Bisnis / Keuangan
Selasa, 17 Maret 2026 | 16:57 WIB
BI mengubah batas maksimum pembelian valas dengan menjadi 50.000 dolar AS per pelaku per bulan. Kebijakan ini berlaku mulai April mendatang di tengah ancaman krisis energi akibat konflik di Teluk Persia. [Antara]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia mengubah batas pembelian tunai dolar menjadi 50.000 dolar AS per bulan mulai April untuk stabilitas nilai tukar rupiah.
  • BI terakhir kali membatasi pembelian dolar AS pada 2022, di tengah krisis akibat wabah Covid-19.
  • Rupiah ditutup melemah pada 17 Maret 2026 meskipun BI menahan suku bunga di tengah ketegangan global.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) telah mengubah batas maksimum pembelian valas dengan menjadi 50.000 dolar AS per pelaku per bulan. Kebijakan ini berlaku mulai April mendatang di tengah ancaman krisis energi akibat konflik di Teluk Persia.

Sebelumnya BI membatasi pembelian valas sebesar 100.000 dolar AS per bulan mulai 2022 silam, di tengah krisis ekonomi akibat wabah Covid-19.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan ini untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

"Memperkuat ketentuan pelaporan Lalu Lintas Devisa (LLD) melalui penyesuaian threshold kewajiban dokumen pendukung transfer dana keluar negeri (outgoing) dalam valas dari USD100 ribu menjadi USD50 ribu yang akan mulai berlaku April 2026," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Selasa (17/3/2026).

Sedangkan, batas jual Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) ditingkatkan dari 5 juta dolar AS per transaksi menjadi 10 juta dolar AS per transaksi. Disusul batas beli dan jual swap juga ditingkatkan dari 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.

Bank Indonesia juga akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang Timur Tengah.

Rupiah terus melemah

Sementara pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (17/3/2026), nilai tukar rupiah kembali melemah. Padahal, mata uang garuda sempat menguat ke level Rp16.975 pada pembukaan tadi pagi.

Berdasarkan data Bloomberg, ditutup ke level Rp16.997 per dolar AS atau melemah 0,01 persen dibanding penutupan pada Senin (16/3/2026) yang berada di level Rp 16.998 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Purbaya Sewot: Tanya BI, Kalau Saya Ngomong Nanti Bahaya

Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.982 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah gagal menguat padahal Bank Indonesia (BI) sudah menahan suku bunganya.

"Rupiah gagal mempertahankan penguatan terhadap dolar AS setelah Gubernur BI dalam RDG BI masih terkesan dovsih dengan mengatakan bahwa ruang pelonggaran kebijakan tetap terbuka," katanya saat dihubungi Suara.com.

Kata dia, pelemahan rupiah masih akan terus berlanjut. Apalagi, belum meredanya ketegangan antara Iran vs Amerika dan Israel masih membuat rupiah tertekan.

"Posisi rupiah masih akan terus didikte dolar AS dan perang di Timur Tengah,"jelasnya.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Asia menguat. Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,38 persen. Selanjutnya ada ringgit Malaysia terkerek 0,28 persen dan won Korea Selatan naik 0,2 persen. Disusul, peso Filipina yang sudah ditutup terangkat 0,15 persen.

Load More