Suara.com - Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bertalu kencang di Timur Tengah meletus, pasar modal global biasanya langsung bereaksi dengan mode "panik".
Harga minyak mentah dunia yang melompat ke level psikologis baru bukan hanya menjadi beban bagi inflasi, tetapi juga menjadi momok bagi sektor-sektor yang memiliki biaya operasional tinggi.
Namun, di tengah badai volatilitas ini, tidak semua saham akan layu. Sejarah pasar modal mencatat ada beberapa sektor yang justru menjadi tempat berlindung (safe haven) atau bahkan mendapatkan durian runtuh dari kenaikan harga komoditas energi.
Meski demikian, ada sejumlah emiten yang diprediksi 'survive' di tengah ketegangan geopolitik.
1. Sektor Energi
Sektor ini adalah pilihan paling logis ketika harga minyak dunia meroket. Ketika harga minyak Brent atau WTI melonjak, margin keuntungan perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak mentah akan meningkat secara otomatis tanpa perlu menambah volume produksi secara drastis.
- Saham Eksplorasi Minyak & Gas: Perusahaan yang memiliki cadangan migas besar akan menikmati kenaikan Average Selling Price (ASP) atau harga jual rata-rata. Di Indonesia, nama-nama seperti Medco Energi (MEDC) dan Energi Mega Persada (ENRG) sering menjadi incaran saat tensi di Timur Tengah memanas.
- Saham Batu Bara sebagai Proxy: Jangan lupakan batu bara. Ketika harga minyak mahal, dunia sering kali melirik batu bara sebagai alternatif energi yang lebih murah untuk pembangkit listrik. Hal ini mendorong kenaikan harga batu bara global, yang memberikan keuntungan bagi raksasa seperti Adaro Energy (ADRO), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Bukit Asam (PTBA).
2. Sektor Konsumsi Primer (Consumer Staples)
Sektor ini disebut defensive karena sifat produknya yang merupakan kebutuhan pokok. Seberapa pun mahalnya harga BBM atau setinggi apa pun inflasi, masyarakat tetap perlu makan, mandi, dan mencuci.
Perusahaan di sektor ini memiliki kemampuan pricing power yang cukup kuat untuk meneruskan kenaikan biaya logistik kepada konsumen.
Baca Juga: Detik-detik Menegangkan Bek Korsel Dievakuasi dari Iran Usai Serangan AS-Israel Serangan AS-Israel
- Makanan dan Minuman: Emiten seperti Indofood CBP (ICBP) atau Mayora Indah (MYOR) memiliki basis konsumen yang sangat loyal.
- Kebutuhan Rumah Tangga: Meskipun tertekan biaya bahan baku plastik (turunan minyak), emiten seperti Unilever Indonesia (UNVR) atau Sumber Alfaria Trijaya (AMRT/Alfamart) tetap mampu mencatatkan arus kas yang stabil karena produk mereka dicari setiap hari.
3. Sektor Penghasil dan Pengolah Safe Haven (Emas, Perak dll)
Emas sudah sejak lama dikenal sebagai aset safe haven yang tahan terhadap guncangan ekonomi, termasuk geopolitik. di IHSG, ada beberapa emiten tambang dan pengolah emas, seperti ANTM, MDKA, ARCI, dan BRMS.
Berikut adalah daftar emiten utama yang bergerak di bidang pertambangan dan pengolahan emas:
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Produsen emas batangan terintegrasi (Logam Mulia).
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Fokus pertambangan emas dan tembaga, termasuk proyek Tujuh Bukit.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Salah satu produsen emas dan tembaga terbesar.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Mengoperasikan beberapa tambang emas.
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI): Perusahaan tambang emas dengan produksi aktif.
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB): Fokus pada eksplorasi dan produksi emas.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS): Emiten yang fokus pada pertambangan emas.
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA): Fokus pada pengolahan dan perhiasan emas (hilirisasi).
PT United Tractors Tbk (UNTR): Melalui anak usahanya, terlibat dalam pertambangan emas.
4. Sektor Telekomunikasi
Di era digital 2026, konektivitas internet telah bertransformasi menjadi kebutuhan primer setingkat dengan listrik dan air. Masyarakat mungkin akan mengurangi frekuensi makan di luar saat harga BBM naik, namun mereka sangat jarang mengurangi konsumsi kuota data atau langganan internet kabel.
Berita Terkait
-
Ayatollah Ali Khamenei Wafat, Siapa yang Pimpin Iran Saat Ini?
-
Israel Mulai Serang Lebanon, Trump Beri Sinyal Perang Jangka Panjang
-
Siapa Mojtaba Khamenei? Sosok 'Penguasa Bayangan' Calon Pengganti Ali Khamenei di Iran
-
Profil Anak hingga Cucu Ayatollah Ali Khamenei yang Dikabarkan Tewas akibat Serangan Israel
-
2 Kandidat Pengganti Iran Andai Mundur dari Piala Dunia 2026
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
Terkini
-
Harga BBM Pertamax Turbo Naik Jadi Rp 20.750/liter
-
Didukung Kemenhub, Agung Sedayu Siapkan Terminal Terpadu di PIK 2, Hubungkan MRT hingga Bandara
-
Canggihnya Ambulans Universitas Sanata Dharma, Multifungsi dan Bisa untuk Operasi Ringan
-
Harga Avtur Turun 10 Persen Mulai 1 Juni
-
Bank Indonesia Bongkar Penyebab Rupiah Terus Tertekan
-
Kemenperin Minta Kaji Ulang Kemasan Polos Produk Tembakau
-
Bisnis Logistik Ikut Kecipratan Berkah Pariwisata Bali
-
LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan hingga September 2026, Apa Efeknya?
-
Pertamax Turbo Naik, Harga BBM Pertamax Tetap Dibanderol Rp 12.300
-
Airlangga Klaim Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Ganggu Ambisi RI Jadi Raja Kendaraan Listrik