- Harga minyak dunia tembus USD 100/barel akibat perang AS-Israel vs Iran.
- Bahlil jamin harga BBM subsidi tidak naik hingga Lebaran usai.
- Stok aman, namun harga minyak dunia hantam beban APBN.
Suara.com - Beban berat membayangi kantong rakyat di tengah gejolak geopolitik global yang kian memanas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, akhirnya buka suara menanggapi lonjakan harga minyak dunia yang kini secara resmi telah menjebol angka psikologis USD 100 per barel pada perdagangan Senin (9/3/2026).
Meski pasar energi sedang "kebakaran", Bahlil justru menebar janji manis. Ia menegaskan bahwa pemerintah menjamin tidak akan ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, setidaknya hingga masa Lebaran usai. Sebuah pernyataan yang dinilai banyak pihak hanya sebagai peredam tensi sosial sesaat di tengah ancaman inflasi yang nyata.
Bahlil berkilah bahwa meroketnya harga emas hitam ini merupakan ekses langsung dari eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Ia mengakui, saat ini masalah utama yang menghantui kabinet bukan lagi soal ketersediaan pasokan, melainkan harganya yang sudah tidak masuk akal.
"Problemnya kita sekarang bukan di stok, stok enggak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di harga. Nah kita lagi akan me-exercise untuk melakukan langkah-langkah yang komprehensif," ujar Bahlil dengan nada defensif saat ditemui di kantornya, Senin (9/3/2026).
Namun, retorika "langkah komprehensif" tersebut masih sumir. Publik justru khawatir pemerintah hanya sekadar menunda bom waktu yang bisa meledak kapan saja setelah musim mudik berakhir. Alih-alih memberikan solusi konkret untuk menekan ketergantungan impor, Bahlil hanya meminta masyarakat untuk tetap tenang.
"Tapi sekali lagi, saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga. Karena sampai dengan Hari Raya ini, Insya Allah enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi," tegasnya.
Mengingat harga minyak mentah di perdagangan Asia sudah bertengger di atas USD 100 per barel, ruang fiskal APBN dipastikan bakal babak belur. Jika harga dunia terus "terbang" dan pemerintah hanya mengandalkan skema subsidi yang kian bengkak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara
-
7 Hari Menuju Ambang Batas: Trump di Ujung Tanduk, Kongres Beri 'Cek Kosong' Perang?
-
Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital
-
Babak Akhir Utang 'Whoosh', RI Siap Sodorkan Skema Restrukturisasi ke China
-
Pemerintah Gunakan Cara Baru Pantau BBM Subsidi Agar Tak Bocor
-
Pengguna Aktif GoPay Tembus 26 Juta
-
Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret
-
Pegang 42 Persen Cadangan Dunia, Nikel Masih Jadi 'Raja' Investasi Hilirisasi RI
-
Jumlah BUMN Dipangkas Jadi Hanya 300, Begini Klaster-klasternya
-
Pemerintah Diminta Tak Wajibkan Penggunaan Dolar AS untuk Transaksi Batu Bara DMO