Bisnis / Makro
Jum'at, 13 Februari 2026 | 18:12 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartato optimistis dalam dua tahun Indonesia akan lepas landas capai pertumbuhan ekonomi 8 persen. [Antara]
Baca 10 detik
  • Menko Perekonomian optimis Indonesia capai 8 persen pertumbuhan ekonomi dalam dua tahun melalui reformasi struktural berkelanjutan.
  • Pertumbuhan dicapai optimalisasi mesin seperti belanja, investasi, kebijakan terprediksi, dan pembukaan akses ekspor.
  • Indonesia catat pertumbuhan G20 tertinggi kedua 5,11 persen pada Q4 2025 didukung konsumsi rumah tangga solid.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis dalam dua tahun ke depan Indonesia siap lepas landas menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen, sehingga memerlukan reformasi struktural yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Seperti pesawat, kita pernah mau take off di tahun 1998 tetapi ada gangguan internasional,” kata Airlangga dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, target ini bisa dicapai dengan mengoptimalkan mesin pertumbuhan seperti belanja pemerintah dan belanja masyarakat, investasi pelaku usaha, serta peran Danantara yang harus bergerak harmonis dan saling mendukung.

Selain itu, mesin pertumbuhan juga didukung oleh kebijakan yang terprediksi dan sistem keuangan, baik bank maupun pasar finansial yang lebih dalam. Pemerintah juga mengoptimalkan kinerja ekspor seiring dengan dibukanya ekspor ke banyak negara.

“Di sektor tekstil saja, kalau kita buka semua dalam 10 tahun ke depan, diperkirakan bisa meningkat 10 kali, Pak Presiden, sehingga kesempatan kerja menjadi lebih tinggi,” kata Airlangga kepada Presiden RI Prabowo Subianto.

Dengan landasan investasi yang kuat, penyederhanaan birokrasi, serta penegakan hukum yang konsisten sebagaimana diarahkan Presiden, Airlangga meyakini Indonesia memiliki fondasi kokoh untuk mencapai fase lepas landas ekonomi.

Di tengah perlambatan global dengan pertumbuhan dunia yang stagnan, Indonesia di antara negara-negara G20 mencatat pertumbuhan tertinggi kedua pada kuartal keempat 2025 setelah India, dengan pertumbuhan tahunan (yoy) sebesar 5,11 persen.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap solid, didukung stimulus ekonomi yang tepat sasaran, stabilitas harga, serta meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode hari besar keagamaan.

Konsumsi lembaga nonprofit, investasi, dan belanja modal pemerintah juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Belanja pemerintah pada program prioritas dan stimulus ekonomi berperan menjaga permintaan domestik sekaligus menjadi penyangga terhadap risiko perlambatan.

Baca Juga: Kecaman Prabowo ke Pengusaha: Kalian Sudah Kaya, Tolong Patuhi Aturan!

Kemudian, kinerja ekspor tumbuh positif seiring peningkatan nilai dan volume. Sektor pariwisata juga tumbuh baik ditopang oleh kenaikan kunjungan wisatawan. Sektor pertanian, industri pengolahan, serta transportasi dan akomodasi turut mencatatkan kinerja yang kuat.

Airlangga menyampaikan, perkembangan ekonomi turut diiringi perbaikan indikator sosial, tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan, membaiknya rasio gini, serta turunnya tingkat pengangguran dan meningkatnya penyerapan tenaga kerja.

Ke depan, pertumbuhan ekonomi tahun 2026 ditargetkan berada pada kisaran 5,4-5,6 persen dengan fokus pada sektor pertanian, manufaktur, digital, dan energi, serta implementasi program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Tiga Juta Rumah.

“Diharapkan ini menjadi sumber pertumbuhan yang mampu menyerap tenaga kerja luas, akselerasi produktivitas dan penggerak utama pendukung pembiayaan yang non-APBN di antaranya melalui Danantara,” kata Airlangga.

Sektor keuangan, khususnya pasar modal juga diharapkan semakin berperan sebagai enabler melalui pendalaman pasar, peningkatan porsi saham publik, penguatan transparansi kepemilikan, serta perluasan ruang investasi bagi dana pensiun dan asuransi guna meningkatkan likuiditas.

Pada kesempatan yang sama, Airlangga juga melaporkan perkembangan bidang diplomasi ekonomi di mana Indonesia terus memperluas akses pasar melalui berbagai perjanjian perdagangan dan kemitraan strategis, seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA)

Kemudian, Indonesia juga membangun kerja sama dengan kawasan Eurasia, kemitraan Economic Growth Partnership (EGP) dengan Inggris, serta rencana penyelesaian kerja sama dengan Amerika Serikat (AS), guna memperkuat integrasi dan daya saing ekonomi nasional di pasar global.

Load More