Bisnis / Makro
Selasa, 07 April 2026 | 16:13 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/4/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,5 persen pada akhir tahun 2026 mendatang.
  • Pemerintah berupaya mengoptimalkan pendapatan negara serta memperbaiki iklim investasi untuk mendorong kinerja sektor swasta dalam pergerakan ekonomi.
  • Realisasi APBN hingga Maret 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp 240,1 triliun akibat belanja negara yang mencapai Rp 815 triliun.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,5 persen di akhir tahun 2026.

Apabila terealisasi, angka pertumbuhan ekonomi RI ini meningkat dari 5,39 persen secara year on year (yoy atau tahunan) dibanding 2025 lalu.

“Triwulan IV (2025) pertumbuhannya 5,39 persen. Sekarang sepertinya bisa di atas 5,5 persen,” katanya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, dikutip Selasa (7/4/2026).

Menkeu Purbaya mengklaim kalau pertumbuhan ekonomi lebih tinggi bisa terjadi ketika pendapatan Negara berhasil terkumpul lebih banyak. Dari sana, realisasi Belanja Pemerintah juga lebih konsisten.

Selain itu, dirinya juga berambisi menjaga sektor swasta (private sector) untuk tumbuh lebih baik. Lebih lagi 90 persen pergerakan ekonomi dipengaruhi oleh kinerja mereka.

“Jangan hanya melihat dari sisi pemerintah, karena 90 persen pergerakan ekonomi ada di private sector,” tambahnya.

Untuk itu, saat ini Pemerintah tengah memperbaiki iklim investasi di Indonesia agar lebih baik dengan sidang debottlenecking atau penyelesaian masalah bisnis.

“Selama sektor privat tumbuh dengan baik, ekonomi ke depan akan membaik terus. Percaya sama saya,” jelasnya.

Defisit APBN tembus Rp 240,1 T per Maret 2026

Di sisi lain Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan penerimaan negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp 574,9 triliun. Rincinya yakni dari Penerimaan Perpajakan Rp462,7 triliun (terdiri dari Pajak Rp394,8 triliun serta Kepabeanan dan Cukai Rp67,9 triliun), Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp112,1 triliun, dan Penerimaan Hibah Rp100 miliar. 

Baca Juga: BBM Bersubsidi Takkan Naik, Menkeu Purbaya Sebut Punya Bantalan Anggaran

Sementara itu Belanja Negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp 815 triliun atau meningkat 31,4 persen secara tahunan alias year on year (yoy). Angka ini meliputi Belanja Pemerintah Pusat Rp 610,3 triliun (terbagi atas belanja Kementerian/Lembaga Rp281,2 triliun dan belanja non K/L Rp329,1 triliun).dan Transfer ke Daerah (TKD) Rp 204 triliun.

Buntut besarnya belanja negara ketimbang penerimaan negara, maka Purbaya mengumumkan defisit APBN mencapai Rp 240,1 triliun per 31 Maret 2026, atau 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Load More