- Harga minyak naik ke level tertinggi 7 bulan akibat ketegangan militer AS-Iran.
- Pasar pantau negosiasi di Jenewa; konflik fisik berisiko lonjakan harga dunia.
- OPEC+ siapkan tambahan produksi guna redam gejolak pasokan di musim panas.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik pada perdagangan Kamis (26/2/2026). Hingga saat ini, komoditas emas hitam tersebut masih betah berada di level tertingginya dalam tujuh bulan terakhir seiring kewaspadaan investor memantau tensi panas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip data Reuters, harga minyak mentah Brent terkerek 27 sen atau 0,3 persen ke posisi USD 71,12 per barel pada pukul 08.23 WIB. Setali tiga uang, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 23 sen atau 0,4 persen menjadi USD 65,65 per barel.
Lonjakan ini merupakan kelanjutan dari tren positif sejak Senin lalu, di mana kedua kontrak mencapai titik tertinggi sejak akhir Juli. Penggerak utamanya tak lain adalah suhu politik yang mendidih setelah Washington mulai menempatkan kekuatan militer secara strategis di Timur Tengah.
Langkah militer AS di bawah komando Presiden Donald Trump bertujuan menekan Teheran agar menyerah dan kembali ke meja perundingan terkait program nuklir serta rudal balistik mereka.
"Fokus pasar saat ini adalah apakah konflik militer bisa dihindari dalam negosiasi AS-Iran," ujar Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa.
Dunia kini menantikan hasil pertemuan utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan delegasi Iran di Jenewa hari ini. Tazawa memprediksi, jika ketegangan pecah menjadi kontak fisik, harga minyak bisa meroket sementara di atas USD 70 per barel sebelum nantinya terkoreksi ke kisaran USD 60-USD 65.
Risiko terbesar adalah gangguan pasokan global, mengingat Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC.
Di sisi lain, Presiden Trump tetap pada pendirian kerasnya. Ia menegaskan tidak akan menoleransi Iran memiliki senjata nuklir dan menyebut negara tersebut sebagai penyokong terorisme. Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, memberi sinyal bahwa kesepakatan masih mungkin dicapai asalkan diplomasi jadi prioritas.
Mengantisipasi skenario terburuk, Arab Saudi dilaporkan mulai meningkatkan produksi sebagai bagian dari rencana darurat. Sementara itu, aliansi OPEC+ tengah mempertimbangkan tambahan produksi sebesar 137.000 barel per hari pada April mendatang guna meredam gejolak harga.
Baca Juga: Dari Gerakan Non Blok ke Aliansi Amerika, Indonesia Tak Lagi Bebas Aktif Gegara ART dan BoP?
Meski demikian, penguatan harga minyak sedikit tertahan oleh data pemerintah AS (EIA) yang mencatat lonjakan cadangan minyak mentah domestik sebesar 16 juta barel dalam sepekan terakhir—sebuah rekor tertinggi dalam tiga tahun yang melampaui ekspektasi pasar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Riset Danareksa: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Kuartal I, Ditopang Konsumsi Rumah Tangga
-
Telkom dan PGN Perkuat Ekosistem Green Digital Infrastructure Terintegrasi Bersama Mitra Global
-
ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen di 2026
-
Penerimaan Pajak dari MBG Cuma 3-5 Persen, Setara Rp 10,05 T hingga Rp 16,75 T
-
Toko Online Dibanjiri Produk China, Purbaya Mau Tarik Pajak E-commerce Pertengahan 2026
-
Negosiasi Buntu, Iran ke AS: Rasakan Harga Bensin Kalian!
-
Komitmen Nyata BRI Group, Sinergi Holding UMi Perkuat Fondasi Ekonomi Masyarakat
-
Purbaya Kesal Restitusi Pajak 2025 Tembus Rp 360 Triliun, Duga Ada Kebocoran
-
OJK Sebut Banyak Orang Mulai Malas Bayar Cicilan Pindar
-
Karpet Merah Family Office di Bali: Ambisi Prabowo, Warisan Luhut, dan Kiblat Abu Dhabi