Bahlil Menangkan Perusahaan Israel Garap Tambang RI
-
ESDM Izinkan Afiliasi Israel Kelola Geothermal Halmahera
-
Geger! Trump Disebut Siap Dukung Serangan Militer Israel ke Iran Jika Negosiasi Gagal
-
Geger Data Militer Israel, 1 Tentara IDF Disebut Berstatus WNI di Tengah 50 Ribu Personel Asing
-
Israel Masuk Dewan Perdamaian Trump, Koalisi Desak Indonesia Mundur dari BoP
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Impor Barang Modal RI Melonjak 34 Persen
-
Laba Bersih Melonjak 79 Persen, Seabank Bakal Luncurkan Debit Card Tahun Ini
-
Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 1,27 Miliar, Apa Saja Faktor Pendukungnya
-
Harga Cabai Rawit dan Beras Naik, Daging Sapi Turun Harga
-
Pembatasan BBM Berpotensi Bikin Harga Kebutuhan Pokok Naik
-
Penyebab Iran Tak Jalin Kerjasama Kilang Minyak dengan Indonesia Meski Kaya SDA
-
Harga Emas Pegadaian Minggu 5 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Bakal Naik?
-
Profil PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), Emiten Fasilitas Batu Bara Milik Haji Isam
-
Pasokan Sulfur Macet: Konflik Timur Tengah Ancam Naikkan Harga Baterai EV Hingga Pupuk RI
-
Mengurai Efek Domino Perang AS-Israel Vs Iran terhadap Perdagangan RI