- Pada 7 April 2026, serangan udara merusak infrastruktur strategis Iran setelah AS menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke Arab Saudi dan Israel, menyebabkan korban jiwa serta lonjakan harga minyak.
- Dunia internasional mengecam ancaman serangan terhadap fasilitas sipil Iran, sementara upaya mediasi diplomatik terus dilakukan secara mendesak.
Suara.com - Situasi di Timur Tengah mencapai titik kritis pada Selasa (7/4/2026) malam. Serangan udara dilaporkan telah menghantam dua jembatan strategis dan sebuah stasiun kereta api di Iran, di saat Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika Teheran tidak segera menyepakati tuntutan Washington, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ketegangan ini memicu kepanikan luar biasa di warga sipil. Pemerintah Iran merespons dengan menyerukan mobilisasi massa, meminta pelajar, atlet, dan seniman untuk membentuk "rantai manusia" guna melindungi pembangkit listrik dari ancaman pemboman yang dijanjikan Trump jika kesepakatan tidak tercapai hingga pukul 20.00 waktu setempat.
Militer Israel mengonfirmasi telah menyerang situs petrokimia di Shiraz untuk hari kedua berturut-turut. Selain itu, otoritas Iran melaporkan kerusakan pada infrastruktur transportasi utama, termasuk jembatan kereta api dan jalan raya.
Meski demikian, baik AS maupun Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait tanggung jawab atas hancurnya jembatan-jembatan tersebut.
Di sisi lain, Iran membalas dengan meluncurkan tujuh rudal balistik ke arah Arab Saudi yang menargetkan fasilitas energi, serta serangan rudal ke wilayah Tel Aviv dan Eilat di Israel.
Dampak dari serangan ini memaksa penutupan sementara King Fahd Causeway, jalur darat utama yang menghubungkan Arab Saudi dan Bahrain.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, dilaporkan lebih dari 1.900 orang tewas di Iran. Sementara itu, pertempuran di Lebanon antara Israel dan Hizbullah telah menelan 1.400 korban jiwa dan memaksa satu juta orang mengungsi.
Blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah menjadi senjata paling mematikan dalam perang ini. Mengingat seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut, harga minyak mentah jenis Brent melonjak drastis hingga melampaui 108 dolar AS per barel, naik sekitar 50 persen sejak awal perang.
Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi ekonomi global, memicu kenaikan harga pangan dan bahan bakar di berbagai negara, serta meningkatkan urgensi bagi Trump untuk mencari jalan keluar diplomatik di tengah tekanan domestik dan internasional.
Baca Juga: 13 Jam Jelang Dibom AS, Kaum Muda Iran Bikin 'Tameng Manusia' di Pembangkit Listrik
Rencana Trump untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran seperti jembatan dan pembangkit listrik menuai kecaman keras dari dunia internasional.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, dan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas energi sipil dilarang oleh hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Namun, seperti yang dikutip dari Reuters, Donald Trump menyatakan kepada wartawan bahwa ia "sama sekali tidak khawatir" dengan label kejahatan perang tersebut.
Saat ini, mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki dilaporkan tengah "berlomba dengan waktu" untuk memfasilitasi komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Iran dikabarkan bersedia membuka kembali Selat Hormuz jika AS memberikan pelonggaran sanksi, terutama pada sektor minyak, guna menstabilkan pasar energi global.
Berita Terkait
-
Serangan Baru Bombardir Pulau Kharg Saat Donald Trump Ancam Kehancuran Iran
-
Donald Trump Ancam Musnahkan Peradaban Iran Malam Ini, Gertak Sambal Lagi?
-
Israel Hancurkan Sinagoge di Teheran, Taurat Bertebaran, Yahudi Iran: Zionis Biadab
-
Kabar Baik dari Iran, Kapal Tanker Indonesia Dapat Kemudahan Lewati Selat Hormuz
-
13 Jam Jelang Dibom AS, Kaum Muda Iran Bikin 'Tameng Manusia' di Pembangkit Listrik
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut
-
Ini Strategi BTN Salurkan Kredit Perumahan Bagi Masyarakat
-
Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!