Bisnis / Energi
Selasa, 10 Maret 2026 | 11:53 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia. [Shutterstosck]
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia merosot tajam pada Selasa, 3 Maret karena pernyataan Trump tentang potensi berakhirnya konflik dengan Iran.
  • Minyak Brent berjangka turun 10,5% menjadi $88,61 dan WTI turun 10% setelah isu gangguan pasokan diantisipasi.
  • Pernyataan Trump mengenai Selat Hormuz dan potensi kelonggaran sanksi minyak menjadi faktor utama penurunan harga signifikan tersebut.

Suara.com - Harga minyak dunia merosot tajam pada perdagangan Selasa, 3 Maret melanjutkan tren penurunan setelah sesi yang fluktuatif.

Kondisi ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang mengisyaratkan berakhirnya konflik dengan Iran, sekaligus menyiapkan langkah-langkah untuk mengatasi gangguan pasokan minyak mentah.

Sebelumnya, harga minyak bergejolak pada Senin; sempat mencapai hingga hampir 120 dolar AS per barel sebelum akhirnya jatuh ke bawah level 90 dolar AS per barel.

Saat ini, fokus pasar tertuju pada perkembangan terbaru konflik antara AS-Israel dan Iran yang telah memasuki hari kesebelas pada Selasa ini.

Mengutip dari Investing.com, minyak Brent berjangka untuk bulan Mei turun 10,5 persen menjadi 88,61 dolar AS per barel pada pukul 22:21 ET (02:21 GMT), sementara minyak mentah West Texas Intermediate berjangka turun 10 persen menjadi 84,48 dolar AS per barel.

Penurunan harga minyak dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang mengklaim bahwa berakhirnya perang dengan Iran sudah dekat, meski tanpa jadwal yang pasti.

Donald Trump [The White House]

Di sisi lain, Trump memperingatkan Iran agar tidak memblokir Selat Hormuz, yang dibalas Iran dengan menegaskan bahwa merekalah yang akan menentukan kapan perang berakhir.

Selain itu, Trump membuka peluang pemberian kelonggaran (waiver) pada penjualan minyak dari entitas yang terkena sanksi, terutama Rusia. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menekan gangguan pasokan minyak di Timur Tengah.

Harga minyak sempat melonjak hingga 119,50 dolar AS per barel pada Senin menyusul serangan AS dan Israel ke fasilitas energi Iran.

Baca Juga: Drone AS Seharga Rp5,2 Triliun Hancur di Perang Timur Tengah

Iran membalas dengan menyerang infrastruktur minyak di Timur Tengah dan kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia.

Namun, kenaikan tersebut segera mereda setelah negara-negara ekonomi utama dunia menyiapkan rencana darurat. AS dan negara-negara G7 mempertimbangkan untuk melepaskan cadangan minyak darurat guna meredam lonjakan inflasi akibat konflik tersebut.

Meskipun sempat bergejolak, harga minyak dunia secara keseluruhan telah naik sekitar 25 persen sepanjang tahun ini akibat kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah.

Analis OCBC memperingatkan bahwa target harga di bawah 70 dolar AS per barel pada pertengahan tahun kian sulit tercapai karena risiko konflik yang menyerupai krisis energi Rusia-Ukraina tahun 2022.

"Semakin lama Selat Hormuz tetap tertutup, semakin besar volume produksi minyak yang terhenti," kata analis OCBC dalam sebuah catatan.

Load More