Bisnis / Keuangan
Senin, 06 April 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). [Antara]
Baca 10 detik
  • Indeks Harga Saham Gabungan diproyeksikan melemah awal pekan ini akibat tekanan jual dan sentimen negatif dari pasar domestik.
  • Transparansi kepemilikan saham emiten besar serta ketegangan konflik Timur Tengah menjadi faktor utama penghambat penguatan indeks saham.
  • Para analis menyarankan investor tetap waspada dan selektif memilih saham saat melakukan transaksi di tengah tingginya volatilitas pasar.

Suara.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan diproyeksikan cenderung melemah. Hal ini kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membanyangi pasar modal.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support di level 6.924 dan resistance di 7.118.

Secara teknikal, indikator RSI disebut mulai menurun dan mendekati area oversold, yang mencerminkan tekanan jual masih cukup kuat.

Menurut Audi, pasar akan dipengaruhi sejumlah sentimen utama. Pertama, meningkatnya perhatian terhadap transparansi Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada emiten berkapitalisasi besar, seperti Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA).

Kondisi ini dinilai berpotensi memicu respons negatif pasar akibat kekhawatiran likuiditas dan penyesuaian harga (repricing).

“Risiko capital outflow asing juga dapat meningkat apabila MSCI mengecualikan saham-saham tersebut dari indeks,” ujar Audi saat dihubungi Suara.com, Senin (6/4/2026).

Donald Trump (tengah) [White House]

Sentimen kedua berasal dari faktor global, yakni meningkatnya probabilitas eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya Iran, setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana serangan lanjutan.

Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga energi, terutama minyak dan gas, yang dapat berdampak pada inflasi global serta memperlambat penurunan suku bunga.

Dalam kondisi tersebut, Audi merekomendasikan sejumlah saham berbasis analisis teknikal, antara lain BSDE dengan strategi buy on break di level 770 (support 720, resistance 815) serta CPIN dengan strategi trading buy (support 4.030, resistance 4.530).

Baca Juga: Profil PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), Emiten Fasilitas Batu Bara Milik Haji Isam

Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan level support di 7.000 dan resistance di 7.050.

Herditya mengatakan, tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi oleh konflik Timur Tengah yang belum mereda serta rilis data ekonomi terbaru sebelum libur panjang.

“Sentimen global masih dominan dan berpotensi menahan penguatan IHSG dalam jangka pendek,” ujarnya.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar diimbau tetap waspada dan selektif dalam mengambil keputusan investasi di tengah volatilitas yang masih tinggi.

Ia pun menyarankan investor mencermati beberapa saham seperti INDY di rentang 3.550–3.710, VKTR di 860–920, serta WIFI di kisaran 2.420–2.700.

Load More