- Bitcoin (BTC) turun 2,5% dalam 24 jam menjadi US$ 66.200 akibat risalah FOMC hawkish The Fed.
- Risalah FOMC Januari mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga, memicu penguatan Dolar AS dan koreksi kripto.
- Penurunan lima minggu berturut-turut ini menguji support kritis Bitcoin di level harga US$ 66.000.
Suara.com - Aset kripto terbesar, Bitcoin (BTC), mencatatkan penurunan sebesar 2,5% dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Saat ini, BTC bertengger di level US$ 66.200, melorot cukup jauh dari posisi sebelumnya yang sempat menyentuh angka US$ 68.500.
Melansir laporan Coindesk, meskipun Bitcoin sempat menunjukkan performa kuat di awal hari, tren positif tersebut justru berbalik arah secara mendadak. Penurunan tajam ini tidak hanya menimpa Bitcoin, tetapi juga menjalar ke hampir seluruh sektor aset digital lainnya.
Koreksi harga di pasar kripto terjadi beriringan dengan melandainya bursa saham Amerika Serikat menjelang penutupan pasar.
Sentimen negatif ini dipicu oleh rilis risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dari bank sentral AS, Federal Reserve, untuk edisi Januari.
Secara mengejutkan, risalah tersebut bernada sangat hawkish. Meskipun mayoritas pejabat bank sentral sepakat untuk menunda pemotongan suku bunga, kejutan besar muncul lewat pernyataan bahwa The Fed tidak menutup kemungkinan untuk kembali menaikkan suku bunga apabila angka inflasi tetap membandel di level tinggi.
Dampaknya, indeks Dolar AS (DXY) langsung melesat ke level tertingginya dalam dua pekan terakhir.
Dalam korelasi pasar yang lazim, penguatan Dolar AS cenderung menekan performa aset berisiko seperti kripto, dan fenomena yang terjadi pada Rabu hingga Kamis ini mengonfirmasi pola tersebut.
Bitcoin Hadapi Ujian Terburuk Sejak 2022
Secara teknikal, penurunan ini menandai rapor merah bagi Bitcoin yang telah mencatatkan kerugian selama lima minggu berturut-turut. Rentetan penurunan mingguan ini merupakan yang terburuk sejak fase pasar bearish berkepanjangan pada tahun 2022 silam.
Baca Juga: XRP Tertekan di Bawah 2 Dolar AS, Harga Bakal Makin Turun?
Saat ini, Bitcoin berada pada titik kritis. Level US$ 66.000 kini menjadi area dukungan (support) krusial yang diuji oleh pasar.
Skenario Optimis: Minggu lalu, level ini berhasil bertahan dan menjadi pijakan bagi BTC untuk melesat di atas US$ 70.000.
Skenario Pesimis: Jika level US$ 66.000 ini gagal bertahan dan ditembus secara signifikan, para pelaku pasar diprediksi akan mulai mewaspadai penurunan lebih lanjut menuju level terendah awal Februari di kisaran US$ 60.000.
Sentimen pasar saat ini sangat bergantung pada data makroekonomi AS. Jika inflasi ke depan tidak menunjukkan tanda-tanda pendinginan, tekanan pada Bitcoin kemungkinan akan bertahan lebih lama seiring dengan menguatnya narasi suku bunga tinggi (high for longer).
Para investor disarankan untuk memantau volume perdagangan di area support saat ini untuk melihat apakah ada aksi beli yang cukup kuat untuk menahan kejatuhan lebih dalam.
DISCLAIMER: Investasi pada aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC), memiliki risiko volatilitas harga yang sangat tinggi. Pergerakan harga dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi, kebijakan moneter, dan sentimen pasar global. Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan berita, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi finansial untuk membeli atau menjual aset digital tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor secara pribadi. Selalu lakukan riset mendalam atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum melakukan transaksi di pasar kripto.
Berita Terkait
-
Harga Bitcoin dan Kurs Dolar AS Mulai Berseberangan, Anomali Tahun Ini Berlanjut?
-
Harvard Borong Ethereum Rp1,4 Triliun, Pasar Kripto Kembali Bergairah
-
Bitcoin Terjepit di Level USD 67.000, Bearish Mengintai
-
Harga Bitcoin Optimis Kembali ke Level USD 90.000 Usai Terperosok ke USD 61.000
-
Bitcoin Kembali ke Level USD 70.000: Akumulasi Nyata atau Jebakan Bull Trap?
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Panen Raya Jadi Bukti! Teknologi Benih Dongkrak Produktivitas Jagung
-
OJK Tutup 36.191 Rekening Judi Online, Perbankan Diminta Perketat Pengawasan
-
Kementerian PU Jelaskan Kunker Menteri Dody dan Keluarga ke New York Jelang Final Piala Dunia
-
Sebanyak 81 BPR Akan Digabung Menjadi 24 hingga Juni 2026
-
Danantara Lebur 4 BUMN Manajer Investasi
-
Ribut-ribut Soal Skema Bagasi Pesawat, Mana yang Lebih Baik?
-
Tiga Perusahaan RI Tersandung Sengketa Bisnis sama Malaysia, Kapal-kapal Ditahan
-
Transaksi Kripto Naik di Mei 2026
-
Investor Serok Borong BBCA, Jual BMRI dan TPIA di Tengah Penguatan IHSG
-
Purbaya: Defisit APBN 2026 Diproyeksikan Membengkak