Bisnis / Keuangan
Senin, 09 Maret 2026 | 21:01 WIB
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]
Baca 10 detik
  • Kepala Ekonom Permata Bank memprediksi rupiah melemah karena ketidakpastian politik Iran pasca pergantian pemimpin.
  • Bank Indonesia telah melakukan stabilisasi pasar untuk meredam gejolak pelemahan rupiah akibat tekanan eksternal.
  • Cadangan devisa Indonesia yang kuat dapat menjadi bantalan, namun efektivitasnya bergantung meredanya ketegangan geopolitik global.

Ia menambahkan bahwa cadangan devisa Indonesia masih tergolong kuat, tetapi efektivitasnya akan jauh lebih besar apabila ketegangan geopolitik global mulai mereda.

Harga Minyak Berpotensi Tetap Tinggi

Selain nilai tukar, Josua juga menyoroti potensi lonjakan harga minyak dunia. Ia menilai harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi selama gangguan di Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah belum mereda.

Dalam kondisi tersebut, harga minyak berpotensi bertahan di atas 100 dolar AS per barel dan tetap bergerak sangat fluktuatif. Bahkan pasar sempat menguji kisaran harga hingga 120 dolar AS per barel.

Menurutnya, dampak konflik ini bisa berlangsung cukup lama karena pemulihan distribusi dan produksi energi tidak dapat dilakukan secara cepat.

Bagi Indonesia, dampak terhadap inflasi dalam jangka pendek kemungkinan masih relatif tertahan karena pemerintah berencana menambah subsidi energi serta belum akan menaikkan harga bahan bakar bersubsidi setidaknya hingga periode Lebaran.

Namun jika konflik berlangsung lama, tekanan biaya pada sektor transportasi, logistik, pangan, serta barang impor berpotensi meningkat.

“Namun bila konflik berkepanjangan, tekanan akhirnya akan merambat ke biaya angkutan, logistik, pangan, dan barang impor, sehingga daya beli rumah tangga melemah dan tekanan harga domestik meningkat. Risiko ini perlu diwaspadai karena inflasi Februari 2026 sudah tercatat 4,76 persen,” kata Josua.

(Antara)

Baca Juga: Tiga Kali Dikhianati? Ini Kronologi Retaknya Diplomasi ASIran

Load More