Bisnis / Makro
Kamis, 02 April 2026 | 18:05 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi [Suara.com/Rina A]
Baca 10 detik
  • OJK menyatakan IHSG melemah 16,91 persen pada April 2026 akibat ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
  • Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hasan Fawzi menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid meski pasar mengalami volatilitas.
  • OJK memastikan resiliensi pasar terjaga dengan nilai transaksi harian mencapai Rp20,66 triliun dan pertumbuhan industri reksa dana.

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan tanggapan resmi terkait melandainya performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan kuartal kedua tahun 2026.

OJK menilai bahwa koreksi yang terjadi pada indeks saham domestik saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik dunia dan ketidakpastian ekonomi global yang meningkat.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa dinamika pasar saham di dalam negeri belakangan ini memang menunjukkan tingkat volatilitas yang cukup tinggi.

Hal ini merupakan dampak berantai dari kondisi makro global yang sedang bergejolak.

“Pasar modal kita mengalami pergerakan yang dinamis dengan tingkat volatilitas yang meningkat. Hal ini seiring dengan tekanan geopolitik serta kondisi ekonomi domestik dan global yang masih mengalami eskalasi,” ujar Hasan saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Merujuk pada data perdagangan per 1 April 2026, IHSG bertengger di posisi 7.184,44. Angka ini mencerminkan koreksi sebesar 16,91 persen secara tahun berjalan (year to date/ytd).

Meski angka penurunan terlihat cukup signifikan, OJK menekankan bahwa fenomena "zona merah" ini tidak hanya melanda Indonesia.

Mayoritas bursa saham di kawasan regional maupun global juga mengalami tekanan serupa akibat sentimen global yang seragam.

Hasan menegaskan bahwa pelemahan ini tidak mencerminkan penurunan kualitas ekonomi nasional secara internal. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam posisi yang solid.

Baca Juga: IHSG Rebound Pagi Ini, Cek Saham yang Cuan

“Ini mencerminkan bahwa tekanan yang terjadi lebih didorong oleh dinamika eksternal, bukan semata-mata respons terhadap fundamental domestik,” tegasnya.

Indikator Likuiditas dan Transaksi Masih Bergairah

Di tengah hantaman sentimen negatif global, OJK terus memantau pergerakan pasar untuk memetakan respons para investor. Hasan memastikan bahwa daya tahan atau resiliensi pasar modal Indonesia sejauh ini masih tergolong kuat dan terjaga dengan baik.

Optimisme tersebut didasarkan pada beberapa indikator transaksi yang tetap menunjukkan aktivitas tinggi:

  • Nilai Transaksi Harian: Sepanjang bulan Maret 2026, rata-rata nilai transaksi harian tercatat menembus angka Rp20,66 triliun, menandakan minat pasar yang tetap besar.
  • Likuiditas Pasar: Kondisi likuiditas dinilai masih stabil, terlihat dari spread bid-ask yang berada di level 1,55 kali, yang dianggap cukup sehat bagi ekosistem perdagangan saham.
  • Industri Reksa Dana: Sektor ini justru menunjukkan tren positif dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) mencapai Rp695,71 triliun, atau tumbuh sebesar 3,02 persen secara year to date.

Selain itu, pasar modal tetap menjalankan fungsinya secara optimal sebagai motor pendanaan bagi dunia usaha. Hingga penghujung Maret 2026, total dana yang berhasil dihimpun oleh korporasi melalui pasar modal telah menyentuh angka Rp51,96 triliun.

Guna mengantisipasi ketidakpastian global yang masih membayangi hingga beberapa waktu ke depan, OJK berkomitmen untuk terus mengawasi dinamika pasar secara ketat.

Load More