- Konflik Timur Tengah berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global dan biaya logistik perdagangan internasional.
- Gangguan Selat Hormuz, penyumbang 30% minyak dunia, berdampak pada harga energi impor Indonesia melalui Singapura dan Malaysia.
- Peningkatan biaya energi berpotensi menekan industri negara mitra ekspor sehingga memengaruhi permintaan produk dari Indonesia.
Suara.com - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau Indonesia Eximbank menilai kalau konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat vs Iran yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global serta biaya logistik perdagangan internasional.
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani menyatakan, kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam sistem energi global karena menyumbang lebih dari 30 persen produksi minyak dunia. Sementara sekitar 20–30 persen perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz.
"Gangguan pada jalur ini dapat dengan cepat mempengaruhi harga energi internasional sekaligus meningkatkan biaya logistik perdagangan global," katanya, dikutip dari siaran pers, Senin (23/3/2026).
Walaupun impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, ia menyebut dampaknya tetap dapat dirasakan melalui jalur perdagangan regional.
Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia.
Kedua negara tersebut juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan di kawasan tersebut dapat mendorong kenaikan harga energi yang dihadapi Indonesia.
Indonesia Eximbank Institute juga mencermati dampak perubahan distribusi energi global terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan.
Menurutnya, negara-negara tersebut merupakan konsumen energi utama dari kawasan Teluk sekaligus pasar ekspor penting bagi Indonesia.
Ia menyatakan peningkatan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri di negara-negara tersebut dan memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
Baca Juga: Teror di London! 4 Ambulans Yahudi Dibakar di Depan Sinagoga, Diduga Aksi Anti Semit
Apabila ketegangan geopolitik berlangsung dalam periode yang relatif lama, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran 85–120 Dolar AS per barel secara rata-rata, atau sekitar Rp 1,4 juta hingga Rp 2 juta.
Rini menyebut angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih berada di sekitar 60 Dolar AS per barel, atau sekitar Rp 1 jutaan.
Tak hanya itu, kenaikan harga energi dan biaya logistik berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global.
Bagi eksportir Indonesia, tekanan tersebut akan lebih terasa pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar.
Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya input dapat menggerus margin produksi, terutama apabila di saat yang sama permintaan global mengalami perlambatan.
Selain itu, volatilitas pasar keuangan global juga dapat menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.
Berita Terkait
-
Teror di London! 4 Ambulans Yahudi Dibakar di Depan Sinagoga, Diduga Aksi Anti Semit
-
Profil Rudal AD-08 Majid Iran Penjatuh Pesawat Canggih F-35, Pantas Amerika Serikat Ketar-ketir
-
Seberapa Penting Selat Hormuz untuk Dunia?
-
Strategi Mengerikan Perang Iran, Makin Ganas Hingga Diprediksi Akan Kalahkan AS - Israel
-
Jet Siluman Amerika Serikat Seperti Pesawat Mainan, Dipecundangi Iran Sampai Rontok
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
IHSG Bergerak Dua Arah Pada Jumat Pagi
-
Lawan Overcapacity, Strategi Transformasi SIG Mulai Berbuah Manis
-
Lahan Pusat Kota Menipis, Kawasan Kemayoran Bakal Disulap Jadi Pusat Ekonomi Baru
-
Cara Paufazz Bantu UMKM Cari Cuan Tambahan
-
Jelang Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Tipis Jadi Rp 2.839.000/Gram
-
MARK Tebar Dividen Rp50 per Saham, Cek Jadwalnya di Sini
-
Dukung HKI, Menekraf Teuku Riefky Sebut Shopee Motor Baru Ekonomi Sektor Penerbitan
-
Eks Dirut BJBR dan Bank Jateng Divonis Bebas dalam Kasus Sritex, Ini Alasannya
-
Perry Warjiyo Ungkap Penyebab Rupiah Melemah, BI Intervensi All Out Jaga Stabilitas
-
Investor Aset Kripto Terus Menjamur Tembus 21,37 Juta