Bisnis / Keuangan
Rabu, 04 Maret 2026 | 17:32 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan rencana strategis untuk mengalihkan sumber impor minyak mentah (crude oil) dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Foto Yaumal-Suara.comMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan rencana strategis untuk mengalihkan sumber impor minyak mentah (crude oil) dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Foto Yaumal-Suara.com
Baca 10 detik
  • Menteri ESDM Bahlil menjelaskan impor bioetanol dari AS merupakan bagian dari Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (ART).
  • Impor ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mandatori pencampuran E5 tahun 2028 dan E10 tahun 2030.
  • Bioetanol impor wajib memiliki standar kemurnian 99,9 persen dan dapat digunakan industri selain BBM.

Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan terkait rencana impor bioetanol dari Amerika Serikat (AS). Pembelian produk biomassa itu menjadi salah satu poin dalam perjanjian Perjanjian Perdagangan Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan AS. 

Bahlil menyebut kewajiban impor itu untuk menambal kekurangan bioetanol dalam negeri dalam rangka penerapan mandatori  E5 pada 2028 dan E10 pada 2030. 

"Untuk etanol ini, apabila antara kebutuhan dan produksi kita berkurang. Dengan kata lain produksi kita 10, kebutuhan kita 20, 10-nya bisa impor. Dan Amerika salah satu yang bisa kita impor," ujar Bahlil saat menggelar konferensi pers di Kementerian ESDM yang dikutip pada Rabu (4/3/2026). 

Bahlil memastikan untuk bioetanol yang akan diimpor dari AS, harus memiliki kadar 99,9 persen. Hal itu menjadi penting agar tidak menjadi perdebatan. 

Ilustrasi BioEtanol produksi Pertamina (Pertamina)

"Bioetanol-nya itu harus mencapai kadar 99,9 persen. Itu standarnya. Supaya tidak terjadi debar terkait dengan untuk penggunaan BBM," katanya.

Di samping itu, Bahlil mengatakan bahwa impor bioetanol bukan hanya untuk campuran bensin, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan industri lainnya seperti kosmetik. 

"Dia (etanol) juga bisa dipakai untuk kosmetik, bisa juga dipakai untuk bahan-bahan industri. Dan itu kan tergantung dari spesifikasi pabrik dan kebutuhan industri apa yang mereka akan pakai," ujarnya. 

Sebagaimana diketahui dalam  dokumen perjanjian dagang dengan AS, Indonesia diharuskan mengimpor etanol lebih dari 1.000 metrik ton (1 juta kg) setiap tahunnya. 

Jika dikonversi ke dalam satuan volume standar, 1 juta kilogram etanol ini setara dengan sekitar 1,2 juta liter per tahun, tapi tergantung suhu dan kemurnian.

Baca Juga: Mentan Amran: Impor Beras Amerika untuk Makanan Turis, Bukan Konsumsi Umum

Load More