- Rupiah ditutup melemah pada Selasa (3/3/2026) menjadi Rp16.872 per dolar AS, turun 0,02 persen dari hari sebelumnya.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen politik Iran-AS-Israel yang menyebabkan indeks dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan.
- Bank Indonesia didesak melakukan intervensi agar pelemahan rupiah tidak berlanjut lebih dalam dan mengurangi volatilitas.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah berbalik melemah pada penutupan hari ini. Padahal, rupiah sempat mengalami penguatan saat pembukaan pagi tadi.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Selasa (3/3/2026) ditutup Rp16.872 per dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah pun melemah 0,02 persen dibanding penutupan pada Senin (27/2/2026) yang berada di level Rp16.868 per dolar AS. Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.848 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah dikarenakan tensi politik yang terjadi antara Iran vs Amerika dan Israel. Sentimen ini membuat dolar AS mengalami rebound.
"Sentimen pasar pada umumnya masih risk off, index dolar AS masih terus naik," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, BI diminta terus melakukan intervensi rupiah agar pelemahan tidak terlalu dalam. Sebab, pelemahan mata uang Garuda ini masih berlangsung lama.
" Intervensi BI perlu dilakukan karena bakal efektif menjauhkan rupiah dari volatilitas dolar AS," jelasnya.
Sementara itu, mata uang Asia bergerak fluktuatif. Salah satunya pada, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,63 persen. Disusul, peso Filipina yang ditutup ambles 0,41 persen.
Selanjutnya, ada ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,37 persen dan dolar Taiwan yang ditutup turun 0,34 persen.
Baca Juga: Intervensi BI Manjur, Rupiah Berhasil 'Rebound' Tipis ke Rp16.861
Lalu ada dolar Singapura yang tertekan 0,16 persen. Berikutnya, won Korea Selatan yang tergelincir 0,15 persen serta yen Jepang yang melemah tipis 0,02 persen.
Sedangkan, dolar Hongkong menjadi uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah menguat 0,16 persen. Diikuti, yuan China yang terlihat naik tipis 0,11 persen terhadap the greenback pada hari ini.
Berita Terkait
-
Rupiah Loyo ke Rp16.894, Ketegangan Iran dan Spekulasi BI Rate Jadi Beban
-
Rupiah Melemah, Dolar AS Naik ke Level Rp16.922
-
Rupiah Keok Usai Libur Panjang di Level Rp 16.884/USD
-
Rupiah Dibuka Anjlok ke Level Rp16.872 Usai Libur Panjang
-
Rupiah Loyo ke Rp16.823 per Dolar AS, Cek Kurs di Mandiri, BNI, BRI, dan BCA
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
SiCepat Yakin Industri Logistik Bisa Tumbuh Dua Digit
-
Indonesia Ditinggal Investor, Singapura Jadi Bursa Saham Terbesar Asia Tenggara
-
AI Mulai Ubah Cara Anak Muda Trading Saham di Indonesia
-
Gen Z Makin Akrab dengan Paylater, Tapi Belum Disiplin Investasi
-
Siap-siap! Purbaya Mau Patuhi Perintah Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai
-
BM Emas Hadirkan Layanan Buyback Online untuk Permudah Pelanggan
-
Tugas BUMN Danantara Sumberdaya Indonesia Baru Pencatatan Ekspor
-
BTN Salurkan KPP Hampir Rp3 Triliun
-
Prabowo Minta Purbaya Ganti Pimpinan Bea Cukai, Singgung Kasus Era Orde Baru
-
Pemerintah Beri Insentif Pajak 0 Persen Bagi Eksportir SDA, Ini Syaratnya