- Harga minyak dunia merosot tajam pada Selasa, 3 Maret karena pernyataan Trump tentang potensi berakhirnya konflik dengan Iran.
- Minyak Brent berjangka turun 10,5% menjadi $88,61 dan WTI turun 10% setelah isu gangguan pasokan diantisipasi.
- Pernyataan Trump mengenai Selat Hormuz dan potensi kelonggaran sanksi minyak menjadi faktor utama penurunan harga signifikan tersebut.
Suara.com - Harga minyak dunia merosot tajam pada perdagangan Selasa, 3 Maret melanjutkan tren penurunan setelah sesi yang fluktuatif.
Kondisi ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang mengisyaratkan berakhirnya konflik dengan Iran, sekaligus menyiapkan langkah-langkah untuk mengatasi gangguan pasokan minyak mentah.
Sebelumnya, harga minyak bergejolak pada Senin; sempat mencapai hingga hampir 120 dolar AS per barel sebelum akhirnya jatuh ke bawah level 90 dolar AS per barel.
Saat ini, fokus pasar tertuju pada perkembangan terbaru konflik antara AS-Israel dan Iran yang telah memasuki hari kesebelas pada Selasa ini.
Mengutip dari Investing.com, minyak Brent berjangka untuk bulan Mei turun 10,5 persen menjadi 88,61 dolar AS per barel pada pukul 22:21 ET (02:21 GMT), sementara minyak mentah West Texas Intermediate berjangka turun 10 persen menjadi 84,48 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang mengklaim bahwa berakhirnya perang dengan Iran sudah dekat, meski tanpa jadwal yang pasti.
Di sisi lain, Trump memperingatkan Iran agar tidak memblokir Selat Hormuz, yang dibalas Iran dengan menegaskan bahwa merekalah yang akan menentukan kapan perang berakhir.
Selain itu, Trump membuka peluang pemberian kelonggaran (waiver) pada penjualan minyak dari entitas yang terkena sanksi, terutama Rusia. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menekan gangguan pasokan minyak di Timur Tengah.
Harga minyak sempat melonjak hingga 119,50 dolar AS per barel pada Senin menyusul serangan AS dan Israel ke fasilitas energi Iran.
Baca Juga: Drone AS Seharga Rp5,2 Triliun Hancur di Perang Timur Tengah
Iran membalas dengan menyerang infrastruktur minyak di Timur Tengah dan kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Namun, kenaikan tersebut segera mereda setelah negara-negara ekonomi utama dunia menyiapkan rencana darurat. AS dan negara-negara G7 mempertimbangkan untuk melepaskan cadangan minyak darurat guna meredam lonjakan inflasi akibat konflik tersebut.
Meskipun sempat bergejolak, harga minyak dunia secara keseluruhan telah naik sekitar 25 persen sepanjang tahun ini akibat kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah.
Analis OCBC memperingatkan bahwa target harga di bawah 70 dolar AS per barel pada pertengahan tahun kian sulit tercapai karena risiko konflik yang menyerupai krisis energi Rusia-Ukraina tahun 2022.
"Semakin lama Selat Hormuz tetap tertutup, semakin besar volume produksi minyak yang terhenti," kata analis OCBC dalam sebuah catatan.
Berita Terkait
-
Bursa Saham AS Berbalik Menguat di Tengah Anjloknya Harga Minyak Dunia
-
Warga Gembira Sambut Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
-
Jamu Lionel Messi di Gedung Putih, Donald Trump Justru Puji Cristiano Ronaldo
-
Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Trump Singgung Perang Iran 'Selesai'
-
Harga Minyak Naik, Purbaya Klaim Utang Kereta Cepat Whoosh Tak Bebani APBN
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
BRI Dorong Inklusi Keuangan dan UMKM Lewat Teras Kapal di 4 Wilayah Kepulauan
-
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris PT Telkom
-
Borong Penghargaan HR Asia 2026, PT Pegadaian Jadi Best Company to Work For in Asia untuk ke-8 Kali
-
Dorong Kenyamanan Wisata Bali, BTN Ekspansif Dorong Bale Untuk Permudah Transaksi
-
RUPS PT Telkom Setujui Dividen Rp21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp4 Triliun
-
Hak Ekspor CPO Milik Eksportir Masih Berlaku, Tak Direbut PT DSI
-
OJK dan CFX Dorong Inovasi dan Regulasi Adaptif di Industri Aset Kripto
-
CFX Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Perkuat Literasi Aset Kripto dan Blockchain Nasional
-
IDRX: Stablecoin Rupiah Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia
-
Regulasi Kripto Sudah di Level UU, DPR Sebut Indonesia Selangkah Lebih Maju