- IKK Februari 2026 sebesar 125,2 menunjukkan optimisme konsumen Indonesia tetap kuat berdasar situasi domestik.
- Keyakinan konsumen ditopang IKE 115,9 dan ekspektasi lapangan kerja yang tetap tinggi di Februari 2026.
- Struktur ekonomi domestik kuat karena konsumsi rumah tangga 53–55% PDB menahan perlambatan ekonomi global.
Suara.com - Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai optimisme konsumen Indonesia masih terjaga karena sebagian besar masyarakat melihat kondisi ekonomi dari situasi domestik sehari-hari, bukan dari dinamika geopolitik global seperti perang.
Sebelumnya survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 tercatat berada di level optimistis (indeks >100), yakni sebesar 125,2. Artinya, keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap kuat.
Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Februari 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 115,9, lebih tinggi dibandingkan indeks bulan sebelumnya yang sebesar 115,1.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada pada level optimistis, yakni sebesar 134,4, meski lebih rendah dibandingkan indeks bulan sebelumnya yang mencapai 138,8.
Indeks keyakinan konsumen yang tetap kuat juga tercermin pada seluruh kelompok pengeluaran. Misalnya, kelompok pengeluaran Rp4 juta–Rp5 juta per bulan naik ke level 125,5, yang menandakan masyarakat tetap melakukan belanja karena yakin perekonomian dalam kondisi baik.
Keyakinan konsumen terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini juga tetap tinggi, baik dilihat dari sisi tingkat pendidikan maupun kelompok usia. Keyakinan masyarakat dengan pendidikan terakhir SMA terhadap ketersediaan lapangan kerja naik menjadi 107,9 per akhir Februari 2026.
Hal serupa juga terlihat pada kelompok usia 20–30 tahun yang sangat yakin terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan di dalam negeri, meski di tengah perang di Timur Tengah yang semakin memanas.
"Selama harga kebutuhan pokok relatif terkendali, aktivitas ekonomi berjalan, dan lapangan kerja masih tersedia, maka persepsi optimisme akan tetap terjaga," kata Ronny di Jakarta Selasa (10/3/2026).
Selain itu, struktur ekonomi Indonesia yang ditopang oleh konsumsi domestik juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sentimen ekonomi.
Baca Juga: Cadangan Devisa Mengkerut untuk Stabilkan Rupiah
Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga sebesar 53–55 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), perekonomian nasional dinilai relatif lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi global.
“Selama daya beli masyarakat belum terpukul terlalu dalam, sentimen konsumen biasanya tetap positif,” katanya.
Di sisi lain, Ronny menilai Indonesia memiliki beberapa keunggulan struktural dibandingkan banyak negara lain dalam menghadapi ketidakpastian global. Salah satunya adalah besarnya pasar domestik dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta orang.
"Banyak negara yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor justru sangat terpukul ketika ekonomi global melambat, sedangkan Indonesia masih memiliki buffer konsumsi domestik yang relatif kuat," terang Ronny.
Selain itu, kondisi sektor keuangan Indonesia juga dinilai cukup stabil dalam menghadapi guncangan global. Ronny menyebut sistem perbankan nasional memiliki rasio permodalan yang relatif kuat sehingga tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.
Di samping itu, Indonesia juga masih memiliki basis komoditas strategis yang menjadi penopang neraca perdagangan. Komoditas seperti nikel, batu bara, dan minyak kelapa sawit (CPO) dalam beberapa tahun terakhir berperan penting dalam menjaga surplus perdagangan Indonesia.
"Kondisi-kondisi ini memberi ruang bernapas bagi ekonomi nasional ketika terjadi tekanan global," tutup Ronny.
Berita Terkait
-
Apakah Uang Boleh Dicuci dan Disetrika? Begini Penjelasan Bank Indonesia
-
BI Catat Indeks Keyakinan Konsumen Turun pada Februari
-
Keyakinan Konsumen Mulai Loyo, Dompet Kelas Menengah Mulai Teriak!
-
Likuiditas Meningkat, Uang Primer RI Tembus Rp2.228 Triliun pada Februari 2026
-
Purbaya Pastikan BI Independen, Tak Lagi Pakai Skema Burden Sharing
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi