Bisnis / Ekopol
Kamis, 12 Maret 2026 | 08:58 WIB
Donald Trump. [Dok. Antara]
Baca 10 detik
  • Presiden Trump mengklaim kemenangan AS atas Iran pada rapat di Kentucky, Rabu (11/3), meski Iran menyerang Israel dan Qatar.
  • Klaim Trump ini kontras dengan laporan resmi AS sebelumnya yang hanya menyebut "penurunan signifikan" kemampuan nuklir Iran.
  • Politisi Republik menunjukkan perpecahan internal, sementara publik Amerika menolak keras kampanye militer di Timur Tengah tersebut.

Suara.com - Dalam sebuah rapat umum yang digelar di Kentucky pada Rabu (11/3) waktu setempat, Presiden Donald Trump secara mengejutkan mendeklarasikan kemenangan Amerika Serikat atas Iran.

Pernyataan ini disampaikan tepat pada hari ke-12 sejak kampanye pengeboman nonstop di Timur Tengah dimulai.

"Perang hanya akan terasa baik jika Anda menang," ujar Trump di hadapan pendukungnya di Verst Logistics, Hebron.

"Dan kita telah menang. Anda tahu, tidak ada yang suka mengatakannya terlalu dini, tapi kita menang... Sebenarnya dalam satu jam pertama saja perang ini sudah berakhir," sambung Trump dalam video yang dikutip via Mail Online.

Klaim kemenangan sepihak Trump ini muncul hanya beberapa jam setelah militer Israel melaporkan adanya serangan rudal dari wilayah Iran menuju teritori mereka.

Selain itu, laporan dari Al Jazeera melalui Kementerian Pertahanan Qatar menyebutkan bahwa Iran juga meluncurkan sembilan rudal balistik serta sejumlah drone ke arah Qatar.

Klaim ini juga memperpanjang daftar ketidakkonsistenan pesan di internal pemerintahan dan Partai Republik. Pada awal operasi gabungan AS-Israel (28/2), Trump menyebut program nuklir Iran telah "dilenyapkan".

Namun, dokumen resmi Gedung Putih beberapa bulan sebelumnya hanya menggunakan istilah "penurunan signifikan" pada kemampuan nuklir Teheran pasca-serangan musim panas lalu.

Perpecahan internal Partai Republik

Baca Juga: Dirumorkan Tewas Dibom Iran, Benjamin Netanyahu Terakhir Terlihat di Lokasi Ini

Sentimen berbeda muncul dari para politisi Republik di Kongres:

Senator Roger Marshall (Kansas): Mengakui kepada CNN bahwa ia sempat salah menilai kekuatan Iran. Sebelumnya, ia yakin Iran butuh bertahun-tahun untuk bangkit pasca-serangan di Fordow, Natanz, dan Isfahan, namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.

Senator Lindsey Graham (South Carolina): Memancing kemarahan publik setelah dalam wawancara di Fox News meminta warga Carolina Selatan mengirimkan putra-putri mereka ke medan perang di Timur Tengah.

Donald Trump dalam pidatonya yang mengklaim kemenangan lawan Iran [dilansir via Daily Mail]

Anggota Kongres Nancy Mace: Secara tegas menentang pernyataan Graham melalui unggahan di media sosial X, menyatakan ia tidak ingin mengirim warga Carolina Selatan ke dalam pusaran perang dengan Iran.

Kampanye militer terhadap Iran saat ini tercatat sangat tidak populer di mata publik Amerika Serikat, baik dari kalangan Demokrat maupun Republik.

Mayoritas penduduk AS menolak untuk mendukung agresi AS di Timur Tengah dan gelombang ini terus membesar.

Load More