Bisnis / Makro
Selasa, 10 Maret 2026 | 15:04 WIB
Survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 tercatat berada di level optimistis. Foto: Pedagang melayani pembeli kue kering yang dijual di Pasar Jatinegara, Jakarta, Senin (9/3/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • IKK Februari 2026 sebesar 125,2 menunjukkan optimisme konsumen Indonesia tetap kuat berdasar situasi domestik.
  • Keyakinan konsumen ditopang IKE 115,9 dan ekspektasi lapangan kerja yang tetap tinggi di Februari 2026.
  • Struktur ekonomi domestik kuat karena konsumsi rumah tangga 53–55% PDB menahan perlambatan ekonomi global.

Suara.com - Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai optimisme konsumen Indonesia masih terjaga karena sebagian besar masyarakat melihat kondisi ekonomi dari situasi domestik sehari-hari, bukan dari dinamika geopolitik global seperti perang.

Sebelumnya survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 tercatat berada di level optimistis (indeks >100), yakni sebesar 125,2. Artinya, keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap kuat.

Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Februari 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 115,9, lebih tinggi dibandingkan indeks bulan sebelumnya yang sebesar 115,1.

Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada pada level optimistis, yakni sebesar 134,4, meski lebih rendah dibandingkan indeks bulan sebelumnya yang mencapai 138,8.

Indeks keyakinan konsumen yang tetap kuat juga tercermin pada seluruh kelompok pengeluaran. Misalnya, kelompok pengeluaran Rp4 juta–Rp5 juta per bulan naik ke level 125,5, yang menandakan masyarakat tetap melakukan belanja karena yakin perekonomian dalam kondisi baik.

Keyakinan konsumen terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini juga tetap tinggi, baik dilihat dari sisi tingkat pendidikan maupun kelompok usia. Keyakinan masyarakat dengan pendidikan terakhir SMA terhadap ketersediaan lapangan kerja naik menjadi 107,9 per akhir Februari 2026.

Hal serupa juga terlihat pada kelompok usia 20–30 tahun yang sangat yakin terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan di dalam negeri, meski di tengah perang di Timur Tengah yang semakin memanas.

"Selama harga kebutuhan pokok relatif terkendali, aktivitas ekonomi berjalan, dan lapangan kerja masih tersedia, maka persepsi optimisme akan tetap terjaga," kata Ronny di Jakarta Selasa (10/3/2026).

Selain itu, struktur ekonomi Indonesia yang ditopang oleh konsumsi domestik juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sentimen ekonomi.

Baca Juga: Cadangan Devisa Mengkerut untuk Stabilkan Rupiah

Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga sebesar 53–55 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), perekonomian nasional dinilai relatif lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi global.

“Selama daya beli masyarakat belum terpukul terlalu dalam, sentimen konsumen biasanya tetap positif,” katanya.

Di sisi lain, Ronny menilai Indonesia memiliki beberapa keunggulan struktural dibandingkan banyak negara lain dalam menghadapi ketidakpastian global. Salah satunya adalah besarnya pasar domestik dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta orang.

"Banyak negara yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor justru sangat terpukul ketika ekonomi global melambat, sedangkan Indonesia masih memiliki buffer konsumsi domestik yang relatif kuat," terang Ronny.

Selain itu, kondisi sektor keuangan Indonesia juga dinilai cukup stabil dalam menghadapi guncangan global. Ronny menyebut sistem perbankan nasional memiliki rasio permodalan yang relatif kuat sehingga tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.

Di samping itu, Indonesia juga masih memiliki basis komoditas strategis yang menjadi penopang neraca perdagangan. Komoditas seperti nikel, batu bara, dan minyak kelapa sawit (CPO) dalam beberapa tahun terakhir berperan penting dalam menjaga surplus perdagangan Indonesia.

Load More