- Rupiah ditutup melemah 0,32% ke level Rp17.035 per dolar AS akibat defisit fiskal.
- Harga minyak dunia yang tinggi dan beban subsidi BBM terus menekan mata uang Garuda.
- Ancaman perang AS-Iran hantui pasar, rupiah diprediksi lanjut melemah tanpa intervensi BI.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terkapar di zona merah pada penutupan perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda gagal memanfaatkan momentum koreksi dolar global akibat tekanan sentimen domestik dan ketegangan geopolitik yang memanas.
Mengutip data Bloomberg, Senin (6/4/2026), rupiah parkir di level Rp17.035 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,32 persen dibandingkan penutupan sebelumnya pada Kamis (2/4/2026) yang berada di posisi Rp17.002. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mematok rupiah di level Rp17.037 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rapor merah rupiah kali ini cukup ironis. Pasalnya, indeks dolar AS sebenarnya sedang mengalami koreksi yang cukup dalam, namun rupiah justru tidak bertenaga.
"Sentimen domestik tercermin masih negatif, terutama oleh kekawatiran defisit fiskal yang bisa lebih diperparah," ujar Lukman saat dihubungi.
Ia menambahkan, beban fiskal pemerintah kian berat seiring dengan tingginya harga minyak mentah dunia. Keputusan pemerintah untuk tetap mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah tingginya harga komoditas energi tersebut menjadi sentimen negatif bagi investor.
Ke depan, langkah rupiah diprediksi kian berat. Bayang-bayang eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya potensi serangan besar-besaran AS ke Iran, menjadi momok bagi pasar keuangan global.
"Untuk besok, investor pastinya mengantisipasi ancaman penyerangan besar-besaran AS ke Iran. Hal ini akan memperburuk sentimen," kata Lukman menjelaskan.
Tanpa adanya langkah nyata dari bank sentral, posisi rupiah diprediksi akan terus berada di bawah tekanan. "Rupiah diperkirakan masih akan tertekan apabila tidak ada intervensi dari BI," tandasnya.
Baca Juga: KSPI Wanti-Wanti Gelombang PHK dalam 3 Bulan: Sektor Padat Karya Paling Terpukul
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
BI Tak Agresif Stabilkan Rupiah, Cadangan Devisa Naik Hingga Akhir Juni Jadi Rp2.606 T
-
Jangan Terburu-buru Beli BBCA, Analis Wanti-wanti Taking Profit
-
Produksi Listrik PLN Nusantara Power Capai 66.919 GWh pada 2025
-
Resmi IPO, Saham JECX Langsung Terbang 24,8%
-
Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Masih di Level Rp17.990
-
Bisa Borong, Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.655.000/Gram
-
Bergerak Dua Arah, IHSG Masih Bertengger di Level 5.900
-
Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Bayang-Bayang Melimpahnya Pasokan
-
SMGR Catat Penjualan Semen Tumbuh 4,4% hingga Mei 2026
-
Home Credit Genjot Pembiayaan Usai Penyaluran Kredit Tumbuh 14% pada Kuartal I 2026