Bisnis / Energi
Senin, 06 April 2026 | 10:25 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia tembus di atas 100 dolar AS. [Suara.com/Rochmat]
Baca 10 detik
  • Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menyebabkan lonjakan harga minyak global pada 6 April 2026.
  • Presiden Donald Trump mengancam Iran atas blokade Selat Hormuz, sementara Iran menuntut ganti rugi perang sebagai syarat.
  • Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global karena hambatan distribusi energi yang sulit diatasi pasokan OPEC+.

Suara.com - Pasar energi mengalami lonjakan harga pada pembukaan perdagangan Senin, 6 April 2026 pasca-libur Paskah. Hal ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang menghambat distribusi minyak dunia.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik 2,4 dolar AS atau 2,2 persen, menjadi 111,43 dolar AS per barel pada pukul 22.15 GMT.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka naik 3 dolar AS atau 2,7 persen, menjadi 114,57 dolar AS per barel.

Pada Minggu (5/4/2026), Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan kepada Iran untuk segera memulihkan akses navigasi di Selat Hormuz sebelum Selasa malam.

Melalui pernyataan di media sosial, Trump mengancam akan menargetkan infrastruktur vital Iran, termasuk sektor energi dan transportasi, jika lalu lintas kapal tanker tetap terhambat melampaui tenggat waktu pukul 20.00 ET.

Trump menambahkan bahwa Iran harus "Membuka Selat Sialan Itu" atau menghadapi konsekuensi berat.

Selat Hormuz yang berada di antara Iran, Qatar dan Uni Emirat Arab. [Google Maps]

Teheran melalui juru bicara kepresidenannya, Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei menetapkan syarat berat bagi pembukaan kembali jalur pelayaran, yakni sebagian hasil penjualan minyak dunia harus diserahkan kepada Iran sebagai ganti rugi perang.

Tuntutan ini memperkeruh situasi di kawasan Teluk yang sudah lumpuh selama beberapa minggu terakhir, sekaligus meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.

Sementera itu, meski OPEC+ telah sepakat menambah pasokan sebesar 206.000 barel per hari untuk kuota Mei, pasar meresponsnya dengan skeptis.

Baca Juga: Harga Minyak Mendidih! Tembus 110 Dolar AS per Barel saat Perang Memanas

Para pedagang menilai komitmen tersebut sulit terwujud dalam waktu dekat karena hambatan logistik yang ada, sehingga tambahan pasokan tersebut tidak akan cukup untuk meredam harga di pasar fisik.

Blokade Selat Hormuz yang berkelanjutan memicu kekhawatiran sistemik di pasar keuangan. Kenaikan harga energi ini diprediksi akan menjadi beban berat bagi biaya transportasi dan manufaktur, yang pada akhirnya akan mengerek inflasi konsumen di tingkat global.

Load More