- HIPMI mendorong reformasi perpajakan berkelanjutan, bukan sekadar mengejar target penerimaan jangka pendek.
- Penerimaan pajak Januari 2026 tumbuh 20,5 persen (yoy), namun optimalisasi perlu perluasan basis dan digitalisasi.
- Reformasi perpajakan harus menciptakan iklim usaha kondusif serta memperkuat struktur penerimaan jangka panjang.
Suara.com - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) melalui Banom BPP HIPMI Tax Center mendorong pemerintah melakukan reformasi perpajakan secara berkelanjutan, bukan sekadar mengejar target penerimaan jangka pendek.
Dorongan tersebut disampaikan di tengah laporan Kementerian Keuangan yang mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Januari 2026 mencapai Rp54,6 triliun, terdalam dalam lima tahun terakhir.
Ketua Banom BPP HIPMI Tax Center M. Arif Rohman menilai capaian penerimaan perpajakan Januari 2026 sebesar Rp138,9 triliun atau tumbuh 20,5 persen (yoy) menjadi sinyal positif bahwa fondasi fiskal nasional semakin kuat di awal tahun.
"Pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 30,7 persen (yoy) sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan adanya perbaikan aktivitas ekonomi sekaligus peningkatan efisiensi administrasi perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak," ujar Arif seperti dikutip Jumat (27/2/2026).
Namun demikian, menurutnya optimalisasi penerimaan negara tidak bisa hanya bertumpu pada intensifikasi atau pengetatan semata. HIPMI menekankan pentingnya reformasi struktural melalui perluasan basis pajak yang sehat, kepastian regulasi, serta digitalisasi layanan perpajakan yang memudahkan wajib pajak.
Arif menegaskan bahwa strategi peningkatan penerimaan 2026 dan seterusnya perlu mengedepankan prinsip keadilan dan keberlanjutan. Reformasi perpajakan, kata dia, harus mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan peningkatan tax ratio.
"Jadi target APBN tidak hanya tercapai secara nominal, tetapi juga mencerminkan struktur penerimaan yang lebih berkualitas dan berdaya tahan dalam jangka panjang," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak Yon Arsal mengakui bahwa upaya mencapai target penerimaan negara tahun ini menghadapi tantangan besar di tengah ketidakpastian global dan tren pertumbuhan pajak yang relatif stagnan dalam beberapa periode terakhir.
“Di sinilah pentingnya kebijakan fiskal yang representatif, yang mampu mengakomodasi kebutuhan berbagai pihak, mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai target, tanpa mengerdilkan aktivitas usaha masyarakat,” ujarnya dalam acara Seminar Nasional dan Dialog Kebijakan kerja sama Banom BPP HIPMI Tax Center dan GP Ansor di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Baca Juga: Penerimaan Pajak Naik, Nilai Tukar Rupiah Kembali Menguat pada Kamis
HIPMI memandang kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha, khususnya pelaku UMKM dan pengusaha muda, menjadi kunci untuk memperkuat struktur penerimaan negara. Dengan reformasi yang berkelanjutan dan berbasis kepastian hukum, penerimaan pajak diharapkan tidak hanya meningkat secara nominal, tetapi juga lebih stabil dan resilien menghadapi dinamika ekonomi global.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Riset Danareksa: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Kuartal I, Ditopang Konsumsi Rumah Tangga
-
Telkom dan PGN Perkuat Ekosistem Green Digital Infrastructure Terintegrasi Bersama Mitra Global
-
ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen di 2026
-
Penerimaan Pajak dari MBG Cuma 3-5 Persen, Setara Rp 10,05 T hingga Rp 16,75 T
-
Toko Online Dibanjiri Produk China, Purbaya Mau Tarik Pajak E-commerce Pertengahan 2026
-
Negosiasi Buntu, Iran ke AS: Rasakan Harga Bensin Kalian!
-
Komitmen Nyata BRI Group, Sinergi Holding UMi Perkuat Fondasi Ekonomi Masyarakat
-
Purbaya Kesal Restitusi Pajak 2025 Tembus Rp 360 Triliun, Duga Ada Kebocoran
-
OJK Sebut Banyak Orang Mulai Malas Bayar Cicilan Pindar
-
Karpet Merah Family Office di Bali: Ambisi Prabowo, Warisan Luhut, dan Kiblat Abu Dhabi