Bisnis / Keuangan
Selasa, 07 April 2026 | 16:02 WIB
Rupiah masih tertekan dolar AS dan betah di level Rp 17.000/USD. [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa]
Baca 10 detik
  • Rupiah ditutup di Rp17.105 per dolar AS, melemah 0,41 persen dan menjadi level terendah sepanjang sejarah. 
  • Kekhawatiran konflik Timur Tengah serta penguatan indeks dolar AS menekan mata uang Asia. 
  • Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN, terutama jika harga BBM tidak disesuaikan. 

Suara.com - Nilai tukar rupiah terperosok jatuh ke level paling rendah sepanjang sejarah hingga akhir perdagangan Selasa, 7 April 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup ke level Rp 17.105 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia pun melemah 0,41 persen dibanding penutupan pada Senin (6/4/2026) yang berada di level Rp 17.035 per dolar AS.

Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 17.092 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global di Timur Tengah yang belum mereda.

"Rupiah terekan oleh sentimen risk off oleh kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah. Walau sentimen eksternal masih beragam, investor masih terpecah, beberapa masih memperkirakan akan ada perdamaian, beberapa mengantisipasi eskalasi," ujarnya saat dihubungi Suara.com.

Lukman menyebut, harga minyak mentah yang naik terus akan semakin membebani anggaran pemerintah. Pasalnya, Indonesia tidak menaikkan harga minyak mentah sehingga membuat defisit anggaran membengkak.

"Terlebih tidak dinaikkannya harga bbm, tidak sedikit yang memperkirakan defisit akan tetap melewati 3 persen walau anggaran MBG dikurangi. Kondisi rupiah akan sangat tergantung pada perkembangan dalam pemerintah beberapa hari ke depan," jelasnya

Sementara itu, Indeks dolar AS tercatat naik tipis 0,05 persen ke level 100,03, mendekati puncak pekan lalu di 100,64 yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2025. Kenaikan ini membuat mata uang Asia juga melemah termasuk Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Masih Mimpi Buruk, Bertahan di Level Rp 17.078/USD

Load More