Bisnis / Ekopol
Selasa, 10 Maret 2026 | 11:38 WIB
Drone MQ-9 Reaper [TWZ]
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat menderita kerugian signifikan berupa 11 drone MQ-9 Reaper selama konflik bersenjata dengan Iran.
  • Kerugian finansial diperkirakan mencapai US$330 juta akibat hancurnya 11 unit drone andalan tersebut.
  • Drone canggih tersebut rentan karena kecepatan rendah dan desain operasional untuk area dengan pertahanan udara minim.

Suara.com - Amerika Serikat dilaporkan mengalami salah satu kerugian alat utama sistem persenjataan (alutsista) paling signifikan selama konflik bersenjata dengan Iran.

Mengutip laporan CBS News dari sumber pejabat militer AS, total sebanyak 11 unit drone MQ-9 Reaper telah hancur sejak perang pecah.

Angka kerugian ini meningkat setelah dua unit drone tambahan dilaporkan baru saja ditembak jatuh. Berdasarkan nilai per unitnya, total kerugian finansial dari hancurnya 11 pesawat tak berawak tersebut diperkirakan menembus angka US$330 juta atau setara dengan lebih dari Rp5,2 triliun (asumsi kurs Rp15.800).

MQ-9 Reaper merupakan pesawat nirawak (UAV) andalan AS yang dirancang untuk menjalankan misi intelijen, pengawasan, pengintaian (ISR), hingga operasi serangan presisi.

Sejumlah pejabat pertahanan AS mengakui bahwa meskipun canggih, drone ini memiliki kerentanan tinggi jika dioperasikan di wilayah dengan sistem pertahanan udara yang mumpuni seperti milik Iran. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

  • Desain Operasional: MQ-9 Reaper awalnya dikembangkan untuk operasi kontraterorisme di wilayah dengan sistem pertahanan udara yang minim, bukan untuk menghadapi ruang udara yang dijaga ketat oleh sistem rudal canggih.
  • Kecepatan Rendah: Drone ini hanya mampu melaju dengan kecepatan maksimal sekitar 480 km/jam. Angka ini jauh di bawah kecepatan jet tempur yang umumnya mampu melesat antara 1.900 hingga 3.000 km/jam, menjadikannya sasaran yang lebih mudah bagi sistem pertahanan lawan.

Kehilangan unit dalam jumlah besar ini memicu diskusi di kalangan pengamat militer mengenai efektivitas penggunaan drone pengintai di tengah eskalasi perang yang melibatkan teknologi pertahanan udara tingkat tinggi di Timur Tengah.

Load More