Bisnis / Makro
Kamis, 12 Maret 2026 | 06:30 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (11/3/2026). [Screenshot YouTube Kemenkeu]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan dampak perang Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia melalui tiga jalur.
  • Jalur perdagangan terpengaruh oleh kenaikan harga minyak yang menekan neraca pembayaran Indonesia.
  • Jalur fiskal menunjukkan APBN berfungsi peredam guncangan meskipun subsidi energi berpotensi meningkat.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan sederet efek perang Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berujung pada kenaikan harga minyak, terhadap kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Menkeu Purbaya memaparkan kalau dampak perang geopolitik di Kawasan Timur Tengah itu terbagi dalam beberapa jalur, mulai dari perdagangan, pasar keuangan, hingga fiskal.

"Bagi Indonesia, dampaknya ditransmisikan melalui beberapa jalur yang harus kita waspadai," katanya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, dikutip Kamis (12/3/2026).

Di jalur perdagangan, Purbaya menerangkan kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor minyak dan gas (migas), serta menekan surplus neraca perdagangan dan neraca pembayaran.

Sedangkan di jalur pasar keuangan, ia menyebut ketidakpastian global dapat memicu capital flow, tekanan pada pasar saham, obligasi dan nilai tukar rupiah, serta dapat meningkatkan cost of fund.

Sementara dari jalur fiskal, Purbaya mengklaim kalau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berperan sebagai shock absorber atau peredam guncangan.

Namun APBN bakal menghadapi potensi kenaikan subsidi energi dan beban bunga utang di tengah peluang windfall profit dari komunitas seperti batu bara, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), hingga nikel.

"Pemerintah juga terus memantau perkembangan ini secara ketat, memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif, dan menjaga fiskal tetap prudent, agar respons kebijakan tetap terukur, guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat," jelasnya.

Baca Juga: Spanyol Tarik Permanen Dubes dari Israel, Ketegangan Diplomatik Makin Memanas

Load More