- Qatar stop produksi LNG di Ras Laffan usai serangan drone Iran.
- Harga gas Eropa melonjak 54%, tertinggi sejak krisis energi 2022.
- QatarEnergy tunda pengiriman; Selat Hormuz lumpuh akibat konflik.
Suara.com - QatarEnergy secara mengejutkan menghentikan seluruh aktivitas produksi gas alam cair (LNG) di fasilitas ekspor terbesar dunia, Ras Laffan, setelah menjadi sasaran serangan drone Iran.
Langkah ini memicu kepanikan luar biasa yang membuat harga gas di Eropa terbang hingga 54 persen.
Menukil Bloomberg, Selasa (3/3/2026) fasilitas Ras Laffan bukan sekadar pabrik biasa ia adalah "jantung" pasokan gas dunia yang menyumbang sekitar seperlima kebutuhan LNG global. Penghentian operasional yang belum pernah terjadi sebelumnya ini langsung mengancam keamanan energi internasional dan mengguncang stabilitas pasar keuangan.
"Ancaman terhadap keamanan pasokan ada di sini dan sekarang," ujar Simone Tagliapietra, analis senior di Bruegel. Menurutnya, dunia kini memasuki skenario krisis baru yang sangat bergantung pada seberapa lama penutupan ini berlangsung.
Lonjakan harga gas berjangka di Eropa kali ini merupakan yang tertinggi sejak krisis energi 2022 akibat invasi Rusia ke Ukraina. Arus pengiriman LNG dari Timur Tengah lumpuh total sejak akhir pekan karena sebagian besar kapal tanker menghindari Selat Hormuz jalur nadi utama bahan bakar global di pintu masuk Teluk Persia.
Kondisi ini menjadi mimpi buruk bagi Benua Biru. Stok gas Eropa saat ini berada di level sangat rendah, padahal mereka butuh impor besar-besaran musim panas ini untuk cadangan musim dingin. Meski belum ada laporan kerusakan fisik pada fasilitas, QatarEnergy telah menyatakan status force majeure, memberikan sinyal bahwa pengiriman kontrak kepada pelanggan akan terhambat tanpa penalti.
Di tengah kekacauan ini, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung selama berminggu-minggu. Goldman Sachs Group Inc memprediksi jika blokade Selat Hormuz bertahan selama sebulan, harga gas Eropa bisa melonjak dua kali lipat dari harga saat ini.
Situasi makin pelik setelah Israel menutup ladang gas Leviathan, yang memaksa Mesir ikut berburu kargo LNG di pasar spot. Ledakan juga dilaporkan terdengar di Arab Saudi dan UEA akibat intersepsi rudal Iran, menandakan konflik yang kian meluas.
Pada penutupan perdagangan Senin, kontrak berjangka gas Belanda (TTF) meroket 39% ke level €44,51 per megawatt-hours, angka tertinggi sejak Maret 2025. Dunia kini menahan napas, menunggu kepastian kapan keran gas Qatar kembali mengalir.
Baca Juga: Inggris, Perancis, dan Jerman Rapatkan Barisan, Siap Gempur Jantung Militer Iran Bersama AS
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Harga Emas Pegadaian Naik di Sabtu 4 Juli 2026
-
Harga Emas Antam Stabil di Sabtu 4 Juli, Tapi
-
Ekspor Indonesia Terancam Melambat, Tarif AS dan Harga Komoditas Bayangi Semester II 2026
-
Ada Risiko Downgrade IHSG Meski Tekanan Isu MSCI Mulai Reda
-
Pertamina Tepat Belum Turunkan Harga Pertamax
-
Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap
-
Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City
-
Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh
-
Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru
-
Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050